Tampilkan postingan dengan label Objek Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Objek Wisata. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Mei 2016

Pantai Balian: Tempat Wisata Pantai di Bali untuk Surfing

Objek Wisata - Hallo sahabat WIsata Bali dan Sekitarnya, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Objek Wisata, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Objek Wisata, Artikel Pantai, Artikel Surfing, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Pantai Balian: Tempat Wisata Pantai di Bali untuk Surfing
link : Pantai Balian: Tempat Wisata Pantai di Bali untuk Surfing

Baca juga


Objek Wisata

Pantai Balian adalah sebuah pantai berpasir hitam abu-abu pada pesisir selatan di Bali bagian barat yang terkenal dengan olah raga selancar air (surfing), pantai Balian atau juga disebut Pantai Tukad Balian adalah salah satu tempat wisata pantai di Bali yang memiliki panorama alam yang indah dengan ombak yang sangat baik dan cocok untuk dijadikan tempat berselancar dan merupakan salah satu pantai yang terbaik untuk berselancar di Bali. Disepanjang pantai berjejer pohon-pohon kelapa, sehingga suasana di daerah ini masih terlihat sangat asri. Pantai Balian banyak dikunjungi turis peselancar ketika mereka berlibur di pulau Dewata Bali dan merupakan surga bagi para peselancar/penghobi surfing. Tempat wisata Pantai Balian terletak di wilayah Desa Lalang linggah, Kecamatan Selemadeg Barat, Kabupaten Tabanan, Bali Indonesia.

Pantai Balian: Tempat Wisata Pantai di Bali untuk Surfing (berselancar) - Panduan Wisata Bali - Liburan di Bali
Balian Surf, Foto: www.balian-villa.com

Sejarah Nama Pantai Balian

Balian adalah sebenarnya nama sebuah sungai yang ada di Desa Lalanglinggah. Sejarah nama Balian berkaitan dengan kedatangan seorang pendeta suci dari pulau Jawa yang bernama Danghyang Nirartha, masyarakat juga menyebut Beliau dengan sebutan Dang hyang Dwijendra atau Pendanda Sakti Wawu Rauh, Beliau juga adalah pendiri Pura Tanah Lot. Pada abad ke-15 beliau pernah melewati daerah ini dalam perjalanan suci beliau untuk mengunjungi pulau Bali dari jawa melalui pesisir pantai selatan Bali. Konon, Ketika beliau tiba di tempat ini, beliau banyak menemukan penduduk yang sakit, maka dengan kekuatannya, beliau menancapkan tongkatnya di bagian hulu sungai kemudian menyuruh orang-orang yang sakit untuk mandi dan membersihkan diri di hilir sungai, kemudian dengan seketika orang-orang yang sakit tersebut menjadi sembuh. Karena keampuhan dari sungai tersebut maka penduduk menyebutnya sungai Balian. Balian dalam bahasa Bali berarti dukun (yang bisa menyembuhkan penyakit), Liburan Bali, Panduan Wisata Bali, Tempat Wisata di Bali sungai Balian mempunyai 11 anak sungai dan bagi masyarakat setempat sungai ini dianggap suci, maka sampai sekarang masih digunakan untuk penyucian diri (penglukatan). Air dari sungai Balian langsung menuju ke laut, dan hilir dari sungai Balian ada pada bibir pantai, maka dapat disimpulkan bahwa nama pantai Balian disebutkan adalah karena hilir dari Tukad Balian berada pada bibir pantai, maka sampai sekarang pantai tersebut disebut dan terkenal dengan nama pantai Balian.

Pantai Balian - Bagaimana Menuju Kesana?

Pantai berpasir hitam Balian berada dekat dengan ruas jalan utama yang mengubungkan antara Jembrana dan Denpasar. Pantai Balian dapat ditempuh dengan jarak kurang lebih 60 km atau sekitar 2 jam perjalanan dari kota Denpasar, Kuta ataupun daerah sekitarnya, atau sekitar 84 km dari pelabuhan Gilimanuk, Jembrana Bali, dan sekitar 30 menit dari pantai Medewi. Untuk mengunjungi Pantai Balian bisa ditempuh menggunakan bus, taksi, dan sepeda motor ataupun mobil yang dapat disewa di tempat penyewaan kendaraan. Bagi wisatawan yang belum pernah mengunjungi pantai Balian sangat direkomendasikan menyewa kendaraan dengan supir untuk kenyamanan, keamanan dan untuk menghindari sesat di jalan.

Pantai Balian - Dimana Untuk Tinggal?

Pantai Balian merupakan daerah tujuan wisata yang banyak dikunjungi wisatawan khususnya para peselancar, maka disekitar wilayah itu banyak dijumpai tempat penginapan ataupun villa untuk kenyamanan wisatawan dengan harga menginap yang bervariasi sesuai dengan fasilitas akomodasi yang disediakan. Jadi, untuk tinggal dan menginap di tempat wisata pantai Balian tidak perlu dikhawatirkan. Selain itu, di kawasan pantai Balian juga banyak ditemukan bar dan restoran yang menjual berbagai macam makanan dan minuman, menu makanan yang khas yang biasanya ditawarkan di rumah makan di sekitar pantai Balian adalah menu makanan laut atau sea food, seperti ikan bakar, kepiting dan cumi bakar, dll.

Waktu Terbaik Mengunjungi Pantai Balian

Seperti kebanyakan tempat wisata pantai lainnya di Bali, waktu yang terbaik untuk berkunjung ke pantai adalah pada saat sebelum matahari terbit/terbenam, sedangkan untuk di pantai Balian karena terletak di pesisir selatan di Bali barat, maka waktu yang terbaik untuk mengunjunginya adalah pada sore hari menjelang matahari terbenam/sunset. Tetapi jika ingin berselancar untuk merasakan indahnya ombak Pantai balian biasanya di sesuaikan dengan keadaan cuaca, keadaan arus laut serta letak dan tinggi ombak.
Baca selengkapnya tentang Balian Surf Report and Forecast

Berselancar di Pantai Balian - Tempat wisata di Tabanan Bali
Pantai balian Bali, Foto: Balian Villa

Meskipun Pantai Balian terkenal dengan ombaknya yang indah dan menjadi surga bagi peselancar, tetapi para peselancar harus tetap waspada akan serangan hiu. Kadang-kadang hiu banteng terlihat berenang di sekitar pantai. Menurut berita, kejadian serangan hiu di perairan Indonesia sangat jarang terjadi, tetapi selama ini serangan hiu hanya terjadi di perairan pantai Balian saja, maka diharapkan bagi para peselancar agar tetap waspada, tidak peduli meskipun peselancar pro ataupun pemula, Keselamatan adalah prioritas utama.
Baca selengkapnya tentang Shark attacks in Balian Bali

Objek Wisata di sekitar Pantai Balian

Selain tempat wisata pantai Balian, juga terdapat beberapa objek wisata yang lainnya yang terletak tidak jauh dari wilayah pantai Balian, seperti pantai Soka yang memiliki pemandangan yang indah dan Agrowisata Kebun Buah Naga Lumbung Berkat yang berlokasi di Desa Antap. Agrowisata Lumbung Berkat ini merupakan satu-satunya objek agrowisata di Kecamatan Selemadeg, Tabanan, yang memiliki luas kebun sekitar 50 are dan ditumbuhi lebih dari 3.000 biji tanaman buah naga.

Peta Pantai Balian Bali

Peta lokasi Pantai Balian Bali oleh Google Maps



Permalink: Pantai Balian: Tempat Wisata Pantai di Bali untuk Surfing | Bali Glory


Pantai Balian adalah sebuah pantai berpasir hitam abu-abu pada pesisir selatan di Bali bagian barat yang terkenal dengan olah raga selancar air (surfing), pantai Balian atau juga disebut Pantai Tukad Balian adalah salah satu tempat wisata pantai di Bali yang memiliki panorama alam yang indah dengan ombak yang sangat baik dan cocok untuk dijadikan tempat berselancar dan merupakan salah satu pantai yang terbaik untuk berselancar di Bali. Disepanjang pantai berjejer pohon-pohon kelapa, sehingga suasana di daerah ini masih terlihat sangat asri. Pantai Balian banyak dikunjungi turis peselancar ketika mereka berlibur di pulau Dewata Bali dan merupakan surga bagi para peselancar/penghobi surfing. Tempat wisata Pantai Balian terletak di wilayah Desa Lalang linggah, Kecamatan Selemadeg Barat, Kabupaten Tabanan, Bali Indonesia.

Pantai Balian: Tempat Wisata Pantai di Bali untuk Surfing (berselancar) - Panduan Wisata Bali - Liburan di Bali
Balian Surf, Foto: www.balian-villa.com

Sejarah Nama Pantai Balian

Balian adalah sebenarnya nama sebuah sungai yang ada di Desa Lalanglinggah. Sejarah nama Balian berkaitan dengan kedatangan seorang pendeta suci dari pulau Jawa yang bernama Danghyang Nirartha, masyarakat juga menyebut Beliau dengan sebutan Dang hyang Dwijendra atau Pendanda Sakti Wawu Rauh, Beliau juga adalah pendiri Pura Tanah Lot. Pada abad ke-15 beliau pernah melewati daerah ini dalam perjalanan suci beliau untuk mengunjungi pulau Bali dari jawa melalui pesisir pantai selatan Bali. Konon, Ketika beliau tiba di tempat ini, beliau banyak menemukan penduduk yang sakit, maka dengan kekuatannya, beliau menancapkan tongkatnya di bagian hulu sungai kemudian menyuruh orang-orang yang sakit untuk mandi dan membersihkan diri di hilir sungai, kemudian dengan seketika orang-orang yang sakit tersebut menjadi sembuh. Karena keampuhan dari sungai tersebut maka penduduk menyebutnya sungai Balian. Balian dalam bahasa Bali berarti dukun (yang bisa menyembuhkan penyakit), Liburan Bali, Panduan Wisata Bali, Tempat Wisata di Bali sungai Balian mempunyai 11 anak sungai dan bagi masyarakat setempat sungai ini dianggap suci, maka sampai sekarang masih digunakan untuk penyucian diri (penglukatan). Air dari sungai Balian langsung menuju ke laut, dan hilir dari sungai Balian ada pada bibir pantai, maka dapat disimpulkan bahwa nama pantai Balian disebutkan adalah karena hilir dari Tukad Balian berada pada bibir pantai, maka sampai sekarang pantai tersebut disebut dan terkenal dengan nama pantai Balian.

Pantai Balian - Bagaimana Menuju Kesana?

Pantai berpasir hitam Balian berada dekat dengan ruas jalan utama yang mengubungkan antara Jembrana dan Denpasar. Pantai Balian dapat ditempuh dengan jarak kurang lebih 60 km atau sekitar 2 jam perjalanan dari kota Denpasar, Kuta ataupun daerah sekitarnya, atau sekitar 84 km dari pelabuhan Gilimanuk, Jembrana Bali, dan sekitar 30 menit dari pantai Medewi. Untuk mengunjungi Pantai Balian bisa ditempuh menggunakan bus, taksi, dan sepeda motor ataupun mobil yang dapat disewa di tempat penyewaan kendaraan. Bagi wisatawan yang belum pernah mengunjungi pantai Balian sangat direkomendasikan menyewa kendaraan dengan supir untuk kenyamanan, keamanan dan untuk menghindari sesat di jalan.

Pantai Balian - Dimana Untuk Tinggal?

Pantai Balian merupakan daerah tujuan wisata yang banyak dikunjungi wisatawan khususnya para peselancar, maka disekitar wilayah itu banyak dijumpai tempat penginapan ataupun villa untuk kenyamanan wisatawan dengan harga menginap yang bervariasi sesuai dengan fasilitas akomodasi yang disediakan. Jadi, untuk tinggal dan menginap di tempat wisata pantai Balian tidak perlu dikhawatirkan. Selain itu, di kawasan pantai Balian juga banyak ditemukan bar dan restoran yang menjual berbagai macam makanan dan minuman, menu makanan yang khas yang biasanya ditawarkan di rumah makan di sekitar pantai Balian adalah menu makanan laut atau sea food, seperti ikan bakar, kepiting dan cumi bakar, dll.

Waktu Terbaik Mengunjungi Pantai Balian

Seperti kebanyakan tempat wisata pantai lainnya di Bali, waktu yang terbaik untuk berkunjung ke pantai adalah pada saat sebelum matahari terbit/terbenam, sedangkan untuk di pantai Balian karena terletak di pesisir selatan di Bali barat, maka waktu yang terbaik untuk mengunjunginya adalah pada sore hari menjelang matahari terbenam/sunset. Tetapi jika ingin berselancar untuk merasakan indahnya ombak Pantai balian biasanya di sesuaikan dengan keadaan cuaca, keadaan arus laut serta letak dan tinggi ombak.
Baca selengkapnya tentang Balian Surf Report and Forecast

Berselancar di Pantai Balian - Tempat wisata di Tabanan Bali
Pantai balian Bali, Foto: Balian Villa

Meskipun Pantai Balian terkenal dengan ombaknya yang indah dan menjadi surga bagi peselancar, tetapi para peselancar harus tetap waspada akan serangan hiu. Kadang-kadang hiu banteng terlihat berenang di sekitar pantai. Menurut berita, kejadian serangan hiu di perairan Indonesia sangat jarang terjadi, tetapi selama ini serangan hiu hanya terjadi di perairan pantai Balian saja, maka diharapkan bagi para peselancar agar tetap waspada, tidak peduli meskipun peselancar pro ataupun pemula, Keselamatan adalah prioritas utama.
Baca selengkapnya tentang Shark attacks in Balian Bali

Objek Wisata di sekitar Pantai Balian

Selain tempat wisata pantai Balian, juga terdapat beberapa objek wisata yang lainnya yang terletak tidak jauh dari wilayah pantai Balian, seperti pantai Soka yang memiliki pemandangan yang indah dan Agrowisata Kebun Buah Naga Lumbung Berkat yang berlokasi di Desa Antap. Agrowisata Lumbung Berkat ini merupakan satu-satunya objek agrowisata di Kecamatan Selemadeg, Tabanan, yang memiliki luas kebun sekitar 50 are dan ditumbuhi lebih dari 3.000 biji tanaman buah naga.

Peta Pantai Balian Bali

Peta lokasi Pantai Balian Bali oleh Google Maps



Permalink: Pantai Balian: Tempat Wisata Pantai di Bali untuk Surfing | Bali Glory


Sabtu, 07 Mei 2016

Taman Kupu-kupu Tabanan Bali Butterfly Park

Objek Wisata - Hallo sahabat WIsata Bali dan Sekitarnya, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Objek Wisata, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Kebun Binatang, Artikel Objek Wisata, Artikel Tabanan, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Taman Kupu-kupu Tabanan Bali Butterfly Park
link : Taman Kupu-kupu Tabanan Bali Butterfly Park

Baca juga


Objek Wisata

Taman Kupu-kupu Tabanan Bali Butterfly Park adalah sebuah objek wisata di Tabanan dan juga taman pelestarian dan penangkaran kupu-kupu yang terbesar di Bali serta di Indonesia dan di Asia Tenggara dan sekaligus menjadi salah satu objek wisata taman kupu-kupu Bali yang dipakai untuk edukasi dan penelitian. Mungkin selama ini kita hanya bisa melihat gambar kupu-kupu yang indah saja tanpa pernah menyentuhnya tetapi di Taman Kupu-kupu Tabanan Bali Butterfly Park ini kita bisa melihat langsung dan bisa menyentuhnnya. Taman Kupu-Kupu Bali (Bali Butterfly Park) adalah selain sebagai tempat konservasi dan edukasi, juga sebagai tempat wisata yang banyak dikunjungi oleh wisatawan, pelajar serta peneliti. Di Taman Kupu-Kupu Bali ini terdapat ribuan ekor kupu-kupu dari berbagai spesies/jenis yang di tangkar dan dikembangbiakkan, baik yang dilindungi oleh hukum maupun yang tidak dilindungi, disamping itu juga terdapat spesies serangga lainnya yang dilestarikan di Taman Kupu-Kupu Tabanan Bali ini. Kupu-kupu yang sudah dewasa akan dilepas dan diterbangkan ke alam bebas ke habitat aslinya. Bagi anda yang sedang mencari objek wisata di Tabanan yang menarik, maka Taman Kupu-kupu Bali Butterfly Park ini bisa dijadikan pilihan untuk mengisi liburan di Bali

Taman Kupu-kupu - Bali Butterfly Park - Objek Wisata di Tabanan Bali
Foto Kupu-kupu Papilionidae

Indonesia adalah sebuah negara yang memiliki hutan terluas ketiga serta memiliki kekayaan keanekaragaman hayati kedua di dunia yang memiliki potensi yang sangat besar akan pesona alamnya. Indonesia juga dikenal dengan nama Kingdom of Butterfly karena keanekaragaman jenis/spesies kupu-kupu dan juga serangga yang banyak hidup di alam negeri Indonesia yang tersebar di berbagai wilayah dengan berbagai macam spesies yang memiliki bentuk dan warna yang indah dan cantik.

