Senin, 01 Februari 2016

Jatiluwih: Tempat Wisata Pemandangan Sawah Berundak di Bali

- Hallo sahabat WIsata Bali dan Sekitarnya, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul , kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Objek Wisata, Artikel Sawah Berundak, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Jatiluwih: Tempat Wisata Pemandangan Sawah Berundak di Bali
link : Jatiluwih: Tempat Wisata Pemandangan Sawah Berundak di Bali

Baca juga


Sawah berundak Jatiluwih Bali atau sawah terasering Jatiluwih adalah salah satu tempat wisata di Tabanan yang paling populer dengan pemandangan hamparan sawah berundak-undak yang indah selain Tegalalang rice terrace Ubud, Munduk rice terraces, dan objek wisata pemandangan sawah berundak lainnya di Bali. Jatiluwih adalah sebuah desa yang mempunyai daerah hamparan persawahan luas dengan panorama sawah bertingkat yang indah yang terletak di wilayah Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan Bali. Desa Jatiluwih terkenal sebagai tempat wisata dengan keindahan sawah terasering yang masih menggunakan sistem pengairan sawah tradisional Bali, lokasinya terletak dekat dengan pegunungan Batukaru dengan kondisi udara yang lumayan sejuk. Untuk mengunjungi obyek wisata Jatiluwih Bali dengan pemandangan sawah bertingkat-tingkat yang indah ini bisa ditempuh dengan jarak kurang lebih 50 KM atau sekitar ± 1 jam 30 menit dari kota Denpasar. Bagi anda yang sedang liburan di pulau Bali, objek wisata sawah terasering Jatiluwih Bali ini bisa dijadikan pilihan untuk berlibur untuk menikmati keindahan panorama sawah pegunungan yang memikat hati.

Konten
Sejarah Jatiluwih
Geografi Jatiluwih
Warisan Budaya Dunia (UNESCO)
Pengolahan Sawah & Aktifitas Petani
Pariwisata Jatiluwih
Waktu Terbaik Mengunjungi Jatiluwih
Peta & Lokasi Jatiluwih

Sejarah Jatiluwih

Untuk mengetahui sejarah Jatiluwih sepenuhnya bersumber pada cerita-cerita orang tua yang merupakan penduduk dari Desa Jatiluwih. Konon ceritanya nama JATILUWIH berasal dari kata JATON dan LUWIH. "JATON" artinya adalah Jimat, sedangkan "LUWIH" berarti bagus, dari arti kata tersebut maka dapat disimpulkan bahwa Jatiluwih mempunyai arti adalah sebuah desa yang mempunyai Jimat yang benar-benar bagus/ampuh atau berwasiat.

Dari sumber lain diceritakan bahwa konon di tengah Desa ada sebuah kuburan binatang purba yakni seekor burung Jatayu. Dari kata Jatayu ini lama kelamaan mengalami perubahan bunyi menjadi JATON AYU yang berarti Luwih atau Bagus. Jadi JATON AYU sama dengan Jatiluwih. Demikianlah pada akhirnya kata Jatiluwih sejak dulu ditetapkan menjadi nama Desa dan sampai hari ini belum pernah mengalami perubahan.

Sawah Terasering Berundak Jatiluwih, Tabanan, Bali - Indonesia
Sawah Terasering Jatiluwih Bali, Photo by Komang Gede via Flickr

Dari arti Jatiluwih tersebut sampai sekarang dapat dibuktikan dengan adanya hasil-hasil dari bertani dan berkebun yang cukup memenuhi kebutuhan hidup dan kesejahteraan bagi semua penduduknya dan terjaminnya keselamatan bagi para penduduknya selama menjalankan kehidupan bertani.

Maka pada jaman dahulu banyaklah berdatangan para Brahmana, Ksatria, Wesia dan Sudra dari daerah Tabanan yang berkunjung ke Desa Jatiluwih dengan harapan memohon keselamatan dan kesejahteraan golongannya masing-masing. Akhirnya mereka itulah kemudian mendirikan Pura-Pura yang ada sekarang di wilayah Desa Jatiluwih seperti Pura Luhur Petali, Pura Luhur Bhujangga Waisnawa, Pura Rshi, Pura Taksu dan tempat-tempat suci yang lain disekitarnya.