Sejarah Taman Kupu-kupu Tabanan Bali Butterfly Park

Sejarah berdirinya Taman Kupu-kupu Bali (Bali Butterfly Park) Tabanan berawal dari penyelenggaraan Konferensi Kupu-kupu Internasional (International Butterfly Conference) di Ujung Pandang pada tanggal 23-27 Agustus 1993 oleh Departemen Pariwisata Republik Indonesia. Konferensi yang diikuti oleh para ahli kupu-kupu dari dalam dan luar negeri tersebut membahas mengenai kekayaan kupu-kupu yang dimiliki Indonesia serta upaya pengelolaan dan pemanfaatannya secara lestari sekaligus memperkenalkan taman kupu-kupu alami yang berada di Bantimurung Sulawesi Selatan kepada dunia pariwisata agar menjadi contoh bagi pendirian taman-taman kupu lainnya.

Setelah konferensi berakhir, beberapa peserta dalam negeri termasuk dari PT Ikas Amboina berkumpul membahas kembali intisari dari pertemuan tersebut, yaitu pelestarian dan pemanfaatan kupu-kupu melalui aktivitas pariwisata, bagaimana menciptakan replika dari taman kupu-kupu alami seperti yang ada di Bantimurung dan bagaimana cara melestarikan serta memanfaatkan kupu-kupu secara berkelanjutan. Tiga bulan setelah penyelenggaraan konferensi di Ujung Pandang tepatnya 28 November 1993, dibentuklah PT Kupu-kupu Taman Lestari sebagai pengelola dan pendiri taman kupu-kupu yang diberi nama Bali Butterfly Park.

Taman Kupu-kupu Tabanan Bali
Foto dari kristinakomala.blogspot.com

Pembangunan Bali Butterfly Park oleh PT Kupu-kupu Taman Lestari dimulai setelah mendapat persetujuan dari pemerintah pusat maupun daerah serta dari masyarakat setempat. Setelah hampir tiga tahun membangun, pada tanggal 17 Desember 1996 Bali Butterfly Park dibuka secara resmi sebagai salah satu objek wisata alam dan edukasi, dan diresmikan oleh Ibu Asiawati Oka, Liburan Bali, Panduan Wisata, Tempat Wisata Ketua Tim PKK Propinsi Bali.

Taman Kupu-kupu ini memiliki luas 1 ha, terdiri dari 3.700 m² untuk habitat kupu-kupu dan sisanya 6.300 m² digunakan untuk taman bunga sebagai tanaman dan tumbuhan yang digunakan sebagai makanan dan proses membudidayakan kupu-kupu serta sarana prasarana wisata. Terdapat lima jenis kandang yang digunakan selama proses menangkarkan kupu-kupu, antara lain kandang reproduksi, kandang pemeliharan telur, tempat pemeliharaan larva, kandang kepompong, dan kandang kupu-kupu.

Class Arachnida: Cobalt Blue Tarantula, Scorpion, Celenocosmia javanensis - Taman kupu-kupu Bali Butterfly park

Selain kupu-kupu yang dilestarikan di tempat wisata Bali Butterfly Park, juga terdapat berbagai macam serangga seperti Cobalt Blue Tarantula, Scorpion, Celenocosmia javanensis, dll.

Jenis/Spesies Kupu-kupu di Taman Kupu-kupu Tabanan Bali

Dari hasil penelitian (2010) diketahui terdapat 15 jenis/spesies kupu-kupu yang ditangkarkan di Taman Kupu-kupu Tabanan Bali Butterfly Park, terdiri dari dua famili/keluarga yakni Papilionidae dan Nymphalidae. Dua jenis dari famili Papilionidae adalah termasuk kupu-kupu yang dilindungi yaitu Ornithoptera priamus dan Troides helena.


No.Jenis/SpesiesFamili
1Ornithoptera priamusPapilionidae
2Troides HelenaPapilionidae
3Graphium agamemnonPapilionidae
4Pachliopta aristolochiaePapilionidae
5Papilio demolionPapilionidae
6Papilio helenusPapilionidae
7Papilio memnonPapilionidae
8Papilio peranthusPapilionidae
9Papilio polytesPapilionidae
10Chetosia hypseaNymphalidae
11Doleschalia bisaltideNymphalidae
12Euploea phaenaretaNymphalidae
13Euploea coreNymphalidae
14Moduza procrisNymphalidae
15Vindula dejoneNymphalidae


Spesies/Jenis Kupu-kupu Yang Dilindungi Di Bali Butterfly Park

Dari 15 jenis/spesies kupu-kupu yang ada di Taman Kupu-kupu Bali terdapat 2 jenis kupu-kupu yang dilindungi dari keluarga Papilionidae, yaitu:

1. Ornithoptera priamus

Kupu-kupu Ornithoptera priamus
Ornithoptera priamus: Jantan (kiri), Betina (kanan)

Kupu-kupu jenis Ornithoptera priamus dari keluarga Papilionidae memiliki panjang sayap 70 mm, kupu-kupu jantan berwarna hijau, memiliki warna hitam dengan bentuk hampir lonjong pada bagian discal sayap depan yang dikelilingi oleh warna hijau pada bagian depan dan belakangnya, memiliki pola warna hitam di sepanjang tepi sayap. Sayap belakang berwarna hijau dengan tepi sayap berwarna hitam. Kupu-kupu Betina berwarna hitam dengan garis putih pada sayap depan dan pola warna putih pada sayap bagian belakang. Pada masing-masing sayap belakang terdapat empat titik hitam.

2. Troides helena

Kupu-kupu Troides helena
Troides helena: Jantan (kiri), Betina (kanan)

Kupu-kupu jenis Troides helena memiliki panjang sayap 70 mm, sayap depan berwarna coklat tua kehitaman, memiliki sisik-sisik halus berwarna kuning yang tersusun membentuk garis. Pada kupu-kupu jantan bagian apical sayap berwarna hitam dan di bagian tornus terdapat titik hitam yang terpisah. Sayap belakang berwarna kuning emas dengan vena berwarna hitam. Pada kupu-kupu betina bagian tornus sayap atas berwarna hitam, memiliki titik yang berbaris pada bagian submarginal.

Pariwisata Taman Kupu-kupu Bali

Objek wisata Taman Kupu-kupu Tabanan Bali adalah salah satu taman kupu-kupu yang terbesar sehingga membuat tempat ini banyak dikunjungi oleh wisatawan maupun pelajar. Tempat wisata Taman Kupu-kupu Bali Butterfly Park ini juga telah didukung oleh fasilitas wisata yang memadai, dilengkapi dengan museum kupu-kupu yang memamerkan koleksi berbagai macam jenis kupu-kupu disertai galeri aneka kerajinan/souvenir yang terbuat dari bermacam-macam serangga seperti: Framing Butterfly (Bingkai Kupu-kupu), Framing Beetle (Bingkai Kumbang), gantungan kunci yang terbuat dari serangga, selipan pembatas buku, paper weight (penindih kertas) terbuat dari fiber bening berisi kupu-kupu, lukisan dari sayap kupu-kupu, dll.

Kerajinan dari serangga Kupu-kupu di Bali Butterfly Park
Souvenir dari kupu-kupu

Untuk pengunjung dari masyarakat Bali sendiri banyak datang berkunjung pada hari libur bersama keluarga, dan umumnya mereka juga ingin melihat langsung Kupu-kupu Barong atau Kupu-kupu Gajah (Attacus atlas), kalau di Bahasa Inggris disebut Atlas moth yang sekarang keberadaannya di pulau Bali sudah langka dan sulit untuk ditemukan.

Biasanya wisatawan akan mengunjungi obyek wisata Taman Kupu-kupu Bali ini setelah mereka mengunjungi Museum Subak ataupun sebelum mengunjungi objek wisata sawah jatiluwih ataupun Pura Luhur Batukaru, karena untuk mencapai lokasinya adalah satu arah dengan jalan ke obyek wisata Jatiluwih, Permandian air panas, dan Pura Batukaru. Bagi yang belum pernah mengunjungi Taman Kupu-kupu Bali, ayo liburan kunjungi Bali Butterfly Park bersama keluarga atau orang terdekat anda! See The Mystery of Nature!

Lokasi Taman Kupu-kupu Tabanan Bali

Lokasi Taman Kupu-kupu Bali Butterfly Park terletak di Jalan Batukaru, Br.Sandan Lebah Kel.Sesandan, Wanasari, Kecamatan Tabanan, Kabupaten Tabanan - Bali Indonesia. Jarak tempuh dari kota Denpasar adalah sekitar 28,4 km atau kurang lebih 1 jam perjalanan.

Taman Kupu-kupu - Bali Butterfly Park
AlamatJl.Batukaru, Br.Sandan Lebah, Kel.Sesandan, Tabanan
Bali - Indonesia
Telepon(+62) (361) 894 0595
(+62) (361) 894 0596
Fax(+62) (361) 894 0594
Emailinfo@balibutterflypark.com
balibutterflyzoo@gmail.com
Websitebalibutterflypark.com
Jam BukaSetiap Hari
08.00 pagi - 17.00 sore
Masuk Terakhir16.30 sore


Peta Taman Kupu-kupu Bali Butterfly Park Tabanan

Peta lokasi Taman Kupu-kupu Tabanan Bali Butterfly Park oleh Google Maps



Referensi:
- repository.ipb.ac.id
- balibutterflypark.com
Permalink: Taman Kupu-kupu Tabanan Bali Butterfly Park | Bali Glory

Taman Kupu-kupu Tabanan Bali Butterfly Park adalah sebuah objek wisata di Tabanan dan juga taman pelestarian dan penangkaran kupu-kupu yang terbesar di Bali serta di Indonesia dan di Asia Tenggara dan sekaligus menjadi salah satu objek wisata taman kupu-kupu Bali yang dipakai untuk edukasi dan penelitian. Mungkin selama ini kita hanya bisa melihat gambar kupu-kupu yang indah saja tanpa pernah menyentuhnya tetapi di Taman Kupu-kupu Tabanan Bali Butterfly Park ini kita bisa melihat langsung dan bisa menyentuhnnya. Taman Kupu-Kupu Bali (Bali Butterfly Park) adalah selain sebagai tempat konservasi dan edukasi, juga sebagai tempat wisata yang banyak dikunjungi oleh wisatawan, pelajar serta peneliti. Di Taman Kupu-Kupu Bali ini terdapat ribuan ekor kupu-kupu dari berbagai spesies/jenis yang di tangkar dan dikembangbiakkan, baik yang dilindungi oleh hukum maupun yang tidak dilindungi, disamping itu juga terdapat spesies serangga lainnya yang dilestarikan di Taman Kupu-Kupu Tabanan Bali ini. Kupu-kupu yang sudah dewasa akan dilepas dan diterbangkan ke alam bebas ke habitat aslinya. Bagi anda yang sedang mencari objek wisata di Tabanan yang menarik, maka Taman Kupu-kupu Bali Butterfly Park ini bisa dijadikan pilihan untuk mengisi liburan di Bali

Taman Kupu-kupu - Bali Butterfly Park - Objek Wisata di Tabanan Bali
Foto Kupu-kupu Papilionidae

Indonesia adalah sebuah negara yang memiliki hutan terluas ketiga serta memiliki kekayaan keanekaragaman hayati kedua di dunia yang memiliki potensi yang sangat besar akan pesona alamnya. Indonesia juga dikenal dengan nama Kingdom of Butterfly karena keanekaragaman jenis/spesies kupu-kupu dan juga serangga yang banyak hidup di alam negeri Indonesia yang tersebar di berbagai wilayah dengan berbagai macam spesies yang memiliki bentuk dan warna yang indah dan cantik.

Sejarah Taman Kupu-kupu Tabanan Bali Butterfly Park

Sejarah berdirinya Taman Kupu-kupu Bali (Bali Butterfly Park) Tabanan berawal dari penyelenggaraan Konferensi Kupu-kupu Internasional (International Butterfly Conference) di Ujung Pandang pada tanggal 23-27 Agustus 1993 oleh Departemen Pariwisata Republik Indonesia. Konferensi yang diikuti oleh para ahli kupu-kupu dari dalam dan luar negeri tersebut membahas mengenai kekayaan kupu-kupu yang dimiliki Indonesia serta upaya pengelolaan dan pemanfaatannya secara lestari sekaligus memperkenalkan taman kupu-kupu alami yang berada di Bantimurung Sulawesi Selatan kepada dunia pariwisata agar menjadi contoh bagi pendirian taman-taman kupu lainnya.

Setelah konferensi berakhir, beberapa peserta dalam negeri termasuk dari PT Ikas Amboina berkumpul membahas kembali intisari dari pertemuan tersebut, yaitu pelestarian dan pemanfaatan kupu-kupu melalui aktivitas pariwisata, bagaimana menciptakan replika dari taman kupu-kupu alami seperti yang ada di Bantimurung dan bagaimana cara melestarikan serta memanfaatkan kupu-kupu secara berkelanjutan. Tiga bulan setelah penyelenggaraan konferensi di Ujung Pandang tepatnya 28 November 1993, dibentuklah PT Kupu-kupu Taman Lestari sebagai pengelola dan pendiri taman kupu-kupu yang diberi nama Bali Butterfly Park.

Taman Kupu-kupu Tabanan Bali
Foto dari kristinakomala.blogspot.com

Pembangunan Bali Butterfly Park oleh PT Kupu-kupu Taman Lestari dimulai setelah mendapat persetujuan dari pemerintah pusat maupun daerah serta dari masyarakat setempat. Setelah hampir tiga tahun membangun, pada tanggal 17 Desember 1996 Bali Butterfly Park dibuka secara resmi sebagai salah satu objek wisata alam dan edukasi, dan diresmikan oleh Ibu Asiawati Oka, Liburan Bali, Panduan Wisata, Tempat Wisata Ketua Tim PKK Propinsi Bali.

Taman Kupu-kupu ini memiliki luas 1 ha, terdiri dari 3.700 m² untuk habitat kupu-kupu dan sisanya 6.300 m² digunakan untuk taman bunga sebagai tanaman dan tumbuhan yang digunakan sebagai makanan dan proses membudidayakan kupu-kupu serta sarana prasarana wisata. Terdapat lima jenis kandang yang digunakan selama proses menangkarkan kupu-kupu, antara lain kandang reproduksi, kandang pemeliharan telur, tempat pemeliharaan larva, kandang kepompong, dan kandang kupu-kupu.

Class Arachnida: Cobalt Blue Tarantula, Scorpion, Celenocosmia javanensis - Taman kupu-kupu Bali Butterfly park

Selain kupu-kupu yang dilestarikan di tempat wisata Bali Butterfly Park, juga terdapat berbagai macam serangga seperti Cobalt Blue Tarantula, Scorpion, Celenocosmia javanensis, dll.

Jenis/Spesies Kupu-kupu di Taman Kupu-kupu Tabanan Bali

Dari hasil penelitian (2010) diketahui terdapat 15 jenis/spesies kupu-kupu yang ditangkarkan di Taman Kupu-kupu Tabanan Bali Butterfly Park, terdiri dari dua famili/keluarga yakni Papilionidae dan Nymphalidae. Dua jenis dari famili Papilionidae adalah termasuk kupu-kupu yang dilindungi yaitu Ornithoptera priamus dan Troides helena.


No.Jenis/SpesiesFamili
1Ornithoptera priamusPapilionidae
2Troides HelenaPapilionidae
3Graphium agamemnonPapilionidae
4Pachliopta aristolochiaePapilionidae
5Papilio demolionPapilionidae
6Papilio helenusPapilionidae
7Papilio memnonPapilionidae
8Papilio peranthusPapilionidae
9Papilio polytesPapilionidae
10Chetosia hypseaNymphalidae
11Doleschalia bisaltideNymphalidae
12Euploea phaenaretaNymphalidae
13Euploea coreNymphalidae
14Moduza procrisNymphalidae
15Vindula dejoneNymphalidae


Spesies/Jenis Kupu-kupu Yang Dilindungi Di Bali Butterfly Park

Dari 15 jenis/spesies kupu-kupu yang ada di Taman Kupu-kupu Bali terdapat 2 jenis kupu-kupu yang dilindungi dari keluarga Papilionidae, yaitu:

1. Ornithoptera priamus

Kupu-kupu Ornithoptera priamus
Ornithoptera priamus: Jantan (kiri), Betina (kanan)

Kupu-kupu jenis Ornithoptera priamus dari keluarga Papilionidae memiliki panjang sayap 70 mm, kupu-kupu jantan berwarna hijau, memiliki warna hitam dengan bentuk hampir lonjong pada bagian discal sayap depan yang dikelilingi oleh warna hijau pada bagian depan dan belakangnya, memiliki pola warna hitam di sepanjang tepi sayap. Sayap belakang berwarna hijau dengan tepi sayap berwarna hitam. Kupu-kupu Betina berwarna hitam dengan garis putih pada sayap depan dan pola warna putih pada sayap bagian belakang. Pada masing-masing sayap belakang terdapat empat titik hitam.

2. Troides helena

Kupu-kupu Troides helena
Troides helena: Jantan (kiri), Betina (kanan)

Kupu-kupu jenis Troides helena memiliki panjang sayap 70 mm, sayap depan berwarna coklat tua kehitaman, memiliki sisik-sisik halus berwarna kuning yang tersusun membentuk garis. Pada kupu-kupu jantan bagian apical sayap berwarna hitam dan di bagian tornus terdapat titik hitam yang terpisah. Sayap belakang berwarna kuning emas dengan vena berwarna hitam. Pada kupu-kupu betina bagian tornus sayap atas berwarna hitam, memiliki titik yang berbaris pada bagian submarginal.