Geografi Jatiluwih

Dari segi geografis, Jatiluwih memiliki luas wilayah sekitar 33,22 km2, dengan ketinggian kurang lebih 1,059 meter atau 3,476 kaki diatas permukaan laut. Jatiluwih memiliki iklim tropis pada hampir sepanjang sebagian besar bulan dalam setahun, terdapat curah hujan signifikan di daerah ini, suhu tahunan adalah rata-rata 19.0° C. Jatiluwih merupakan daerah pertanian dengan petani padi sebagai mayoritas penduduknya. Selain sebagai penghasil beras dan juga beras merah dari hamparan sawah terasering/berundak-undak yang luas dan besar, daerah ini juga menghasilkan tanaman kebun lainnya seperti sayuran, kelapa, kopi, pisang, dll. Selain daripada itu, pada saat ini di dalam masyarakat Jatiluwih juga telah terbentuk kelompok – kelompok tani yang kemudian akan bisa meningkatkan pendapatan masyarakat seperti kelompok tani ikan, kelompok ternak, dll. Organisasi kemasyarakatan yang khusus mengatur sistem pengairan (irigasi) sawah yang digunakan dalam bercocok tanam padi di Jatiluwih dan di pulau Bali pada umumnya disebut dengan istilah Subak.

Warisan Budaya Dunia (UNESCO)

Desa Jatiluwih telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia (WBD) sejak 29 Juni 2012 karena mempunyai keunikan dan ciri khas pada sistem pertaniannya yaitu dengan menggunakan konsep filosofi Tri Hita Karana (filosofi tentang keseimbangan antara manusia dengan sesamanya, manusia dengan alam, serta manusia dengan Sang Pencipta). Jatiluwih termasuk didalam kawasan Lanskap Subak dari Catur Angga Batukaru yang merupakan salah satu dari 5 kawasan di Bali yang ditetapkan oleh UNESCO menjadi warisan budaya dunia Liburan Bali, Panduan Wisata, Tempat Wisata. Secara sosio-kultural manajemen organisasi subak Desa Jatiluwih adalah berdasarkan prinsip dari filsafat Tri Hita Karana yang bertujuan agar tercapai dan terbinanya keselarasan dan keharmonisan antara warga subak dengan sesamanya, warga subak dengan lingkungan/alam, dan warga subak dengan Sang Pencipta/Tuhan sebagai unsur parahyangan.

Pengolahan Sawah & Aktifitas Petani

Jatiluwih sangat terkenal dengan sawah terasering nya dengan sistem irigasi yang bagus yang dikelola oleh anggota subak, terlepas dengan filsafat Tri Hita Karana yang menjadi landasan oleh petani di Jatiluwih maka dalam hal pengolahan lahan sawah pun didasari oleh filsafat tersebut, dalam hal ini adalah hubungannya dengan sang pencipta dengan melakukan beberapa upacara yang merupakan bagian dari aktifitas petani seperti; mengolah sawah, menanam padi, memanen, dan sebagainya, sesuai dengan budaya dan agama Hindu yang dipeluk oleh sebagian besar Petani di Jatiluwih. Adapun upacara yang dilakukan adalah:

  1. Mapag Toya, yaitu upacara mengambil/menjemput air ke sumber mata air. Upacara ini diikuti oleh semua anggota subak dan dilakukan pada Sasih Ketiga atau sekitar bulan September. Kegiatan ini disebut Kempelan yaitu kegiatan membuka saluran air ke sumber aliran air di hulu subak, selanjutnya air akan mengaliri sawah.
  2. Ngendag Tanah Carik, yaitu upacara memohon keselamatan kepada Tuhan pada saat membajak tanah sawah yang dilakukan oleh masing-masing anggota subak prosesi ini masih pada Sasih Ketiga (bulan September).
  3. Ngurit, yaitu upacara pembibitan yang dilakukan oleh seluruh anggota subak pada masing-masing tanah garapannya. Ngurit dilaksanakan pada Sasih Kelima (sekitar bulan Nopember).
  4. Ngerasakin, yaitu upacara membersihkan kotoran (leteh) yang tertinggal ketika melakukan pembajakan sawah, upacara ini dilakukan setelah pembajakan selesai pada masing-masing tanah garapan pada awal Sasih Kepitu (awal bulan Januari).
  5. Pangawiwit (Nuwasen), yaitu upacara untuk mencari hari baik untuk memulai menanam padi yang dilakukan pada sekitar Sasih Kepitu (awal bulan Januari).
  6. Ngekambuhin, yaitu upacara untuk meminta keselamatan kepada Tuhan bagi anak padi yang baru tumbuh yang dilakukan pada saat padi berumur 42 hari pada sekitar Sasih Kewulu (bulan Pebruari).
  7. Pamungkah, yaitu upacara memohon keselamatan agar tanaman padi dapat tumbuh dengan baik. Upacara ini dilakukan pada Sasih Kawulu (bulan Pebruari).
  8. Penyepian, yaitu upacara memohon keselamatan agar tanaman padi terhindar dari hama/penyakit dan dilakukan pada Sasih Kesanga (sekitar bulan Maret).
  9. Pengerestitian Nyegara Gunung, yaitu melaksanakan upacara nyegara gunung yang dilakukan di Pura Luhur Petali dan Pura Luhur Pekendungan (bulan Maret/April).
  10. Mesaba, yaitu upacara sebelum panen yang dilakukan pada Sasih Kedasa (bulan April) oleh anggota subak pada sawah nya masing-masing.
  11. Ngadegang Bhatari Sri (Bhatara Nini), yaitu upacara secara simbolis memvisualisasikan Beliau sebagai Lingga-Yoni.
  12. Upacara Nganyarin, yaitu upacara mulai panen yang dilaksanakan pada Sasih Sada (bulan Juni) oleh anggota subak pada masing-masing sawahnya.
  13. Manyi, yaitu kegiatan memanen padi (bulan Juli).
  14. Mantenin, yaitu upacara menaikkan padi ke lumbung atau upacara menyimpan padi di lumbung yang dilaksanakan pada Sasih Karo (bulan Agustus).