Pariwisata Taman Kupu-kupu Bali

Objek wisata Taman Kupu-kupu Tabanan Bali adalah salah satu taman kupu-kupu yang terbesar sehingga membuat tempat ini banyak dikunjungi oleh wisatawan maupun pelajar. Tempat wisata Taman Kupu-kupu Bali Butterfly Park ini juga telah didukung oleh fasilitas wisata yang memadai, dilengkapi dengan museum kupu-kupu yang memamerkan koleksi berbagai macam jenis kupu-kupu disertai galeri aneka kerajinan/souvenir yang terbuat dari bermacam-macam serangga seperti: Framing Butterfly (Bingkai Kupu-kupu), Framing Beetle (Bingkai Kumbang), gantungan kunci yang terbuat dari serangga, selipan pembatas buku, paper weight (penindih kertas) terbuat dari fiber bening berisi kupu-kupu, lukisan dari sayap kupu-kupu, dll.

Kerajinan dari serangga Kupu-kupu di Bali Butterfly Park
Souvenir dari kupu-kupu

Untuk pengunjung dari masyarakat Bali sendiri banyak datang berkunjung pada hari libur bersama keluarga, dan umumnya mereka juga ingin melihat langsung Kupu-kupu Barong atau Kupu-kupu Gajah (Attacus atlas), kalau di Bahasa Inggris disebut Atlas moth yang sekarang keberadaannya di pulau Bali sudah langka dan sulit untuk ditemukan.

Biasanya wisatawan akan mengunjungi obyek wisata Taman Kupu-kupu Bali ini setelah mereka mengunjungi Museum Subak ataupun sebelum mengunjungi objek wisata sawah jatiluwih ataupun Pura Luhur Batukaru, karena untuk mencapai lokasinya adalah satu arah dengan jalan ke obyek wisata Jatiluwih, Permandian air panas, dan Pura Batukaru. Bagi yang belum pernah mengunjungi Taman Kupu-kupu Bali, ayo liburan kunjungi Bali Butterfly Park bersama keluarga atau orang terdekat anda! See The Mystery of Nature!

Lokasi Taman Kupu-kupu Tabanan Bali

Lokasi Taman Kupu-kupu Bali Butterfly Park terletak di Jalan Batukaru, Br.Sandan Lebah Kel.Sesandan, Wanasari, Kecamatan Tabanan, Kabupaten Tabanan - Bali Indonesia. Jarak tempuh dari kota Denpasar adalah sekitar 28,4 km atau kurang lebih 1 jam perjalanan.

Taman Kupu-kupu - Bali Butterfly Park
AlamatJl.Batukaru, Br.Sandan Lebah, Kel.Sesandan, Tabanan
Bali - Indonesia
Telepon(+62) (361) 894 0595
(+62) (361) 894 0596
Fax(+62) (361) 894 0594
Emailinfo@balibutterflypark.com
balibutterflyzoo@gmail.com
Websitebalibutterflypark.com
Jam BukaSetiap Hari
08.00 pagi - 17.00 sore
Masuk Terakhir16.30 sore


Peta Taman Kupu-kupu Bali Butterfly Park Tabanan

Peta lokasi Taman Kupu-kupu Tabanan Bali Butterfly Park oleh Google Maps



Referensi:
- repository.ipb.ac.id
- balibutterflypark.com
Permalink: Taman Kupu-kupu Tabanan Bali Butterfly Park | Bali Glory

Kamis, 28 April 2016

Museum Subak: Koleksi Pertanian & Irigasi Tradisional Bali

Objek Wisata - Hallo sahabat WIsata Bali dan Sekitarnya, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Objek Wisata, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Museum, Artikel Objek Wisata, Artikel Tabanan, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Museum Subak: Koleksi Pertanian & Irigasi Tradisional Bali
link : Museum Subak: Koleksi Pertanian & Irigasi Tradisional Bali

Baca juga


Objek Wisata

Museum Subak adalah sebuah museum yang memamerkan tentang koleksi alat-alat pertanian tradisional yang dipakai dalam bertani dan sistem pengairan/irigasi tradisional Bali yang disebut dengan Subak. Museum Subak juga merupakan salah satu tujuan wisata untuk study tour yang banyak dikunjungi oleh para pelajar ataupun wisatawan baik wisatawan domestik maupun mancanegara di pusat wilayah Tabanan. Museum Subak Sanggulan Tabanan terletak di Desa Banjar Anyar, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali Indonesia. Jarak tempuh dari Kota Denpasar kurang lebih 21 KM atau sekitar 47 menit.

Museum Subak: Koleksi Pertanian & Irigasi Tradisional Bali
Museum Subak, Bali

Sejarah Museum Subak

Sejarah berdirinya Museum Subak adalah berawal dari sebuah gagasan yang dicetuskan oleh I Gusti Ketut Kaler pada tanggal 17 Agustus 1975 yang bertujuan untuk melestarikan lembaga adat subak sebagai warisan budaya bangsa yang luhur, dan untuk memperkenalkan bagi generasi muda dan wisatawan tentang sistem irigasi tradisional yang unik yang ada di Bali. I Gusti Ketut Kaler adalah seorang pakar adat dan agama Liburan Bali, Panduan Wisata, Tempat Wisata yang pada waktu itu bekerja di Kanwil Departemen Agama Provinsi Bali.

Gagasan tersebut diwujudkan dalam bentuk "Cagar Budaya Museum Subak " yang kemudian dinamakan "Museum Subak". Museum Subak diresmikan pada tanggal 13 Oktober 1981 oleh Gubernur Bali Prof Dr. Bagus Mantra.

Museum Subak menjadi salah satu objek wisata di Tabanan Bali yang menarik dan banyak dikunjungi oleh pelajar, mahasiswa maupun wisatawan. Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan kenapa Museum Subak didirikan/dibangun di wilayah Kabupaten Tabanan Bali, diantaranya adalah:

  1. Tabanan memiliki daerah persawahan yang paling luas di provinsi Bali sehingga sering dijuluki sebagai Lumbung Beras Bali.
  2. Jumlah organisasi subak di Tabanan adalah merupakan yang paling banyak di bandingkan dengan Kabupaten yang lainnya di pulau Bali.

Sistem Pengairan Sawah (Irigasi) Subak

Subak adalah organisasi dari masyarakat petani di Bali yang secara khusus menangani tentang pengaturan atau sistem pengairan sawah/irigasi dengan cara tradisional/konvensional, keberadaan Subak adalah merupakan manifestasi dari konsep/filosofi Tri Hita Karana, Tri Hita Karana berasal dari kata "Tri" yang artinya tiga, "Hita" yang artinya kebahagiaan/kesejahteraan dan "Karana" yang berarti penyebab. Maka dapat diartikan bahwa Tri Hita Karana mempunyai arti“Tiga penyebab terciptanya kebahagiaan dan kesejahteraan”. Pelaksanaannya didalam metode subak yaitu:

  • Parahyangan: hubungan antara manusia dengan Tuhan.
  • Pawongan: hubungan antara manusia dengan sesamanya.
  • Palemahan: hubungan antara manusia dengan alam dan lingkungannya.

Kata "Subak" pertama kali dilihat di dalam prasasti Pandak Bandung yang memiliki angka tahun 1072 M. Kata subak tersebut mengacu kepada sebuah lembaga sosial dan keagamaan yang unik, memiliki pengaturan tersendiri dalam mengatur penggunaan air irigasi untuk pertumbuhan padi.

Persawahan Jatiluwih, Tabanan, Bali - Indonesia
Sawah berundak-undak Jatiluwih, Photo by Komang Gede via Flickr

Implementasi dari sistem pengairan Subak ini bisa dilihat hampir di seluruh persawahan yang ada di bali, dan yang paling banyak dikunjungi adalah di objek wisata sawah terasering/berundak-undak Jatiluwih karena merupakan bagian dari Lanskap Subak Catur Angga Batukaru (salah satu situs di Bali yang ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia).
Baca selengkapnya tentang Subak: Sistem Pengairan Sawah (irigasi) Tradisional Bali

Tata Letak Museum Subak

Museum Subak Bali dibagi menjadi dua bagian yang terpisah,yaitu komplek museum Induk/tertutup dan komplek museum terbuka. Pada bagian museum tertutup/induk terdiri dua gedung/bangunan utama yang mempunyai fungsi sebagai pusat informasi dan gedung pameran serta ruang audio-visual, ruang belajar, perpustakaan, kantor dan miniatur sistem irigasi subak. Sedangkan museum yang terbuka ialah berupa hamparan sawah dengan sistem pengairan subak.

Pada kedua bangunan utama tersebut pengunjung bisa melihat, mengenal dan mempelajari segala hal yang berkaitan dengan pertanian dan peralatan tradisional yang biasa di gunakan di dalam pertanian di Bali seperti alat pemotong dan penumbuk padi, alat pembajak sawah, dll. Serta disini pengunjung mendapatkan informasi yang lengkap tentang bagaimana sistem irigasi Subak serta proses pengolahan sawah dari awal sampai akhir. Seperti cara membuka lahan sawah, membagi air, membuat terowongan air, mengukur saluran air serta lengkap dengan proses upacara ritual keagamaannya.

Koleksi peralatan pertanian museum subak, Bali
Peralatan Pertanian Tradisional Bali

Jam Buka dan Tutup Museum Subak

Museum Subak mempunyai jadwal buka setiap hari Senin - Kamis & Sabtu dari jam 7:30 pagi sampai jam 16:30 sore, dan hari Jumat buka dari pukul 7:30 pagi sampai pukul 13:00 siang. Sedangkan hari Minggu dan hari libur Museum Subak tutup. Bagi anda yang sedang liburan di Bali dan ingin mengunjungi Museum Subak silahkan lihat jadwal buka dan tutup diatas.

Para pelajar mengunjungi museum subak, bali
Siswa-siswa mengunjungi Museum Subak, Foto oleh kebudayaan.kemdikbud.go.id

Lokasi dan Peta Museum Subak

Lokasi Museum Subak terletak di Desa Banjar Anyar, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali Indonesia. Jarak tempuh dari Kota Denpasar sekitar 21 KM atau sekitar 47 menit dengan mobil.

Alamat & No. Telp Museum Subak

  • Alamat: Jl. Gatot Subroto II, Banjar Anyar, Kec. Kediri, Kabupaten Tabanan 82123 Bali - Indonesia
  • No. Telp: (0361) 810315 - Fax. (0361) 811602

Peta Museum Subak
Peta lokasi Museum Subak Tabanan oleh Google Maps



Referensi:
- asosiasimuseumindonesia.org
- www.yellowpages.co.id
Permalink: Museum Subak: Koleksi Pertanian & Irigasi Tradisional Bali | Bali Glory

Museum Subak adalah sebuah museum yang memamerkan tentang koleksi alat-alat pertanian tradisional yang dipakai dalam bertani dan sistem pengairan/irigasi tradisional Bali yang disebut dengan Subak. Museum Subak juga merupakan salah satu tujuan wisata untuk study tour yang banyak dikunjungi oleh para pelajar ataupun wisatawan baik wisatawan domestik maupun mancanegara di pusat wilayah Tabanan. Museum Subak Sanggulan Tabanan terletak di Desa Banjar Anyar, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali Indonesia. Jarak tempuh dari Kota Denpasar kurang lebih 21 KM atau sekitar 47 menit.

Museum Subak: Koleksi Pertanian & Irigasi Tradisional Bali
Museum Subak, Bali

Sejarah Museum Subak

Sejarah berdirinya Museum Subak adalah berawal dari sebuah gagasan yang dicetuskan oleh I Gusti Ketut Kaler pada tanggal 17 Agustus 1975 yang bertujuan untuk melestarikan lembaga adat subak sebagai warisan budaya bangsa yang luhur, dan untuk memperkenalkan bagi generasi muda dan wisatawan tentang sistem irigasi tradisional yang unik yang ada di Bali. I Gusti Ketut Kaler adalah seorang pakar adat dan agama Liburan Bali, Panduan Wisata, Tempat Wisata yang pada waktu itu bekerja di Kanwil Departemen Agama Provinsi Bali.

Gagasan tersebut diwujudkan dalam bentuk "Cagar Budaya Museum Subak " yang kemudian dinamakan "Museum Subak". Museum Subak diresmikan pada tanggal 13 Oktober 1981 oleh Gubernur Bali Prof Dr. Bagus Mantra.

Museum Subak menjadi salah satu objek wisata di Tabanan Bali yang menarik dan banyak dikunjungi oleh pelajar, mahasiswa maupun wisatawan. Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan kenapa Museum Subak didirikan/dibangun di wilayah Kabupaten Tabanan Bali, diantaranya adalah:

  1. Tabanan memiliki daerah persawahan yang paling luas di provinsi Bali sehingga sering dijuluki sebagai Lumbung Beras Bali.
  2. Jumlah organisasi subak di Tabanan adalah merupakan yang paling banyak di bandingkan dengan Kabupaten yang lainnya di pulau Bali.

Sistem Pengairan Sawah (Irigasi) Subak

Subak adalah organisasi dari masyarakat petani di Bali yang secara khusus menangani tentang pengaturan atau sistem pengairan sawah/irigasi dengan cara tradisional/konvensional, keberadaan Subak adalah merupakan manifestasi dari konsep/filosofi Tri Hita Karana, Tri Hita Karana berasal dari kata "Tri" yang artinya tiga, "Hita" yang artinya kebahagiaan/kesejahteraan dan "Karana" yang berarti penyebab. Maka dapat diartikan bahwa Tri Hita Karana mempunyai arti“Tiga penyebab terciptanya kebahagiaan dan kesejahteraan”. Pelaksanaannya didalam metode subak yaitu:

  • Parahyangan: hubungan antara manusia dengan Tuhan.
  • Pawongan: hubungan antara manusia dengan sesamanya.
  • Palemahan: hubungan antara manusia dengan alam dan lingkungannya.

Kata "Subak" pertama kali dilihat di dalam prasasti Pandak Bandung yang memiliki angka tahun 1072 M. Kata subak tersebut mengacu kepada sebuah lembaga sosial dan keagamaan yang unik, memiliki pengaturan tersendiri dalam mengatur penggunaan air irigasi untuk pertumbuhan padi.

Persawahan Jatiluwih, Tabanan, Bali - Indonesia
Sawah berundak-undak Jatiluwih, Photo by Komang Gede via Flickr

Implementasi dari sistem pengairan Subak ini bisa dilihat hampir di seluruh persawahan yang ada di bali, dan yang paling banyak dikunjungi adalah di objek wisata sawah terasering/berundak-undak Jatiluwih karena merupakan bagian dari Lanskap Subak Catur Angga Batukaru (salah satu situs di Bali yang ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia).
Baca selengkapnya tentang Subak: Sistem Pengairan Sawah (irigasi) Tradisional Bali

Tata Letak Museum Subak

Museum Subak Bali dibagi menjadi dua bagian yang terpisah,yaitu komplek museum Induk/tertutup dan komplek museum terbuka. Pada bagian museum tertutup/induk terdiri dua gedung/bangunan utama yang mempunyai fungsi sebagai pusat informasi dan gedung pameran serta ruang audio-visual, ruang belajar, perpustakaan, kantor dan miniatur sistem irigasi subak. Sedangkan museum yang terbuka ialah berupa hamparan sawah dengan sistem pengairan subak.

Pada kedua bangunan utama tersebut pengunjung bisa melihat, mengenal dan mempelajari segala hal yang berkaitan dengan pertanian dan peralatan tradisional yang biasa di gunakan di dalam pertanian di Bali seperti alat pemotong dan penumbuk padi, alat pembajak sawah, dll. Serta disini pengunjung mendapatkan informasi yang lengkap tentang bagaimana sistem irigasi Subak serta proses pengolahan sawah dari awal sampai akhir. Seperti cara membuka lahan sawah, membagi air, membuat terowongan air, mengukur saluran air serta lengkap dengan proses upacara ritual keagamaannya.

Koleksi peralatan pertanian museum subak, Bali
Peralatan Pertanian Tradisional Bali

Jam Buka dan Tutup Museum Subak

Museum Subak mempunyai jadwal buka setiap hari Senin - Kamis & Sabtu dari jam 7:30 pagi sampai jam 16:30 sore, dan hari Jumat buka dari pukul 7:30 pagi sampai pukul 13:00 siang. Sedangkan hari Minggu dan hari libur Museum Subak tutup. Bagi anda yang sedang liburan di Bali dan ingin mengunjungi Museum Subak silahkan lihat jadwal buka dan tutup diatas.

Para pelajar mengunjungi museum subak, bali
Siswa-siswa mengunjungi Museum Subak, Foto oleh kebudayaan.kemdikbud.go.id

Lokasi dan Peta Museum Subak

Lokasi Museum Subak terletak di Desa Banjar Anyar, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali Indonesia. Jarak tempuh dari Kota Denpasar sekitar 21 KM atau sekitar 47 menit dengan mobil.

Alamat & No. Telp Museum Subak

  • Alamat: Jl. Gatot Subroto II, Banjar Anyar, Kec. Kediri, Kabupaten Tabanan 82123 Bali - Indonesia
  • No. Telp: (0361) 810315 - Fax. (0361) 811602

Peta Museum Subak
Peta lokasi Museum Subak Tabanan oleh Google Maps



Referensi:
- asosiasimuseumindonesia.org
- www.yellowpages.co.id
Permalink: Museum Subak: Koleksi Pertanian & Irigasi Tradisional Bali | Bali Glory

Senin, 01 Februari 2016

Jatiluwih: Tempat Wisata Pemandangan Sawah Berundak di Bali

Objek Wisata - Hallo sahabat WIsata Bali dan Sekitarnya, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Objek Wisata, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Objek Wisata, Artikel Sawah Berundak, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Jatiluwih: Tempat Wisata Pemandangan Sawah Berundak di Bali
link : Jatiluwih: Tempat Wisata Pemandangan Sawah Berundak di Bali

Baca juga


Objek Wisata

Sawah berundak Jatiluwih Bali atau sawah terasering Jatiluwih adalah salah satu tempat wisata di Tabanan yang paling populer dengan pemandangan hamparan sawah berundak-undak yang indah selain Tegalalang rice terrace Ubud, Munduk rice terraces, dan objek wisata pemandangan sawah berundak lainnya di Bali. Jatiluwih adalah sebuah desa yang mempunyai daerah hamparan persawahan luas dengan panorama sawah bertingkat yang indah yang terletak di wilayah Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan Bali. Desa Jatiluwih terkenal sebagai tempat wisata dengan keindahan sawah terasering yang masih menggunakan sistem pengairan sawah tradisional Bali, lokasinya terletak dekat dengan pegunungan Batukaru dengan kondisi udara yang lumayan sejuk. Untuk mengunjungi obyek wisata Jatiluwih Bali dengan pemandangan sawah bertingkat-tingkat yang indah ini bisa ditempuh dengan jarak kurang lebih 50 KM atau sekitar ± 1 jam 30 menit dari kota Denpasar. Bagi anda yang sedang liburan di pulau Bali, objek wisata sawah terasering Jatiluwih Bali ini bisa dijadikan pilihan untuk berlibur untuk menikmati keindahan panorama sawah pegunungan yang memikat hati.

Konten
Sejarah Jatiluwih
Geografi Jatiluwih
Warisan Budaya Dunia (UNESCO)
Pengolahan Sawah & Aktifitas Petani
Pariwisata Jatiluwih
Waktu Terbaik Mengunjungi Jatiluwih
Peta & Lokasi Jatiluwih

Sejarah Jatiluwih

Untuk mengetahui sejarah Jatiluwih sepenuhnya bersumber pada cerita-cerita orang tua yang merupakan penduduk dari Desa Jatiluwih. Konon ceritanya nama JATILUWIH berasal dari kata JATON dan LUWIH. "JATON" artinya adalah Jimat, sedangkan "LUWIH" berarti bagus, dari arti kata tersebut maka dapat disimpulkan bahwa Jatiluwih mempunyai arti adalah sebuah desa yang mempunyai Jimat yang benar-benar bagus/ampuh atau berwasiat.

Dari sumber lain diceritakan bahwa konon di tengah Desa ada sebuah kuburan binatang purba yakni seekor burung Jatayu. Dari kata Jatayu ini lama kelamaan mengalami perubahan bunyi menjadi JATON AYU yang berarti Luwih atau Bagus. Jadi JATON AYU sama dengan Jatiluwih. Demikianlah pada akhirnya kata Jatiluwih sejak dulu ditetapkan menjadi nama Desa dan sampai hari ini belum pernah mengalami perubahan.

Sawah Terasering Berundak Jatiluwih, Tabanan, Bali - Indonesia
Sawah Terasering Jatiluwih Bali, Photo by Komang Gede via Flickr

Dari arti Jatiluwih tersebut sampai sekarang dapat dibuktikan dengan adanya hasil-hasil dari bertani dan berkebun yang cukup memenuhi kebutuhan hidup dan kesejahteraan bagi semua penduduknya dan terjaminnya keselamatan bagi para penduduknya selama menjalankan kehidupan bertani.

Maka pada jaman dahulu banyaklah berdatangan para Brahmana, Ksatria, Wesia dan Sudra dari daerah Tabanan yang berkunjung ke Desa Jatiluwih dengan harapan memohon keselamatan dan kesejahteraan golongannya masing-masing. Akhirnya mereka itulah kemudian mendirikan Pura-Pura yang ada sekarang di wilayah Desa Jatiluwih seperti Pura Luhur Petali, Pura Luhur Bhujangga Waisnawa, Pura Rshi, Pura Taksu dan tempat-tempat suci yang lain disekitarnya.

Geografi Jatiluwih

Dari segi geografis, Jatiluwih memiliki luas wilayah sekitar 33,22 km2, dengan ketinggian kurang lebih 1,059 meter atau 3,476 kaki diatas permukaan laut. Jatiluwih memiliki iklim tropis pada hampir sepanjang sebagian besar bulan dalam setahun, terdapat curah hujan signifikan di daerah ini, suhu tahunan adalah rata-rata 19.0° C. Jatiluwih merupakan daerah pertanian dengan petani padi sebagai mayoritas penduduknya. Selain sebagai penghasil beras dan juga beras merah dari hamparan sawah terasering/berundak-undak yang luas dan besar, daerah ini juga menghasilkan tanaman kebun lainnya seperti sayuran, kelapa, kopi, pisang, dll. Selain daripada itu, pada saat ini di dalam masyarakat Jatiluwih juga telah terbentuk kelompok – kelompok tani yang kemudian akan bisa meningkatkan pendapatan masyarakat seperti kelompok tani ikan, kelompok ternak, dll. Organisasi kemasyarakatan yang khusus mengatur sistem pengairan (irigasi) sawah yang digunakan dalam bercocok tanam padi di Jatiluwih dan di pulau Bali pada umumnya disebut dengan istilah Subak.

Warisan Budaya Dunia (UNESCO)

Desa Jatiluwih telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia (WBD) sejak 29 Juni 2012 karena mempunyai keunikan dan ciri khas pada sistem pertaniannya yaitu dengan menggunakan konsep filosofi Tri Hita Karana (filosofi tentang keseimbangan antara manusia dengan sesamanya, manusia dengan alam, serta manusia dengan Sang Pencipta). Jatiluwih termasuk didalam kawasan Lanskap Subak dari Catur Angga Batukaru yang merupakan salah satu dari 5 kawasan di Bali yang ditetapkan oleh UNESCO menjadi warisan budaya dunia Liburan Bali, Panduan Wisata, Tempat Wisata. Secara sosio-kultural manajemen organisasi subak Desa Jatiluwih adalah berdasarkan prinsip dari filsafat Tri Hita Karana yang bertujuan agar tercapai dan terbinanya keselarasan dan keharmonisan antara warga subak dengan sesamanya, warga subak dengan lingkungan/alam, dan warga subak dengan Sang Pencipta/Tuhan sebagai unsur parahyangan.

Pengolahan Sawah & Aktifitas Petani

Jatiluwih sangat terkenal dengan sawah terasering nya dengan sistem irigasi yang bagus yang dikelola oleh anggota subak, terlepas dengan filsafat Tri Hita Karana yang menjadi landasan oleh petani di Jatiluwih maka dalam hal pengolahan lahan sawah pun didasari oleh filsafat tersebut, dalam hal ini adalah hubungannya dengan sang pencipta dengan melakukan beberapa upacara yang merupakan bagian dari aktifitas petani seperti; mengolah sawah, menanam padi, memanen, dan sebagainya, sesuai dengan budaya dan agama Hindu yang dipeluk oleh sebagian besar Petani di Jatiluwih. Adapun upacara yang dilakukan adalah:

  1. Mapag Toya, yaitu upacara mengambil/menjemput air ke sumber mata air. Upacara ini diikuti oleh semua anggota subak dan dilakukan pada Sasih Ketiga atau sekitar bulan September. Kegiatan ini disebut Kempelan yaitu kegiatan membuka saluran air ke sumber aliran air di hulu subak, selanjutnya air akan mengaliri sawah.
  2. Ngendag Tanah Carik, yaitu upacara memohon keselamatan kepada Tuhan pada saat membajak tanah sawah yang dilakukan oleh masing-masing anggota subak prosesi ini masih pada Sasih Ketiga (bulan September).
  3. Ngurit, yaitu upacara pembibitan yang dilakukan oleh seluruh anggota subak pada masing-masing tanah garapannya. Ngurit dilaksanakan pada Sasih Kelima (sekitar bulan Nopember).
  4. Ngerasakin, yaitu upacara membersihkan kotoran (leteh) yang tertinggal ketika melakukan pembajakan sawah, upacara ini dilakukan setelah pembajakan selesai pada masing-masing tanah garapan pada awal Sasih Kepitu (awal bulan Januari).
  5. Pangawiwit (Nuwasen), yaitu upacara untuk mencari hari baik untuk memulai menanam padi yang dilakukan pada sekitar Sasih Kepitu (awal bulan Januari).
  6. Ngekambuhin, yaitu upacara untuk meminta keselamatan kepada Tuhan bagi anak padi yang baru tumbuh yang dilakukan pada saat padi berumur 42 hari pada sekitar Sasih Kewulu (bulan Pebruari).
  7. Pamungkah, yaitu upacara memohon keselamatan agar tanaman padi dapat tumbuh dengan baik. Upacara ini dilakukan pada Sasih Kawulu (bulan Pebruari).
  8. Penyepian, yaitu upacara memohon keselamatan agar tanaman padi terhindar dari hama/penyakit dan dilakukan pada Sasih Kesanga (sekitar bulan Maret).
  9. Pengerestitian Nyegara Gunung, yaitu melaksanakan upacara nyegara gunung yang dilakukan di Pura Luhur Petali dan Pura Luhur Pekendungan (bulan Maret/April).
  10. Mesaba, yaitu upacara sebelum panen yang dilakukan pada Sasih Kedasa (bulan April) oleh anggota subak pada sawah nya masing-masing.
  11. Ngadegang Bhatari Sri (Bhatara Nini), yaitu upacara secara simbolis memvisualisasikan Beliau sebagai Lingga-Yoni.
  12. Upacara Nganyarin, yaitu upacara mulai panen yang dilaksanakan pada Sasih Sada (bulan Juni) oleh anggota subak pada masing-masing sawahnya.
  13. Manyi, yaitu kegiatan memanen padi (bulan Juli).
  14. Mantenin, yaitu upacara menaikkan padi ke lumbung atau upacara menyimpan padi di lumbung yang dilaksanakan pada Sasih Karo (bulan Agustus).

Aktifitas petani di sawah Jatiluwih
Petani sedang menanam padi

Pariwisata Jatiluwih

jatiluwih sangat terkenal dengan keindahan alam dengan sawah terasering nya dan menjadi salah satu tujuan wisata terbaik di tabanan, aktifitas petani di jatiluwih adalah salah satu daya tarik tersendiri bagi wisatawan, pada umumnya kegiatan petani di sawah masih menggunakan cara-cara dan alat-alat tradisional untuk menggarap sawahnya seperti; Mencangkul, Nampadin (membersihkan pematang sawah), Ngelampit (membajak sawah), Melasah (meratakan tanah sawah), Nandur (menanam padi), dll. Kegiatan petani tersebut benar-benar menjadi salah satu daya tarik tersendiri dan sering kali dijadikan sebagai obyek fotografi oleh wisatawan. Selain itu di kawasan Jatiluwih juga terdapat aktifitas wisata seperti hiking dan cycling, untuk mendukung sarana pariwisata di Jatiluwih juga terdapat penginapan/pondok wisata, cafe, dan warung/rumah makan ataupun restoran yang khusus menyajikan makanan khas dengan beras merah dari hasil pertanian di Jatiluwih.

Waktu Terbaik Mengunjungi Jatiluwih

Untuk mengunjungi obyek wisata Jatiluwih direkomendasikan antara jam 8.00 pagi sampai sore hari sekitar jam 5.00, karena pada antara jam-jam tersebut aktifitas petani banyak dijumpai. Dikarenakan curah hujan yang tinggi di kawasan Jatiluwih maka direkomendasikan bagi para wisatawan agar selalu menyiapkan payung ataupun jas hujan atau ada baiknya sebelum mengunjungi Jatiluwih pengunjung bisa memantau prakiraan cuaca sehari sebelumnya. Untuk bisa menikmati panorama alam Jatiluwih dengan sawah terasering yang hijau dan indah, wisatawan bisa mengunjungi Jatiluwih diantara bulan Pebruari sampai bulan April, karena pada bulan-bulan tersebut tanaman padi akan tumbuh tinggi, hijau dan menguning. Pada sekitar bulan Juni - Juli (sasih Sada), tanaman padi akan siap di panen dan aktifitas memanen oleh petani akan banyak dijumpai.

Peta & Lokasi Jatiluwih

Peta lokasi sawah terasering Jatiluwih Bali oleh Google Maps



Referensi:
- UNESCO
- National Geographic
- Desa Jatiluwih | Kec. Penebel Tabanan
Permalink: Jatiluwih: Tempat Wisata Pemandangan Sawah Berundak di Bali | Bali Glory

Sawah berundak Jatiluwih Bali atau sawah terasering Jatiluwih adalah salah satu tempat wisata di Tabanan yang paling populer dengan pemandangan hamparan sawah berundak-undak yang indah selain Tegalalang rice terrace Ubud, Munduk rice terraces, dan objek wisata pemandangan sawah berundak lainnya di Bali. Jatiluwih adalah sebuah desa yang mempunyai daerah hamparan persawahan luas dengan panorama sawah bertingkat yang indah yang terletak di wilayah Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan Bali. Desa Jatiluwih terkenal sebagai tempat wisata dengan keindahan sawah terasering yang masih menggunakan sistem pengairan sawah tradisional Bali, lokasinya terletak dekat dengan pegunungan Batukaru dengan kondisi udara yang lumayan sejuk. Untuk mengunjungi obyek wisata Jatiluwih Bali dengan pemandangan sawah bertingkat-tingkat yang indah ini bisa ditempuh dengan jarak kurang lebih 50 KM atau sekitar ± 1 jam 30 menit dari kota Denpasar. Bagi anda yang sedang liburan di pulau Bali, objek wisata sawah terasering Jatiluwih Bali ini bisa dijadikan pilihan untuk berlibur untuk menikmati keindahan panorama sawah pegunungan yang memikat hati.

Konten
Sejarah Jatiluwih
Geografi Jatiluwih
Warisan Budaya Dunia (UNESCO)
Pengolahan Sawah & Aktifitas Petani
Pariwisata Jatiluwih
Waktu Terbaik Mengunjungi Jatiluwih
Peta & Lokasi Jatiluwih

Sejarah Jatiluwih

Untuk mengetahui sejarah Jatiluwih sepenuhnya bersumber pada cerita-cerita orang tua yang merupakan penduduk dari Desa Jatiluwih. Konon ceritanya nama JATILUWIH berasal dari kata JATON dan LUWIH. "JATON" artinya adalah Jimat, sedangkan "LUWIH" berarti bagus, dari arti kata tersebut maka dapat disimpulkan bahwa Jatiluwih mempunyai arti adalah sebuah desa yang mempunyai Jimat yang benar-benar bagus/ampuh atau berwasiat.

Dari sumber lain diceritakan bahwa konon di tengah Desa ada sebuah kuburan binatang purba yakni seekor burung Jatayu. Dari kata Jatayu ini lama kelamaan mengalami perubahan bunyi menjadi JATON AYU yang berarti Luwih atau Bagus. Jadi JATON AYU sama dengan Jatiluwih. Demikianlah pada akhirnya kata Jatiluwih sejak dulu ditetapkan menjadi nama Desa dan sampai hari ini belum pernah mengalami perubahan.

Sawah Terasering Berundak Jatiluwih, Tabanan, Bali - Indonesia
Sawah Terasering Jatiluwih Bali, Photo by Komang Gede via Flickr

Dari arti Jatiluwih tersebut sampai sekarang dapat dibuktikan dengan adanya hasil-hasil dari bertani dan berkebun yang cukup memenuhi kebutuhan hidup dan kesejahteraan bagi semua penduduknya dan terjaminnya keselamatan bagi para penduduknya selama menjalankan kehidupan bertani.

Maka pada jaman dahulu banyaklah berdatangan para Brahmana, Ksatria, Wesia dan Sudra dari daerah Tabanan yang berkunjung ke Desa Jatiluwih dengan harapan memohon keselamatan dan kesejahteraan golongannya masing-masing. Akhirnya mereka itulah kemudian mendirikan Pura-Pura yang ada sekarang di wilayah Desa Jatiluwih seperti Pura Luhur Petali, Pura Luhur Bhujangga Waisnawa, Pura Rshi, Pura Taksu dan tempat-tempat suci yang lain disekitarnya.

Geografi Jatiluwih

Dari segi geografis, Jatiluwih memiliki luas wilayah sekitar 33,22 km2, dengan ketinggian kurang lebih 1,059 meter atau 3,476 kaki diatas permukaan laut. Jatiluwih memiliki iklim tropis pada hampir sepanjang sebagian besar bulan dalam setahun, terdapat curah hujan signifikan di daerah ini, suhu tahunan adalah rata-rata 19.0° C. Jatiluwih merupakan daerah pertanian dengan petani padi sebagai mayoritas penduduknya. Selain sebagai penghasil beras dan juga beras merah dari hamparan sawah terasering/berundak-undak yang luas dan besar, daerah ini juga menghasilkan tanaman kebun lainnya seperti sayuran, kelapa, kopi, pisang, dll. Selain daripada itu, pada saat ini di dalam masyarakat Jatiluwih juga telah terbentuk kelompok – kelompok tani yang kemudian akan bisa meningkatkan pendapatan masyarakat seperti kelompok tani ikan, kelompok ternak, dll. Organisasi kemasyarakatan yang khusus mengatur sistem pengairan (irigasi) sawah yang digunakan dalam bercocok tanam padi di Jatiluwih dan di pulau Bali pada umumnya disebut dengan istilah Subak.