Aktifitas petani di sawah Jatiluwih
Petani sedang menanam padi

Pariwisata Jatiluwih

jatiluwih sangat terkenal dengan keindahan alam dengan sawah terasering nya dan menjadi salah satu tujuan wisata terbaik di tabanan, aktifitas petani di jatiluwih adalah salah satu daya tarik tersendiri bagi wisatawan, pada umumnya kegiatan petani di sawah masih menggunakan cara-cara dan alat-alat tradisional untuk menggarap sawahnya seperti; Mencangkul, Nampadin (membersihkan pematang sawah), Ngelampit (membajak sawah), Melasah (meratakan tanah sawah), Nandur (menanam padi), dll. Kegiatan petani tersebut benar-benar menjadi salah satu daya tarik tersendiri dan sering kali dijadikan sebagai obyek fotografi oleh wisatawan. Selain itu di kawasan Jatiluwih juga terdapat aktifitas wisata seperti hiking dan cycling, untuk mendukung sarana pariwisata di Jatiluwih juga terdapat penginapan/pondok wisata, cafe, dan warung/rumah makan ataupun restoran yang khusus menyajikan makanan khas dengan beras merah dari hasil pertanian di Jatiluwih.

Waktu Terbaik Mengunjungi Jatiluwih

Untuk mengunjungi obyek wisata Jatiluwih direkomendasikan antara jam 8.00 pagi sampai sore hari sekitar jam 5.00, karena pada antara jam-jam tersebut aktifitas petani banyak dijumpai. Dikarenakan curah hujan yang tinggi di kawasan Jatiluwih maka direkomendasikan bagi para wisatawan agar selalu menyiapkan payung ataupun jas hujan atau ada baiknya sebelum mengunjungi Jatiluwih pengunjung bisa memantau prakiraan cuaca sehari sebelumnya. Untuk bisa menikmati panorama alam Jatiluwih dengan sawah terasering yang hijau dan indah, wisatawan bisa mengunjungi Jatiluwih diantara bulan Pebruari sampai bulan April, karena pada bulan-bulan tersebut tanaman padi akan tumbuh tinggi, hijau dan menguning. Pada sekitar bulan Juni - Juli (sasih Sada), tanaman padi akan siap di panen dan aktifitas memanen oleh petani akan banyak dijumpai.

Peta & Lokasi Jatiluwih

Peta lokasi sawah terasering Jatiluwih Bali oleh Google Maps



Referensi:
- UNESCO
- National Geographic
- Desa Jatiluwih | Kec. Penebel Tabanan
Permalink: Jatiluwih: Tempat Wisata Pemandangan Sawah Berundak di Bali | Bali Glory