Warisan Budaya Dunia (UNESCO)

Desa Jatiluwih telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia (WBD) sejak 29 Juni 2012 karena mempunyai keunikan dan ciri khas pada sistem pertaniannya yaitu dengan menggunakan konsep filosofi Tri Hita Karana (filosofi tentang keseimbangan antara manusia dengan sesamanya, manusia dengan alam, serta manusia dengan Sang Pencipta). Jatiluwih termasuk didalam kawasan Lanskap Subak dari Catur Angga Batukaru yang merupakan salah satu dari 5 kawasan di Bali yang ditetapkan oleh UNESCO menjadi warisan budaya dunia Liburan Bali, Panduan Wisata, Tempat Wisata. Secara sosio-kultural manajemen organisasi subak Desa Jatiluwih adalah berdasarkan prinsip dari filsafat Tri Hita Karana yang bertujuan agar tercapai dan terbinanya keselarasan dan keharmonisan antara warga subak dengan sesamanya, warga subak dengan lingkungan/alam, dan warga subak dengan Sang Pencipta/Tuhan sebagai unsur parahyangan.

Pengolahan Sawah & Aktifitas Petani

Jatiluwih sangat terkenal dengan sawah terasering nya dengan sistem irigasi yang bagus yang dikelola oleh anggota subak, terlepas dengan filsafat Tri Hita Karana yang menjadi landasan oleh petani di Jatiluwih maka dalam hal pengolahan lahan sawah pun didasari oleh filsafat tersebut, dalam hal ini adalah hubungannya dengan sang pencipta dengan melakukan beberapa upacara yang merupakan bagian dari aktifitas petani seperti; mengolah sawah, menanam padi, memanen, dan sebagainya, sesuai dengan budaya dan agama Hindu yang dipeluk oleh sebagian besar Petani di Jatiluwih. Adapun upacara yang dilakukan adalah:

  1. Mapag Toya, yaitu upacara mengambil/menjemput air ke sumber mata air. Upacara ini diikuti oleh semua anggota subak dan dilakukan pada Sasih Ketiga atau sekitar bulan September. Kegiatan ini disebut Kempelan yaitu kegiatan membuka saluran air ke sumber aliran air di hulu subak, selanjutnya air akan mengaliri sawah.
  2. Ngendag Tanah Carik, yaitu upacara memohon keselamatan kepada Tuhan pada saat membajak tanah sawah yang dilakukan oleh masing-masing anggota subak prosesi ini masih pada Sasih Ketiga (bulan September).
  3. Ngurit, yaitu upacara pembibitan yang dilakukan oleh seluruh anggota subak pada masing-masing tanah garapannya. Ngurit dilaksanakan pada Sasih Kelima (sekitar bulan Nopember).
  4. Ngerasakin, yaitu upacara membersihkan kotoran (leteh) yang tertinggal ketika melakukan pembajakan sawah, upacara ini dilakukan setelah pembajakan selesai pada masing-masing tanah garapan pada awal Sasih Kepitu (awal bulan Januari).
  5. Pangawiwit (Nuwasen), yaitu upacara untuk mencari hari baik untuk memulai menanam padi yang dilakukan pada sekitar Sasih Kepitu (awal bulan Januari).
  6. Ngekambuhin, yaitu upacara untuk meminta keselamatan kepada Tuhan bagi anak padi yang baru tumbuh yang dilakukan pada saat padi berumur 42 hari pada sekitar Sasih Kewulu (bulan Pebruari).
  7. Pamungkah, yaitu upacara memohon keselamatan agar tanaman padi dapat tumbuh dengan baik. Upacara ini dilakukan pada Sasih Kawulu (bulan Pebruari).
  8. Penyepian, yaitu upacara memohon keselamatan agar tanaman padi terhindar dari hama/penyakit dan dilakukan pada Sasih Kesanga (sekitar bulan Maret).
  9. Pengerestitian Nyegara Gunung, yaitu melaksanakan upacara nyegara gunung yang dilakukan di Pura Luhur Petali dan Pura Luhur Pekendungan (bulan Maret/April).
  10. Mesaba, yaitu upacara sebelum panen yang dilakukan pada Sasih Kedasa (bulan April) oleh anggota subak pada sawah nya masing-masing.
  11. Ngadegang Bhatari Sri (Bhatara Nini), yaitu upacara secara simbolis memvisualisasikan Beliau sebagai Lingga-Yoni.
  12. Upacara Nganyarin, yaitu upacara mulai panen yang dilaksanakan pada Sasih Sada (bulan Juni) oleh anggota subak pada masing-masing sawahnya.
  13. Manyi, yaitu kegiatan memanen padi (bulan Juli).
  14. Mantenin, yaitu upacara menaikkan padi ke lumbung atau upacara menyimpan padi di lumbung yang dilaksanakan pada Sasih Karo (bulan Agustus).

Aktifitas petani di sawah Jatiluwih
Petani sedang menanam padi

Pariwisata Jatiluwih

jatiluwih sangat terkenal dengan keindahan alam dengan sawah terasering nya dan menjadi salah satu tujuan wisata terbaik di tabanan, aktifitas petani di jatiluwih adalah salah satu daya tarik tersendiri bagi wisatawan, pada umumnya kegiatan petani di sawah masih menggunakan cara-cara dan alat-alat tradisional untuk menggarap sawahnya seperti; Mencangkul, Nampadin (membersihkan pematang sawah), Ngelampit (membajak sawah), Melasah (meratakan tanah sawah), Nandur (menanam padi), dll. Kegiatan petani tersebut benar-benar menjadi salah satu daya tarik tersendiri dan sering kali dijadikan sebagai obyek fotografi oleh wisatawan. Selain itu di kawasan Jatiluwih juga terdapat aktifitas wisata seperti hiking dan cycling, untuk mendukung sarana pariwisata di Jatiluwih juga terdapat penginapan/pondok wisata, cafe, dan warung/rumah makan ataupun restoran yang khusus menyajikan makanan khas dengan beras merah dari hasil pertanian di Jatiluwih.

Waktu Terbaik Mengunjungi Jatiluwih

Untuk mengunjungi obyek wisata Jatiluwih direkomendasikan antara jam 8.00 pagi sampai sore hari sekitar jam 5.00, karena pada antara jam-jam tersebut aktifitas petani banyak dijumpai. Dikarenakan curah hujan yang tinggi di kawasan Jatiluwih maka direkomendasikan bagi para wisatawan agar selalu menyiapkan payung ataupun jas hujan atau ada baiknya sebelum mengunjungi Jatiluwih pengunjung bisa memantau prakiraan cuaca sehari sebelumnya. Untuk bisa menikmati panorama alam Jatiluwih dengan sawah terasering yang hijau dan indah, wisatawan bisa mengunjungi Jatiluwih diantara bulan Pebruari sampai bulan April, karena pada bulan-bulan tersebut tanaman padi akan tumbuh tinggi, hijau dan menguning. Pada sekitar bulan Juni - Juli (sasih Sada), tanaman padi akan siap di panen dan aktifitas memanen oleh petani akan banyak dijumpai.

Peta & Lokasi Jatiluwih

Peta lokasi sawah terasering Jatiluwih Bali oleh Google Maps



Referensi:
- UNESCO
- National Geographic
- Desa Jatiluwih | Kec. Penebel Tabanan
Permalink: Jatiluwih: Tempat Wisata Pemandangan Sawah Berundak di Bali | Bali Glory

Rabu, 02 Desember 2015

Pura Batukaru: Tempat Suci di Lereng Gunung Batukaru Bali

Objek Wisata - Hallo sahabat WIsata Bali dan Sekitarnya, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Objek Wisata, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Objek Wisata, Artikel Pura, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Pura Batukaru: Tempat Suci di Lereng Gunung Batukaru Bali
link : Pura Batukaru: Tempat Suci di Lereng Gunung Batukaru Bali

Baca juga


Objek Wisata

Pura Batukaru adalah sebuah tempat suci Hindu yang terletak tepat di lereng gunung Batukaru Bali, selain sebagai tempat untuk bersembahyang yang sangat di sucikan oleh masyarakat Hindu Bali, Pura Batukaru juga terkenal sebagai tempat wisata yang banyak dikunjungi oleh wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Bagi anda yang sedang liburan di Bali, mungkin bisa mencoba merasakan suasana tenang, damai serta segarnya udara pegunungan dengan mengunjungi obyek wisata Pura Batukaru ini.

Konten
Sejarah Pura Luhur Batukaru
Upacara Piodalan Pura Batukaru
Peta Lokasi Pura Batukaru

Pura Batukaru terletak di Desa Wongaya Gede, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali. Kurang lebih 46 Kilometer dari kota Denpasar, lokasi Pura Luhur Batukaru terletak di bagian barat Pulau Bali di lereng selatan Gunung Batukaru. Kemungkinan besar nama Pura Batukaru diambil dari nama Gunung Batukaru itu sendiri. Pura Luhur Batukaru adalah selain sebagai tempat suci agama Hindu juga sebagai salah satu objek wisata yang sangat digemari oleh wisatawan yang ingin menikmati kesegaran dan kedamaian yang terdapat di kawasan Pura Batukaru ini, biasanya wisatawan akan mengunjungi pura Batukaru setelah/sebelum mereka mengunjungi tempat wisata sawah terasering Jatiluwih karena letak kedua objek wisata ini tidak terlalu jauh. di kawasan Pura Batukaru ini kita tidak akan menjumpai toko-toko suvenir, warung ataupun artshop seperti tempat wisata lainnya sehingga di kawasan Pura Batukaru ini memang sebuah tempat yang jauh dari kebisingan dan kesuciannya selalu dijaga oleh masyarakat Bali. Wisatawan yang ingin mengunjungi Pura Luhur Batukaru ini harus menggunakan pakaian yang sopan agar kesucian pura tetap terjaga.

Pura yang lain untuk dikunjungi di Kabupaten Tabanan

Pura Batukaru kemungkinan sebelumnya sudah dijadikan tempat pemujaan dan tempat bertapa oleh tokoh-tokoh spiritual di daerah Tabanan dan Bali pada umumnya. Pandangan tersebut didasarkan pada adanya penemuan sumber-sumber air dengan berbagai jenis arca Pancuran. Dari adanya sumber-sumber mata air tersebut dapat disimpulkan bahwa daerah ini pernah dijadikan tempat untuk bertapa bagi para pertapa (Wanaprastin) untuk mencari kedamaian hidupnya.

Pura Luhur Batukaru Temple, Bali - Indonesia
Pura Batukaru (Watukaru)

Sejarah Pura Luhur Batukaru

Informasi tentang sejarah Pura Luhur Batukaru ini sangat minim dan belum diketahui pasti siapa pendiri dan kapan berdiri nya, tetapi Pura Batukaru ini termasuk di dalam salah satu dari enam pura utama (Sad Kahyangan) di pulau Bali seperti yang disebutkan di dalam Lontar Kusuma Dewa. Pura Luhur Batukaru sudah ada pada abad ke-11 Masehi, sezaman dengan Pura Besakih, Pura Lempuyang Luhur, Pura Goa Lawah, Pura Luhur Uluwatu, dan Pura Pusering Jagat. Penggagas pembentukan dari Sad Kahyangan adalah Mpu Kuturan.

Setelah keberadaan Pura Batukaru pada abad ke-11 tersebut kita tidak mendapat keterangan dengan jelas bagaimana keadaan pura tersebut. Baru pada tahun 1605 Masehi ada keterangan dari kitab Babad Buleleng. Dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa Pura Luhur Batukaru pada tahun tersebut di atas dirusak oleh Raja Buleleng yang bernama Ki Gusti Ngurah Panji Sakti.

Dalam kitab babad tersebut diceritakan bahwa Kerajaan Buleleng sudah sangat aman dan tidak ada lagi musuh yang berani menyerangnya. Sang Raja ingin memperluas wilayahnya ke daerah Tabanan. Raja Ki Gusti Ngurah Panji Sakti dalam perjalanan menuju ke Tabanan bertemu dengan daerah Batukaru yang merupakan wilayah daerah Kerajaan Tabanan. Ki Gusti Ngurah Panji Sakti bersama prajuritnya kemudian merusak Pura Luhur Batukaru tersebut. Ketika Ki Panji Sakti dan prajuritnya merusak Pura Batukaru tiba-tiba datang ribuan tawon yang ganas menyerang dan menyengat mereka. Ki Panji Sakti beserta prajuritnya diserang habis-habisan oleh tawon yang ganas itu, kemudian Ki Panji Sakti dan prajurit nya mundur dan membatalkan niatnya untuk menyerang kerajaan Tabanan. Berkat ulah Ki Panji Sakti dan prajuritnya tersebut maka bangunan pelinggih Pura Batukaru rusak total dan tinggal puing-puing saja.

Baru kemudian pada tahun 1959 Pura Luhur Batukaru mendapat perbaikan sehingga bentuknya seperti sekarang ini. Pada tahun 1977 secara bertahap barulah ada perhatian dan bantuan dari pemerintah daerah dan sampai sekarang keadaan dan kondisi Pura Batukaru sudah semakin baik. Di Pura Luhur Batukaru ini selain terdapat bangunan utama, di sebelah timur nya juga terdapat sumber mata air yang terdiri atas dua bagian yaitu bagian yang berlokasi di dalam pura (jeroan) yang dipergunakan khusus untuk memohon air suci (tirtha) untuk keperluan upacara dan bagian yang kedua adalah untuk kepentingan mandi dan cuci muka sebagai pembersihan diri sebelum melakukan persembahyangan.

Di pura ini Dr. R. Goris, seorang ahli ilmu arkeologi, pernah mengadakan penelitian pada tahun 1928. Goris banyak menjumpai patung-patung yang jenisnya serupa dengan patung yang terdapat di Pura Goa Gajah yaitu patung yang mengeluarkan pancuran air dari pusarnya. Bedanya patung yang terdapat di Goa Gajah itu dalam posisi berdiri, sedangkan yang di Pura Batukaru dalam posisi duduk bersila. Menurut Goris, patung yang terdapat di Batukaru sejaman dengan patung yang terdapat di Pura Goa Gajah.Bangunan suci (Pelinggih) utama di Pura Batukaru adalah berbentuk Candi bukan Meru seperti kebanyakan pura yang ada di Bali. Ini sangat jelas dipengaruhi oleh arsitektur Jawa Timur dan India.

Upacara Piodalan Pura Batukaru

Pujawali atau Upacara piodalan di pura ini jatuh setiap 210 hari sekali yaitu pada hari Kamis, Wuku Dungulan (kalender Bali), satu hari setelah hari raya Galungan. Suatu hal yang unik di Pura Luhur Batukaru adalah pada saat proses upacara dilakukan dan upacara besar lainnya tidak pernah dipimpin oleh Pendeta/Pedanda. Upacara hanya dipimpin oleh Pemangku yang disebut Jero Kubayan.

Bagi mereka yang ingin sembahyang ke Pura Luhur Batukaru sangat direkomendasikan terlebih dahulu untuk bersembahyang di Pura Jero Taksu. Pura Jero Taksu terletak agak jauh dari Pura Batukaru.Tujuan persembahyangan di Pura Jero Taksu adalah untuk memohon agar proses sembahyang yang akan dilakukan nanti di Pura Luhur Batukaru akan mendapatkan keberhasilan dan tanpa rintangan. Pura Taksu ini merupakan bagian dari Pura Luhur Batukaru. Setelah itu barulah kemudian menuju ke pancuran dari mata air yang letaknya di bagian tenggara dari pura utama namun tetap berada dalam areal Pura Batukaru.

Pancuran dari mata air ini adalah bertujuan untuk menyucikan diri kita dengan berkumur, cuci muka dan cuci kaki, kemudian dilanjutkan dengan bersembahyang di Pelinggih yang ada di mata air tersebut sebagai tanda penyucian lahir batin (Skala dan Niskala) sebagai syarat utama agar pemujaan dapat dilakukan dengan jasmani dan rohani yang bersih dan suci.

Pura Luhur Batukaru adalah pura sebagai tempat memuja Tuhan dalam manifestasi-NYA sebagai Dewa Mahadewa. Karena fungsinya untuk memuja Tuhan sebagai Dewa yang menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dengan mempergunakan air secara benar, maka di Pura Batukaru ini disebut sebagai pemujaan Tuhan sebagai Ratu Hyang Tumuwuh (sebutan Tuhan sebagai yang menumbuhkan).

Pura Batukaru juga adalah sebagai Pura Padma Bhuwana yaitu sembilan pura yang terdapat di sembilan penjuru Pulau Bali. Pura Padma Bhuwana sebagai lambang pemujaan Tuhan yang ada di mana-mana di sembilan penjuru alam semesta. Tidak ada bagian alam semesta ini tanpa kehadiran Tuhan. Keberadaan Tuhan seperti itulah yang diekspresikan di sembilan pura di Pulau Bali.

Peta Lokasi Pura Batukaru

Lokasi Peta Pura Batukaru Bali oleh Google Maps



References: Babad Bali
Permalinks: Pura Batukaru: Tempat Suci di Lereng Gunung Batukaru Bali | Bali Glory

Pura Batukaru adalah sebuah tempat suci Hindu yang terletak tepat di lereng gunung Batukaru Bali, selain sebagai tempat untuk bersembahyang yang sangat di sucikan oleh masyarakat Hindu Bali, Pura Batukaru juga terkenal sebagai tempat wisata yang banyak dikunjungi oleh wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Bagi anda yang sedang liburan di Bali, mungkin bisa mencoba merasakan suasana tenang, damai serta segarnya udara pegunungan dengan mengunjungi obyek wisata Pura Batukaru ini.

Konten
Sejarah Pura Luhur Batukaru
Upacara Piodalan Pura Batukaru
Peta Lokasi Pura Batukaru

Pura Batukaru terletak di Desa Wongaya Gede, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali. Kurang lebih 46 Kilometer dari kota Denpasar, lokasi Pura Luhur Batukaru terletak di bagian barat Pulau Bali di lereng selatan Gunung Batukaru. Kemungkinan besar nama Pura Batukaru diambil dari nama Gunung Batukaru itu sendiri. Pura Luhur Batukaru adalah selain sebagai tempat suci agama Hindu juga sebagai salah satu objek wisata yang sangat digemari oleh wisatawan yang ingin menikmati kesegaran dan kedamaian yang terdapat di kawasan Pura Batukaru ini, biasanya wisatawan akan mengunjungi pura Batukaru setelah/sebelum mereka mengunjungi tempat wisata sawah terasering Jatiluwih karena letak kedua objek wisata ini tidak terlalu jauh. di kawasan Pura Batukaru ini kita tidak akan menjumpai toko-toko suvenir, warung ataupun artshop seperti tempat wisata lainnya sehingga di kawasan Pura Batukaru ini memang sebuah tempat yang jauh dari kebisingan dan kesuciannya selalu dijaga oleh masyarakat Bali. Wisatawan yang ingin mengunjungi Pura Luhur Batukaru ini harus menggunakan pakaian yang sopan agar kesucian pura tetap terjaga.

Pura yang lain untuk dikunjungi di Kabupaten Tabanan

Pura Batukaru kemungkinan sebelumnya sudah dijadikan tempat pemujaan dan tempat bertapa oleh tokoh-tokoh spiritual di daerah Tabanan dan Bali pada umumnya. Pandangan tersebut didasarkan pada adanya penemuan sumber-sumber air dengan berbagai jenis arca Pancuran. Dari adanya sumber-sumber mata air tersebut dapat disimpulkan bahwa daerah ini pernah dijadikan tempat untuk bertapa bagi para pertapa (Wanaprastin) untuk mencari kedamaian hidupnya.

Pura Luhur Batukaru Temple, Bali - Indonesia
Pura Batukaru (Watukaru)

Sejarah Pura Luhur Batukaru

Informasi tentang sejarah Pura Luhur Batukaru ini sangat minim dan belum diketahui pasti siapa pendiri dan kapan berdiri nya, tetapi Pura Batukaru ini termasuk di dalam salah satu dari enam pura utama (Sad Kahyangan) di pulau Bali seperti yang disebutkan di dalam Lontar Kusuma Dewa. Pura Luhur Batukaru sudah ada pada abad ke-11 Masehi, sezaman dengan Pura Besakih, Pura Lempuyang Luhur, Pura Goa Lawah, Pura Luhur Uluwatu, dan Pura Pusering Jagat. Penggagas pembentukan dari Sad Kahyangan adalah Mpu Kuturan.

Setelah keberadaan Pura Batukaru pada abad ke-11 tersebut kita tidak mendapat keterangan dengan jelas bagaimana keadaan pura tersebut. Baru pada tahun 1605 Masehi ada keterangan dari kitab Babad Buleleng. Dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa Pura Luhur Batukaru pada tahun tersebut di atas dirusak oleh Raja Buleleng yang bernama Ki Gusti Ngurah Panji Sakti.

Dalam kitab babad tersebut diceritakan bahwa Kerajaan Buleleng sudah sangat aman dan tidak ada lagi musuh yang berani menyerangnya. Sang Raja ingin memperluas wilayahnya ke daerah Tabanan. Raja Ki Gusti Ngurah Panji Sakti dalam perjalanan menuju ke Tabanan bertemu dengan daerah Batukaru yang merupakan wilayah daerah Kerajaan Tabanan. Ki Gusti Ngurah Panji Sakti bersama prajuritnya kemudian merusak Pura Luhur Batukaru tersebut. Ketika Ki Panji Sakti dan prajuritnya merusak Pura Batukaru tiba-tiba datang ribuan tawon yang ganas menyerang dan menyengat mereka. Ki Panji Sakti beserta prajuritnya diserang habis-habisan oleh tawon yang ganas itu, kemudian Ki Panji Sakti dan prajurit nya mundur dan membatalkan niatnya untuk menyerang kerajaan Tabanan. Berkat ulah Ki Panji Sakti dan prajuritnya tersebut maka bangunan pelinggih Pura Batukaru rusak total dan tinggal puing-puing saja.

Baru kemudian pada tahun 1959 Pura Luhur Batukaru mendapat perbaikan sehingga bentuknya seperti sekarang ini. Pada tahun 1977 secara bertahap barulah ada perhatian dan bantuan dari pemerintah daerah dan sampai sekarang keadaan dan kondisi Pura Batukaru sudah semakin baik. Di Pura Luhur Batukaru ini selain terdapat bangunan utama, di sebelah timur nya juga terdapat sumber mata air yang terdiri atas dua bagian yaitu bagian yang berlokasi di dalam pura (jeroan) yang dipergunakan khusus untuk memohon air suci (tirtha) untuk keperluan upacara dan bagian yang kedua adalah untuk kepentingan mandi dan cuci muka sebagai pembersihan diri sebelum melakukan persembahyangan.

Di pura ini Dr. R. Goris, seorang ahli ilmu arkeologi, pernah mengadakan penelitian pada tahun 1928. Goris banyak menjumpai patung-patung yang jenisnya serupa dengan patung yang terdapat di Pura Goa Gajah yaitu patung yang mengeluarkan pancuran air dari pusarnya. Bedanya patung yang terdapat di Goa Gajah itu dalam posisi berdiri, sedangkan yang di Pura Batukaru dalam posisi duduk bersila. Menurut Goris, patung yang terdapat di Batukaru sejaman dengan patung yang terdapat di Pura Goa Gajah.Bangunan suci (Pelinggih) utama di Pura Batukaru adalah berbentuk Candi bukan Meru seperti kebanyakan pura yang ada di Bali. Ini sangat jelas dipengaruhi oleh arsitektur Jawa Timur dan India.

Upacara Piodalan Pura Batukaru

Pujawali atau Upacara piodalan di pura ini jatuh setiap 210 hari sekali yaitu pada hari Kamis, Wuku Dungulan (kalender Bali), satu hari setelah hari raya Galungan. Suatu hal yang unik di Pura Luhur Batukaru adalah pada saat proses upacara dilakukan dan upacara besar lainnya tidak pernah dipimpin oleh Pendeta/Pedanda. Upacara hanya dipimpin oleh Pemangku yang disebut Jero Kubayan.

Bagi mereka yang ingin sembahyang ke Pura Luhur Batukaru sangat direkomendasikan terlebih dahulu untuk bersembahyang di Pura Jero Taksu. Pura Jero Taksu terletak agak jauh dari Pura Batukaru.Tujuan persembahyangan di Pura Jero Taksu adalah untuk memohon agar proses sembahyang yang akan dilakukan nanti di Pura Luhur Batukaru akan mendapatkan keberhasilan dan tanpa rintangan. Pura Taksu ini merupakan bagian dari Pura Luhur Batukaru. Setelah itu barulah kemudian menuju ke pancuran dari mata air yang letaknya di bagian tenggara dari pura utama namun tetap berada dalam areal Pura Batukaru.

Pancuran dari mata air ini adalah bertujuan untuk menyucikan diri kita dengan berkumur, cuci muka dan cuci kaki, kemudian dilanjutkan dengan bersembahyang di Pelinggih yang ada di mata air tersebut sebagai tanda penyucian lahir batin (Skala dan Niskala) sebagai syarat utama agar pemujaan dapat dilakukan dengan jasmani dan rohani yang bersih dan suci.

Pura Luhur Batukaru adalah pura sebagai tempat memuja Tuhan dalam manifestasi-NYA sebagai Dewa Mahadewa. Karena fungsinya untuk memuja Tuhan sebagai Dewa yang menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dengan mempergunakan air secara benar, maka di Pura Batukaru ini disebut sebagai pemujaan Tuhan sebagai Ratu Hyang Tumuwuh (sebutan Tuhan sebagai yang menumbuhkan).

Pura Batukaru juga adalah sebagai Pura Padma Bhuwana yaitu sembilan pura yang terdapat di sembilan penjuru Pulau Bali. Pura Padma Bhuwana sebagai lambang pemujaan Tuhan yang ada di mana-mana di sembilan penjuru alam semesta. Tidak ada bagian alam semesta ini tanpa kehadiran Tuhan. Keberadaan Tuhan seperti itulah yang diekspresikan di sembilan pura di Pulau Bali.

Peta Lokasi Pura Batukaru

Lokasi Peta Pura Batukaru Bali oleh Google Maps



References: Babad Bali
Permalinks: Pura Batukaru: Tempat Suci di Lereng Gunung Batukaru Bali | Bali Glory

Senin, 31 Agustus 2015

Pura Tanah Lot Bali: Sejarah & Keindahan Tanah Lot Sunset Bali

Objek Wisata - Hallo sahabat WIsata Bali dan Sekitarnya, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Objek Wisata, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Objek Wisata, Artikel Pura, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Pura Tanah Lot Bali: Sejarah & Keindahan Tanah Lot Sunset Bali
link : Pura Tanah Lot Bali: Sejarah & Keindahan Tanah Lot Sunset Bali

Baca juga


Objek Wisata

Pura Tanah Lot Bali atau juga disebut Pura Luhur Tanah Lot adalah sebuah tempat suci agama Hindu yang mempunyai keindahan yang natural dengan Tanah Lot sunset Bali yang memukau, Pura Tanah Lot Bali terletak di tepi pantai Tanah Lot dan berdiri di atas sebuah batu karang laut yang kokoh dan kuat, disebelah baratnya juga terdapat pura yang disebut Pura Batu Bolong yang juga memiliki pemandangan yang tidak kalah indahnya. Tempat wisata Tanah Lot Bali pada saat sunset atau matahari terbenam adalah pemandangan yang terbaik dan sangat indah yang bisa kita nikmati ketika mengunjungi salah satu tempat/obyek wisata favorit yang terkenal di Pulau Bali ini dan akan menjadikan liburan di Bali anda tidak terlupakan dan penuh kesan. Tempat suci ini adalah salah satu dari Pura Kahyangan Jagat, pura yang sangat sakral dan suci serta sangat dijaga kesucian dan kelestariannya oleh masyarakat Pulau Dewata.

Tanah Lot berasal dari kata "Tanah" yang artinya tanah dan "Lot" (Lod) yang artinya laut, karena letaknya di laut atau di pantai seperti mengambang ketika air laut pasang maka dapat diartikan Tanah Lot berarti sebuah Tanah atau Pulau yang terletak di laut, oleh karena itu orang-orang pun menyebutnya Tanah Lot.

Pura Tanah Lot berlokasi di Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, di pesisir selatan pulau Bali kurang lebih 25 kilometer dari Kota Denpasar. Pura Tanah Lot terletak di atas batu karang laut besar menghadap ke samudra Hindia. Tempat ibadah ini adalah sebuah pura Hindu yang dibangun untuk memuja Tuhan dalam manifestasi-NYA sebagai Dewa Laut atau Dewa Baruna untuk keselamatan dan kesejahteraan dunia serta keseimbangan antara laut dan bumi.

Konten
Sejarah Pura Tanah Lot
Upacara atau Piodalan Pura Tanah Lot
Ular Suci Tanah Lot dan Mitos
Pemandangan Sunset dan Waktu Terbaik Mengunjungi Tanah Lot
Peta dan Lokasi

Sejarah Pura Tanah Lot

Sejarah berdirinya Pura Tanah Lot sangat erat kaitannya dengan perjalanan suci dari Blambangan (pulau Jawa) ke Pulau Bali dari seorang pendeta suci yang bernama DangHyang Nirartha untuk menyebarkan agama Hindu di pulau dewata, masyarakat juga menyebut Beliau dengan sebutan DangHyang Dwijendra atau Pedanda Sakti Wawu Rauh. Pemimpin (Raja) di Bali pada saat itu adalah Raja Dalem Waturenggong sekitar abad ke-16 Masehi.

Di dalam Dwijendra Tatwa di jelaskan suatu ketika Dang Hyang Nirartha kembali ke Pura Rambut Siwi dalam perjalanannya ke pulau Bali, dimana Beliau pertama kali tiba di Bali dari Blambangan pada tahun Saka 1411 atau 1489 Masehi, Beliau telah berhenti di Pura Rambut Siwi ini. Ketika berada di Pura ini untuk beberapa saat, kemudian Beliau melanjutkan perjalanannya menuju Timur (Purwa) dan sebelum meninggalkan tempat itu Beliau menyempatkan diri untuk melakukan upacara "Surya Cewana" dengan masyarakat disekitar sana, setelah memercikkan air suci (tirtha) kepada masyarakat yang ikut bergabung dalam persembahyangan kemudian Beliau meninggalkan pura dan berjalan melanjutkan perjalanan ke Timur, perjalanan Beliau melewati pesisir pantai selatan pulau Bali dan diikuti oleh beberapa pengikut setia Beliau.

Pura Tanah Lot Bali- Sejarah dan Tanah Lot Sunset Bali - Indonesia
Foto credit: Komang Gede via Flickr

Di dalam perjalanan suci ini Dang Hyang Nirartha sangat menikmati dan kagum dengan keindahan pesisir pantai selatan Bali dengan keindahan yang alami yang sangat menarik. Beliau membayangkan bagaimana kebesaran Ida Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) telah menciptakan dunia dan beserta isinya untuk kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Dalam hati Beliau terbisik bahwa tugas seluruh makhluk hidup di dunia khususnya manusia untuk berterima kasih dan menjaga apa yang telah diciptakan-NYA.

Setelah melakukan perjalanan yang panjang akhirnya Dang Hyang Nirartha tiba dan berhenti di sebuah pantai yang terdapat batu karang dan juga terdapat mata air, batu karang itu disebut Gili Beo, "Gili" artinya pulau kecil dan "Beo" artinya burung, jadi Gili Beo berarti pulau kecil yang menyerupai burung. Pada waktu itu di kawasan Desa Beraban ini di pimpin oleh Bendesa Beraban Sakti, kemudian di tempat inilah DangHyang Nirartha berhenti dan beristirahat, tidak lama Beliau beristirahat datanglah para nelayan yang ingin bertemu dengan Beliau dan membawakan beberapa persembahan untuk Beliau, dan setelah senja tiba mereka memohon kepada Beliau untuk bermalam di rumah mereka, tetapi permohonan mereka ditolak oleh Beliau dan Beliau lebih memilih untuk bermalam di Gili Beo karena di tempat ini Beliau bisa menikmati udara yang segar dengan pemandangan yang indah dan bisa melepaskan pandangan ke segala arah. Pada malam hari sebelum Beliau beristirahat, Beliau menyempatkan diri untuk mengajarkan agama dan moral kepada masyarakat yang datang kepada Beliau, tetapi kehadiran Dang Hyang Nirartha ini tidak disukai oleh Bendesa Beraban Sakti, karena ajaran-ajarannya tidak sesuai dan tidak searah dengan ajaran-ajaran dari Dang Hyang Nirartha dan ini membuat Bendesa Beraban Sakti menjadi marah dan dia mengundang pengikut-pengikutnya untuk mengusir DangHyang Nirartha dari kawasan itu, kemudian untuk memproteksi diri Beliau dari agresi Bendesa Beraban Sakti akhirnya dengan kekuatan supranatural Beliau kemudian Gili Beo dipindahkan agak ketengah ke laut dan Beliau menciptakan ular dari selendang yang Beliau pakai untuk menjaga Gili Beo agar selalu aman dari serangan-serangan jahat. Kemudian setelah kejadian itu Gili Beo berubah nama menjadi Tanah Lot (Tanah di laut), setelah melihat keajaiban dari DangHyang Nirartha akhirnya Bendesa Beraban Sakti menyerah dan kemudian dia menjadi pengikut setia Beliau untuk melanjutkan mengajarkan agama Hindu kepada masyarakat, dan untuk jasanya itu Dang Hyang Nirartha memberikan sebuah keris kepada Bendesa Beraban Sakti sebelum Beliau melanjutkan perjalanan suci nya (Keris adalah sebuah belati asimetris khas dari Indonesia yang dipakai sebagai senjata dan juga objek spiritual, keris sering dianggap memiliki kekuatan magis. Awal keris dikenal atau dibuat pada sekitar abad 1360 Masehi dan mungkin menyebar dari pulau ke pulau di seluruh Asia Tenggara). Keris yang diberikan kepada Bendesa Beraban Sakti disebut Jaramenara atau keris Ki Baru Gajah, sampai sekarang keris itu disimpan dengan baik dan sucikan di Puri Kediri. Pada saat itu DangHyang Nirartha menyarankan kepada masyarakat untuk membuat pura (parahyangan) di Tanah Lot karena menurut getaran suci dan bimbingan supranatural Beliau di tempat ini adalah sebuah tempat yang sangat baik untuk memuja Tuhan, dari tempat ini kemudian masyarakat bisa menyembah kebesaran Tuhan dalam manifestasi-NYA sebagai Dewa Laut untuk keselamatan dan kesejahteraan dunia.

Terdapat 8 pura suci yang ada disekitar area Tanah Lot, masing-masing dengan fungsi dan tujuan sendiri.

  1. Pura Penataran - berlokasi di bagian utara dari Pura Tanah Lot, pura untuk memuja Tuhan dan manifestasi-NYA untuk kebahagiaan dan kesejahteraan.
  2. Pura Penyawang - berlokasi di bagian barat dari Pura Penataran, ini adalah tempat alternatif untuk bersembahyang karena pada saat air laut pasang orang-orang yang ingin bersembahyang tidak bisa naik dan masuk ke Pura Tanah Lot.
  3. Pura Jero Kandang - berlokasi sekitar 100 meter di sebelah barat Pura Penyawang, pura ini dibangun untuk memohon kepada Tuhan agar diberikan kesejahteraan dan keselamatan bagi ternak dan tanaman.
  4. Pura Enjung Galuh - berlokasi dekat dengan Pura Jero Kandang, pura ini dibangun untuk memuja Dewi Sri untuk kesuburan tanah dan pertanian.
  5. Pura Batu Bolong - berlokasi sekitar 100 meter disebelah barat Pura Enjung Galuh, pura ini digunakan pada saat upacara Melasti atau upacara penyucian.
  6. Pura Batu Mejan - berlokasi kurang lebih 100 meter pada bagian barat Pura Batu Bolong, Pura Batu Mejan juga disebut Pura Beji. Beji berarti mata air dalam bahasa Bali, masyarakat percaya bahwa air suci dari mata air ini bisa menyucikan segala sesuatu dari keburukan atau unsur-unsur negatif.
  7. Monumen Tri Antaka - Monumen ini dibuat untuk menghormati 3 pahlawan Bali, yaitu: I gusti Ketut Kereg, I Wayan Kamias dan I Nyoman Regug, yang telah berperang untuk mempertahankan pulau Bali dari penjajah tentara NICA (Netherlands Indies Civil Administration) pada Juni 1946 di kawasan Tanah Lot.
  8. Pura Pakendungan - Berlokasi di bagian Barat kira-kira 300 meter dari Pura Tanah Lot. Di Pura Pekendungan inilah tempat dimana Dang Hyang Nirartha bermeditasi dan juga ditempat inilah keris sakti Jaramenara diberikan kepada Bendesa Beraban Sakti.

Pada tahun 1980, bagian pinggir karang Pura Tanah Lot terkikis karena mengalami abrasi dan menjadikan area di tempat suci ini berbahaya bagi keselamatan pengunjung dan pemedek (Pemedek: orang-orang yang ingin bersembahyang di pura). Maka dilakukanlah proyek yang didukung oleh pemerintah Jepang dan Jerman untuk menanggulangi hal ini dan untuk menjaga pura yang bersejarah ini agar tetap berdiri kokoh di atas batu karang laut.

Pura yang lainnya yang terdapat di Kabupaten Tabanan

Upacara atau Piodalan Pura Tanah Lot

Upacara Piodalan Pura Tanah Lot Temple
Tanah Lot Temple Anniversary

Upacara di Pura Tanah Lot (Upacara di pura dalam bahasa Bali disebut Piodalan/Pujawali) dilaksanakan atau diadakan setiap 210 hari (6 bulan) menurut kalender Bali/kalender Saka, piodalan di pura Tanah Lot jatuh pada hari Buda Wage Langkir, 4 hari setelah Hari Raya Kuningan. Sebelum pemedek memasuki pura, mereka pertama-tama harus bersembahyang di Beji Kaler, Tanah Lot: Bali: Pura di atas Karang Laut & View Indah Sunset Beji Kaler adalah sebuah mata air suci yang berada tepat dibawah Pura Tanah Lot. Sebelum mereka memasuki pura utama, mereka harus bersembahyang dan meminum dan membasuh wajah mereka dengan air yang diambil dari mata air suci Beji Kaler ini dengan tujuan agar jiwa dan pikiran mereka bersih sebelum masuk dan melakukan persembahyangan di Pura Luhur Tanah Lot. Selama upacara/piodalan di Pura Tanah Lot, masyarakat Bali khususnya yang beragama Hindu akan datang untuk melakukan persembahyangan agar memperoleh keselamatan dan kesejahteraan, bahkan banyak dari mereka juga datang dari daerah lain di Indonesia. Upacara di Pura Tanah Lot dilakukan/diadakan (Nyejer) selama 3 hari.

Ular Suci Tanah Lot dan Mitos

Mitos dan Ular Suci Tanah Lot
Ular Suci Pura Tanah Lot

Keunikan dari Tanah Lot adalah terkait dengan mitos dari masyarakat setempat tentang ular suci yang ada di Pura Tanah Lot, ular suci Tanah Lot dipercaya sebagai penjaga dan penyelamat dari Pura Tanah Lot dari serangan-serangan jahat yang mengganggu kesucian pura. Jenis ular itu dari bahasa Latin bernama Bungarus Candidus, ular laut yang sangat berbisa dan berbahaya, pada tubuhnya mempunyai warna hitam dan putih melingkar. Ular suci ini akan menyerang siapa saja yang ingin berbuat jahat dan ingin merusak keberadaan dan kesucian Pura Tanah Lot, tetapi meskipun begitu ular suci ini akan tetap diam dan tenang di dalam goa yang terdapat di sudut karang yang ada di dekat Pura Tanah Lot, bahkan pengunjung pun bisa menyentuh dan mengelus-elus ular suci ini tanpa khawatir akan serangan balik dari ular ini dan tentu saja kita akan ditemani oleh seseorang yang mengerti akan karakter dari ular suci ini. Masyarakat setempat juga mempercayai dengan menyentuh ular suci ini sambil berdoa maka apa yang kita inginkan akan terkabulkan, sebuah mitos yang boleh dipercaya atau tidak.

Pemandangan Sunset dan Waktu Terbaik Mengunjungi Tanah Lot

Tanah Lot adalah daerah tujuan wisata yang sangat terkenal di dunia, dan menjadi salah satu obyek wisata terbaik di pulau Bali serta salah satu tempat wisata favorit untuk menikmati keindahan sunset/matahari tenggelam di pulau dewata. Setiap hari objek wisata ini dikunjungi oleh ribuan wisatawan baik wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. Banyak turis/wisatawan bertanya jam berapa sunset di Tanah Lot? untuk bisa menikmati keindahan Pura Tanah Lot dengan pemandangan sunset view yang keren, direkomendasikan mengunjungi Tanah Lot pada senja atau sore hari dengan cuaca yang cerah, dari sekitar jam 4 sore sampai jam 7 petang/malam adalah waktu yang terbaik untuk mengunjungi Tanah Lot karena pada jam-jam itu dengan cuaca yang cerah kita bisa menikmati keindahan sunset/matahari terbenam yang spektakular. Selain itu pengunjung juga bisa berjalan-jalan dan berada dekat dengan batu karang dari areal pura pada saat air laut surut, tetapi sangat berbahaya dan tidak dianjurkan melakukan hal itu pada air laut pasang. Tempat wisata Tanah Lot juga sangat cocok dijadikan sebagai liburan keluarga, dalam kawasan ini juga terdapat fasilitas yang memadai seperti hotel, restoran, sunset teras, Tanah Lot cultural park, toko suvenir, tempat parkir yang luas, fasilitas emergensi, fasilitas keamanan sekuriti (security), toilet, tempat bersantai dan juga pusat informasi.

Peta dan Lokasi

Lokasi dan Peta Tanah Lot, Bali oleh Google Maps

Referensi : Situs resmi Tanah Lot
Permalink: Pura Tanah Lot Bali: Sejarah & Keindahan Tanah Lot Sunset Bali | Bali Glory

Pura Tanah Lot Bali atau juga disebut Pura Luhur Tanah Lot adalah sebuah tempat suci agama Hindu yang mempunyai keindahan yang natural dengan Tanah Lot sunset Bali yang memukau, Pura Tanah Lot Bali terletak di tepi pantai Tanah Lot dan berdiri di atas sebuah batu karang laut yang kokoh dan kuat, disebelah baratnya juga terdapat pura yang disebut Pura Batu Bolong yang juga memiliki pemandangan yang tidak kalah indahnya. Tempat wisata Tanah Lot Bali pada saat sunset atau matahari terbenam adalah pemandangan yang terbaik dan sangat indah yang bisa kita nikmati ketika mengunjungi salah satu tempat/obyek wisata favorit yang terkenal di Pulau Bali ini dan akan menjadikan liburan di Bali anda tidak terlupakan dan penuh kesan. Tempat suci ini adalah salah satu dari Pura Kahyangan Jagat, pura yang sangat sakral dan suci serta sangat dijaga kesucian dan kelestariannya oleh masyarakat Pulau Dewata.

Tanah Lot berasal dari kata "Tanah" yang artinya tanah dan "Lot" (Lod) yang artinya laut, karena letaknya di laut atau di pantai seperti mengambang ketika air laut pasang maka dapat diartikan Tanah Lot berarti sebuah Tanah atau Pulau yang terletak di laut, oleh karena itu orang-orang pun menyebutnya Tanah Lot.

Pura Tanah Lot berlokasi di Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, di pesisir selatan pulau Bali kurang lebih 25 kilometer dari Kota Denpasar. Pura Tanah Lot terletak di atas batu karang laut besar menghadap ke samudra Hindia. Tempat ibadah ini adalah sebuah pura Hindu yang dibangun untuk memuja Tuhan dalam manifestasi-NYA sebagai Dewa Laut atau Dewa Baruna untuk keselamatan dan kesejahteraan dunia serta keseimbangan antara laut dan bumi.

Konten
Sejarah Pura Tanah Lot
Upacara atau Piodalan Pura Tanah Lot
Ular Suci Tanah Lot dan Mitos
Pemandangan Sunset dan Waktu Terbaik Mengunjungi Tanah Lot
Peta dan Lokasi

Sejarah Pura Tanah Lot

Sejarah berdirinya Pura Tanah Lot sangat erat kaitannya dengan perjalanan suci dari Blambangan (pulau Jawa) ke Pulau Bali dari seorang pendeta suci yang bernama DangHyang Nirartha untuk menyebarkan agama Hindu di pulau dewata, masyarakat juga menyebut Beliau dengan sebutan DangHyang Dwijendra atau Pedanda Sakti Wawu Rauh. Pemimpin (Raja) di Bali pada saat itu adalah Raja Dalem Waturenggong sekitar abad ke-16 Masehi.

Di dalam Dwijendra Tatwa di jelaskan suatu ketika Dang Hyang Nirartha kembali ke Pura Rambut Siwi dalam perjalanannya ke pulau Bali, dimana Beliau pertama kali tiba di Bali dari Blambangan pada tahun Saka 1411 atau 1489 Masehi, Beliau telah berhenti di Pura Rambut Siwi ini. Ketika berada di Pura ini untuk beberapa saat, kemudian Beliau melanjutkan perjalanannya menuju Timur (Purwa) dan sebelum meninggalkan tempat itu Beliau menyempatkan diri untuk melakukan upacara "Surya Cewana" dengan masyarakat disekitar sana, setelah memercikkan air suci (tirtha) kepada masyarakat yang ikut bergabung dalam persembahyangan kemudian Beliau meninggalkan pura dan berjalan melanjutkan perjalanan ke Timur, perjalanan Beliau melewati pesisir pantai selatan pulau Bali dan diikuti oleh beberapa pengikut setia Beliau.

Pura Tanah Lot Bali- Sejarah dan Tanah Lot Sunset Bali - Indonesia
Foto credit: Komang Gede via Flickr

Di dalam perjalanan suci ini Dang Hyang Nirartha sangat menikmati dan kagum dengan keindahan pesisir pantai selatan Bali dengan keindahan yang alami yang sangat menarik. Beliau membayangkan bagaimana kebesaran Ida Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) telah menciptakan dunia dan beserta isinya untuk kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Dalam hati Beliau terbisik bahwa tugas seluruh makhluk hidup di dunia khususnya manusia untuk berterima kasih dan menjaga apa yang telah diciptakan-NYA.

Setelah melakukan perjalanan yang panjang akhirnya Dang Hyang Nirartha tiba dan berhenti di sebuah pantai yang terdapat batu karang dan juga terdapat mata air, batu karang itu disebut Gili Beo, "Gili" artinya pulau kecil dan "Beo" artinya burung, jadi Gili Beo berarti pulau kecil yang menyerupai burung. Pada waktu itu di kawasan Desa Beraban ini di pimpin oleh Bendesa Beraban Sakti, kemudian di tempat inilah DangHyang Nirartha berhenti dan beristirahat, tidak lama Beliau beristirahat datanglah para nelayan yang ingin bertemu dengan Beliau dan membawakan beberapa persembahan untuk Beliau, dan setelah senja tiba mereka memohon kepada Beliau untuk bermalam di rumah mereka, tetapi permohonan mereka ditolak oleh Beliau dan Beliau lebih memilih untuk bermalam di Gili Beo karena di tempat ini Beliau bisa menikmati udara yang segar dengan pemandangan yang indah dan bisa melepaskan pandangan ke segala arah. Pada malam hari sebelum Beliau beristirahat, Beliau menyempatkan diri untuk mengajarkan agama dan moral kepada masyarakat yang datang kepada Beliau, tetapi kehadiran Dang Hyang Nirartha ini tidak disukai oleh Bendesa Beraban Sakti, karena ajaran-ajarannya tidak sesuai dan tidak searah dengan ajaran-ajaran dari Dang Hyang Nirartha dan ini membuat Bendesa Beraban Sakti menjadi marah dan dia mengundang pengikut-pengikutnya untuk mengusir DangHyang Nirartha dari kawasan itu, kemudian untuk memproteksi diri Beliau dari agresi Bendesa Beraban Sakti akhirnya dengan kekuatan supranatural Beliau kemudian Gili Beo dipindahkan agak ketengah ke laut dan Beliau menciptakan ular dari selendang yang Beliau pakai untuk menjaga Gili Beo agar selalu aman dari serangan-serangan jahat. Kemudian setelah kejadian itu Gili Beo berubah nama menjadi Tanah Lot (Tanah di laut), setelah melihat keajaiban dari DangHyang Nirartha akhirnya Bendesa Beraban Sakti menyerah dan kemudian dia menjadi pengikut setia Beliau untuk melanjutkan mengajarkan agama Hindu kepada masyarakat, dan untuk jasanya itu Dang Hyang Nirartha memberikan sebuah keris kepada Bendesa Beraban Sakti sebelum Beliau melanjutkan perjalanan suci nya (Keris adalah sebuah belati asimetris khas dari Indonesia yang dipakai sebagai senjata dan juga objek spiritual, keris sering dianggap memiliki kekuatan magis. Awal keris dikenal atau dibuat pada sekitar abad 1360 Masehi dan mungkin menyebar dari pulau ke pulau di seluruh Asia Tenggara). Keris yang diberikan kepada Bendesa Beraban Sakti disebut Jaramenara atau keris Ki Baru Gajah, sampai sekarang keris itu disimpan dengan baik dan sucikan di Puri Kediri. Pada saat itu DangHyang Nirartha menyarankan kepada masyarakat untuk membuat pura (parahyangan) di Tanah Lot karena menurut getaran suci dan bimbingan supranatural Beliau di tempat ini adalah sebuah tempat yang sangat baik untuk memuja Tuhan, dari tempat ini kemudian masyarakat bisa menyembah kebesaran Tuhan dalam manifestasi-NYA sebagai Dewa Laut untuk keselamatan dan kesejahteraan dunia.

Terdapat 8 pura suci yang ada disekitar area Tanah Lot, masing-masing dengan fungsi dan tujuan sendiri.

  1. Pura Penataran - berlokasi di bagian utara dari Pura Tanah Lot, pura untuk memuja Tuhan dan manifestasi-NYA untuk kebahagiaan dan kesejahteraan.
  2. Pura Penyawang - berlokasi di bagian barat dari Pura Penataran, ini adalah tempat alternatif untuk bersembahyang karena pada saat air laut pasang orang-orang yang ingin bersembahyang tidak bisa naik dan masuk ke Pura Tanah Lot.
  3. Pura Jero Kandang - berlokasi sekitar 100 meter di sebelah barat Pura Penyawang, pura ini dibangun untuk memohon kepada Tuhan agar diberikan kesejahteraan dan keselamatan bagi ternak dan tanaman.
  4. Pura Enjung Galuh - berlokasi dekat dengan Pura Jero Kandang, pura ini dibangun untuk memuja Dewi Sri untuk kesuburan tanah dan pertanian.
  5. Pura Batu Bolong - berlokasi sekitar 100 meter disebelah barat Pura Enjung Galuh, pura ini digunakan pada saat upacara Melasti atau upacara penyucian.
  6. Pura Batu Mejan - berlokasi kurang lebih 100 meter pada bagian barat Pura Batu Bolong, Pura Batu Mejan juga disebut Pura Beji. Beji berarti mata air dalam bahasa Bali, masyarakat percaya bahwa air suci dari mata air ini bisa menyucikan segala sesuatu dari keburukan atau unsur-unsur negatif.
  7. Monumen Tri Antaka - Monumen ini dibuat untuk menghormati 3 pahlawan Bali, yaitu: I gusti Ketut Kereg, I Wayan Kamias dan I Nyoman Regug, yang telah berperang untuk mempertahankan pulau Bali dari penjajah tentara NICA (Netherlands Indies Civil Administration) pada Juni 1946 di kawasan Tanah Lot.
  8. Pura Pakendungan - Berlokasi di bagian Barat kira-kira 300 meter dari Pura Tanah Lot. Di Pura Pekendungan inilah tempat dimana Dang Hyang Nirartha bermeditasi dan juga ditempat inilah keris sakti Jaramenara diberikan kepada Bendesa Beraban Sakti.

Pada tahun 1980, bagian pinggir karang Pura Tanah Lot terkikis karena mengalami abrasi dan menjadikan area di tempat suci ini berbahaya bagi keselamatan pengunjung dan pemedek (Pemedek: orang-orang yang ingin bersembahyang di pura). Maka dilakukanlah proyek yang didukung oleh pemerintah Jepang dan Jerman untuk menanggulangi hal ini dan untuk menjaga pura yang bersejarah ini agar tetap berdiri kokoh di atas batu karang laut.

Pura yang lainnya yang terdapat di Kabupaten Tabanan

Upacara atau Piodalan Pura Tanah Lot

Upacara Piodalan Pura Tanah Lot Temple
Tanah Lot Temple Anniversary

Upacara di Pura Tanah Lot (Upacara di pura dalam bahasa Bali disebut Piodalan/Pujawali) dilaksanakan atau diadakan setiap 210 hari (6 bulan) menurut kalender Bali/kalender Saka, piodalan di pura Tanah Lot jatuh pada hari Buda Wage Langkir, 4 hari setelah Hari Raya Kuningan. Sebelum pemedek memasuki pura, mereka pertama-tama harus bersembahyang di Beji Kaler, Tanah Lot: Bali: Pura di atas Karang Laut & View Indah Sunset Beji Kaler adalah sebuah mata air suci yang berada tepat dibawah Pura Tanah Lot. Sebelum mereka memasuki pura utama, mereka harus bersembahyang dan meminum dan membasuh wajah mereka dengan air yang diambil dari mata air suci Beji Kaler ini dengan tujuan agar jiwa dan pikiran mereka bersih sebelum masuk dan melakukan persembahyangan di Pura Luhur Tanah Lot. Selama upacara/piodalan di Pura Tanah Lot, masyarakat Bali khususnya yang beragama Hindu akan datang untuk melakukan persembahyangan agar memperoleh keselamatan dan kesejahteraan, bahkan banyak dari mereka juga datang dari daerah lain di Indonesia. Upacara di Pura Tanah Lot dilakukan/diadakan (Nyejer) selama 3 hari.

Ular Suci Tanah Lot dan Mitos

Mitos dan Ular Suci Tanah Lot
Ular Suci Pura Tanah Lot

Keunikan dari Tanah Lot adalah terkait dengan mitos dari masyarakat setempat tentang ular suci yang ada di Pura Tanah Lot, ular suci Tanah Lot dipercaya sebagai penjaga dan penyelamat dari Pura Tanah Lot dari serangan-serangan jahat yang mengganggu kesucian pura. Jenis ular itu dari bahasa Latin bernama Bungarus Candidus, ular laut yang sangat berbisa dan berbahaya, pada tubuhnya mempunyai warna hitam dan putih melingkar. Ular suci ini akan menyerang siapa saja yang ingin berbuat jahat dan ingin merusak keberadaan dan kesucian Pura Tanah Lot, tetapi meskipun begitu ular suci ini akan tetap diam dan tenang di dalam goa yang terdapat di sudut karang yang ada di dekat Pura Tanah Lot, bahkan pengunjung pun bisa menyentuh dan mengelus-elus ular suci ini tanpa khawatir akan serangan balik dari ular ini dan tentu saja kita akan ditemani oleh seseorang yang mengerti akan karakter dari ular suci ini. Masyarakat setempat juga mempercayai dengan menyentuh ular suci ini sambil berdoa maka apa yang kita inginkan akan terkabulkan, sebuah mitos yang boleh dipercaya atau tidak.

Pemandangan Sunset dan Waktu Terbaik Mengunjungi Tanah Lot

Tanah Lot adalah daerah tujuan wisata yang sangat terkenal di dunia, dan menjadi salah satu obyek wisata terbaik di pulau Bali serta salah satu tempat wisata favorit untuk menikmati keindahan sunset/matahari tenggelam di pulau dewata. Setiap hari objek wisata ini dikunjungi oleh ribuan wisatawan baik wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. Banyak turis/wisatawan bertanya jam berapa sunset di Tanah Lot? untuk bisa menikmati keindahan Pura Tanah Lot dengan pemandangan sunset view yang keren, direkomendasikan mengunjungi Tanah Lot pada senja atau sore hari dengan cuaca yang cerah, dari sekitar jam 4 sore sampai jam 7 petang/malam adalah waktu yang terbaik untuk mengunjungi Tanah Lot karena pada jam-jam itu dengan cuaca yang cerah kita bisa menikmati keindahan sunset/matahari terbenam yang spektakular. Selain itu pengunjung juga bisa berjalan-jalan dan berada dekat dengan batu karang dari areal pura pada saat air laut surut, tetapi sangat berbahaya dan tidak dianjurkan melakukan hal itu pada air laut pasang. Tempat wisata Tanah Lot juga sangat cocok dijadikan sebagai liburan keluarga, dalam kawasan ini juga terdapat fasilitas yang memadai seperti hotel, restoran, sunset teras, Tanah Lot cultural park, toko suvenir, tempat parkir yang luas, fasilitas emergensi, fasilitas keamanan sekuriti (security), toilet, tempat bersantai dan juga pusat informasi.

Peta dan Lokasi

Lokasi dan Peta Tanah Lot, Bali oleh Google Maps

Referensi : Situs resmi Tanah Lot
Permalink: Pura Tanah Lot Bali: Sejarah & Keindahan Tanah Lot Sunset Bali | Bali Glory

Sabtu, 22 Agustus 2015

Alas Kedaton: Suaka Alam Hutan Monyet/Kera Sakral Bali

Objek Wisata - Hallo sahabat WIsata Bali dan Sekitarnya, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Objek Wisata, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Hutan Monyet, Artikel Objek Wisata, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Alas Kedaton: Suaka Alam Hutan Monyet/Kera Sakral Bali
link : Alas Kedaton: Suaka Alam Hutan Monyet/Kera Sakral Bali

Baca juga


Objek Wisata

Hutan monyet Alas Kedaton adalah salah satu suaka alam hutan kera yang terkenal di pulau Bali, mempunyai luas kurang lebih 6.4 hektar yang dihuni oleh ratusan kera dan kelelawar besar (kalong). Nama Alas Kedaton diambil dari kata "alas" yang berarti hutan/rimba dan "kedaton" yang artinya istana (keraton), hutan kera Alas Kedaton terletak di Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, kurang lebih 35 kilometer ditempuh dari Kota Denpasar. Hutan Kedaton adalah sebuah hutan hujan kecil yang merupakan hutan monyet yang sakral dan sangat dijaga oleh masyarakat Pulau Dewata.

Konten
Monyet/Kera di Hutan Alas Kedaton
Pura Alas Kedaton
Peta Hutan Kera/Monyet Alas Kedaton

Monyet/Kera di Hutan Alas Kedaton

Spesies kera/monyet yang ada di pulau Bali dan juga yang menghuni hutan Alas Kedaton adalah berjenis crab-eating macaque (bahasa latin nya adalah Macaca Fascicularis) juga disebut long-tailed macaque. Jenis monyet ini adalah merupakan penghuni asli primata cercopithecine di Asia Tenggara, monyet ini juga disebut sebagai monyet cynomolgus di laboratorium, dan memiliki sejarah yang panjang bersama manusia. Mereka juga dianggap sebagai hama pertanian, sebagai hewan suci di beberapa kuil dan pura, dan juga sebagai subjek percobaan medis. Kera jenis ini hidup dalam kelompok sosial matrilineal dengan dominasi hirarki betina di alam liar, dan anggota jantan akan meninggalkan kelompok mereka ketika mencapai pubertas/dewasa.

Hutan monyet Alas kedaton - hutan kera - monkey forest - obyek wisata
Hutan Monyet Alas Kedaton, Bali

Monyet jenis ini ketika dewasa mempunyai panjang tubuh yang bervariasi antara 38-55 cm (15-22 inchi) dengan lengan dan kaki yang relatif pendek. Kera yang berkelamin jantan jauh lebih besar dari yang betina, dengan berat 5-9 kilogram dibandingkan dengan yang betina antara 3-6 kg Alas Kedaton: Bali: Suaka Alam Hutan Monyet/Kera Sakral. Mempunyai ekor lebih panjang daripada tubuh nya, biasanya antara 40-65 cm (16-26 inchi) yang digunakan untuk keseimbangan ketika mereka melompat dengan jarak hingga 5 meter (16,4 kaki). Bagian atas tubuh nya berwarna coklat gelap dengan coklat muda keemasan. Bagian bawah berwarna abu-abu muda dengan abu-abu gelap/coklat pada bagian ekor. Kera jenis ini memiliki rambut yang kadang-kadang berbentuk garis puncak pendek dari kepala ke belakang sampai pada punggung nya. Kulit mereka hitam pada kaki dan telinga, sedangkan kulit di moncong adalah warna merah muda keabu-abuan. Kelopak mata sering memiliki tanda putih menonjol dan kadang-kadang ada bintik-bintik putih di telinga. Pada jantan memiliki karakteristik kumis dan pipi kumis, sementara pada betina hanya memiliki kumis pipi. Monyet ini memiliki kantong pipi yang mereka gunakan untuk menyimpan makanan saat mencari makan. Pada betina tidak menunjukkan pembengkakan perineum.

Pura Alas Kedaton

Pura Alas Kedaton - tempat wisata - pulau dewata
Pura Alas Kedaton, Bali

Pura Alas Kedaton adalah sebuah pura Hindu yang dibangun pada zaman megalitikum kuno, yang terletak di tengah-tengah hutan monyet Alas Kedaton. Pura Alas Kedaton sendiri dibangun oleh Mpu Kuturan pada masa pemerinthan Raja Sri Masula Masuli di pulau dewata tahun 1178 - 1255 Masehi.

Hutan kera Alas Kedaton adalah sebuah hutan monyet yang sangat terkenal diantara hutan-hutan kera di Bali serta menjadi tujuan dan tempat wisata favorit bagi wisatawan lokal maupun internasional. Tempat ini banyak dikunjungi wisatawan terutama pada saat liburan umum atau liburan sekolah. Pengunjung biasanya akan ditemani oleh guide lokal yang tahu daerah di sekitar hutan untuk memandu wisatawan melihat-lihat sekeliling pura dan area hutan Alas Kedaton. Kera-kera yang ada di hutan Kedaton sangat ramah kepada pengunjung tetapi meskipun begitu pengunjung tetap disarankan agar tetap berhati-hati terhadap barang bawaan mereka dan tidak berada terlalu dekat dengan monyet-monyet karena mereka juga akan bisa menyerang ketika mereka merasa terganggu. Tidak jauh dari hutan kera ini juga terdapat fasilitas lainnya seperti tempat bermain untuk anak-anak, tempat parkir yang luas dan kios-kios yang menjual cinderamata untuk oleh-oleh.

Peta Hutan Kera/Monyet Alas Kedaton

Lokasi dan Peta Hutan Monyet/Kera Alas Kedaton oleh Google Maps

Referensi : Alas Kedaton, Crab-eating macaque
Permalink: Alas Kedaton: Suaka Alam Hutan Monyet/Kera Sakral Bali

Hutan monyet Alas Kedaton adalah salah satu suaka alam hutan kera yang terkenal di pulau Bali, mempunyai luas kurang lebih 6.4 hektar yang dihuni oleh ratusan kera dan kelelawar besar (kalong). Nama Alas Kedaton diambil dari kata "alas" yang berarti hutan/rimba dan "kedaton" yang artinya istana (keraton), hutan kera Alas Kedaton terletak di Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, kurang lebih 35 kilometer ditempuh dari Kota Denpasar. Hutan Kedaton adalah sebuah hutan hujan kecil yang merupakan hutan monyet yang sakral dan sangat dijaga oleh masyarakat Pulau Dewata.

Konten
Monyet/Kera di Hutan Alas Kedaton
Pura Alas Kedaton
Peta Hutan Kera/Monyet Alas Kedaton

Monyet/Kera di Hutan Alas Kedaton

Spesies kera/monyet yang ada di pulau Bali dan juga yang menghuni hutan Alas Kedaton adalah berjenis crab-eating macaque (bahasa latin nya adalah Macaca Fascicularis) juga disebut long-tailed macaque. Jenis monyet ini adalah merupakan penghuni asli primata cercopithecine di Asia Tenggara, monyet ini juga disebut sebagai monyet cynomolgus di laboratorium, dan memiliki sejarah yang panjang bersama manusia. Mereka juga dianggap sebagai hama pertanian, sebagai hewan suci di beberapa kuil dan pura, dan juga sebagai subjek percobaan medis. Kera jenis ini hidup dalam kelompok sosial matrilineal dengan dominasi hirarki betina di alam liar, dan anggota jantan akan meninggalkan kelompok mereka ketika mencapai pubertas/dewasa.

Hutan monyet Alas kedaton - hutan kera - monkey forest - obyek wisata
Hutan Monyet Alas Kedaton, Bali

Monyet jenis ini ketika dewasa mempunyai panjang tubuh yang bervariasi antara 38-55 cm (15-22 inchi) dengan lengan dan kaki yang relatif pendek. Kera yang berkelamin jantan jauh lebih besar dari yang betina, dengan berat 5-9 kilogram dibandingkan dengan yang betina antara 3-6 kg Alas Kedaton: Bali: Suaka Alam Hutan Monyet/Kera Sakral. Mempunyai ekor lebih panjang daripada tubuh nya, biasanya antara 40-65 cm (16-26 inchi) yang digunakan untuk keseimbangan ketika mereka melompat dengan jarak hingga 5 meter (16,4 kaki). Bagian atas tubuh nya berwarna coklat gelap dengan coklat muda keemasan. Bagian bawah berwarna abu-abu muda dengan abu-abu gelap/coklat pada bagian ekor. Kera jenis ini memiliki rambut yang kadang-kadang berbentuk garis puncak pendek dari kepala ke belakang sampai pada punggung nya. Kulit mereka hitam pada kaki dan telinga, sedangkan kulit di moncong adalah warna merah muda keabu-abuan. Kelopak mata sering memiliki tanda putih menonjol dan kadang-kadang ada bintik-bintik putih di telinga. Pada jantan memiliki karakteristik kumis dan pipi kumis, sementara pada betina hanya memiliki kumis pipi. Monyet ini memiliki kantong pipi yang mereka gunakan untuk menyimpan makanan saat mencari makan. Pada betina tidak menunjukkan pembengkakan perineum.

Pura Alas Kedaton

Pura Alas Kedaton - tempat wisata - pulau dewata
Pura Alas Kedaton, Bali

Pura Alas Kedaton adalah sebuah pura Hindu yang dibangun pada zaman megalitikum kuno, yang terletak di tengah-tengah hutan monyet Alas Kedaton. Pura Alas Kedaton sendiri dibangun oleh Mpu Kuturan pada masa pemerinthan Raja Sri Masula Masuli di pulau dewata tahun 1178 - 1255 Masehi.

Hutan kera Alas Kedaton adalah sebuah hutan monyet yang sangat terkenal diantara hutan-hutan kera di Bali serta menjadi tujuan dan tempat wisata favorit bagi wisatawan lokal maupun internasional. Tempat ini banyak dikunjungi wisatawan terutama pada saat liburan umum atau liburan sekolah. Pengunjung biasanya akan ditemani oleh guide lokal yang tahu daerah di sekitar hutan untuk memandu wisatawan melihat-lihat sekeliling pura dan area hutan Alas Kedaton. Kera-kera yang ada di hutan Kedaton sangat ramah kepada pengunjung tetapi meskipun begitu pengunjung tetap disarankan agar tetap berhati-hati terhadap barang bawaan mereka dan tidak berada terlalu dekat dengan monyet-monyet karena mereka juga akan bisa menyerang ketika mereka merasa terganggu. Tidak jauh dari hutan kera ini juga terdapat fasilitas lainnya seperti tempat bermain untuk anak-anak, tempat parkir yang luas dan kios-kios yang menjual cinderamata untuk oleh-oleh.

Peta Hutan Kera/Monyet Alas Kedaton

Lokasi dan Peta Hutan Monyet/Kera Alas Kedaton oleh Google Maps

Referensi : Alas Kedaton, Crab-eating macaque
Permalink: Alas Kedaton: Suaka Alam Hutan Monyet/Kera Sakral Bali