Sawah berundak Jatiluwih Bali atau sawah terasering Jatiluwih adalah salah satu tempat wisata di Tabanan yang paling populer dengan pemandangan hamparan sawah berundak-undak yang indah selain Tegalalang rice terrace Ubud, Munduk rice terraces, dan objek wisata pemandangan sawah berundak lainnya di Bali. Jatiluwih adalah sebuah desa yang mempunyai daerah hamparan persawahan luas dengan panorama sawah bertingkat yang indah yang terletak di wilayah Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan Bali. Desa Jatiluwih terkenal sebagai tempat wisata dengan keindahan sawah terasering yang masih menggunakan sistem pengairan sawah tradisional Bali, lokasinya terletak dekat dengan pegunungan Batukaru dengan kondisi udara yang lumayan sejuk. Untuk mengunjungi obyek wisata Jatiluwih Bali dengan pemandangan sawah bertingkat-tingkat yang indah ini bisa ditempuh dengan jarak kurang lebih 50 KM atau sekitar ± 1 jam 30 menit dari kota Denpasar. Bagi anda yang sedang liburan di pulau Bali, objek wisata sawah terasering Jatiluwih Bali ini bisa dijadikan pilihan untuk berlibur untuk menikmati keindahan panorama sawah pegunungan yang memikat hati.

Konten
Sejarah Jatiluwih
Geografi Jatiluwih
Warisan Budaya Dunia (UNESCO)
Pengolahan Sawah & Aktifitas Petani
Pariwisata Jatiluwih
Waktu Terbaik Mengunjungi Jatiluwih
Peta & Lokasi Jatiluwih

Sejarah Jatiluwih

Untuk mengetahui sejarah Jatiluwih sepenuhnya bersumber pada cerita-cerita orang tua yang merupakan penduduk dari Desa Jatiluwih. Konon ceritanya nama JATILUWIH berasal dari kata JATON dan LUWIH. "JATON" artinya adalah Jimat, sedangkan "LUWIH" berarti bagus, dari arti kata tersebut maka dapat disimpulkan bahwa Jatiluwih mempunyai arti adalah sebuah desa yang mempunyai Jimat yang benar-benar bagus/ampuh atau berwasiat.

Dari sumber lain diceritakan bahwa konon di tengah Desa ada sebuah kuburan binatang purba yakni seekor burung Jatayu. Dari kata Jatayu ini lama kelamaan mengalami perubahan bunyi menjadi JATON AYU yang berarti Luwih atau Bagus. Jadi JATON AYU sama dengan Jatiluwih. Demikianlah pada akhirnya kata Jatiluwih sejak dulu ditetapkan menjadi nama Desa dan sampai hari ini belum pernah mengalami perubahan.

Sawah Terasering Berundak Jatiluwih, Tabanan, Bali - Indonesia
Sawah Terasering Jatiluwih Bali, Photo by Komang Gede via Flickr

Dari arti Jatiluwih tersebut sampai sekarang dapat dibuktikan dengan adanya hasil-hasil dari bertani dan berkebun yang cukup memenuhi kebutuhan hidup dan kesejahteraan bagi semua penduduknya dan terjaminnya keselamatan bagi para penduduknya selama menjalankan kehidupan bertani.

Maka pada jaman dahulu banyaklah berdatangan para Brahmana, Ksatria, Wesia dan Sudra dari daerah Tabanan yang berkunjung ke Desa Jatiluwih dengan harapan memohon keselamatan dan kesejahteraan golongannya masing-masing. Akhirnya mereka itulah kemudian mendirikan Pura-Pura yang ada sekarang di wilayah Desa Jatiluwih seperti Pura Luhur Petali, Pura Luhur Bhujangga Waisnawa, Pura Rshi, Pura Taksu dan tempat-tempat suci yang lain disekitarnya.

Geografi Jatiluwih

Dari segi geografis, Jatiluwih memiliki luas wilayah sekitar 33,22 km2, dengan ketinggian kurang lebih 1,059 meter atau 3,476 kaki diatas permukaan laut. Jatiluwih memiliki iklim tropis pada hampir sepanjang sebagian besar bulan dalam setahun, terdapat curah hujan signifikan di daerah ini, suhu tahunan adalah rata-rata 19.0° C. Jatiluwih merupakan daerah pertanian dengan petani padi sebagai mayoritas penduduknya. Selain sebagai penghasil beras dan juga beras merah dari hamparan sawah terasering/berundak-undak yang luas dan besar, daerah ini juga menghasilkan tanaman kebun lainnya seperti sayuran, kelapa, kopi, pisang, dll. Selain daripada itu, pada saat ini di dalam masyarakat Jatiluwih juga telah terbentuk kelompok – kelompok tani yang kemudian akan bisa meningkatkan pendapatan masyarakat seperti kelompok tani ikan, kelompok ternak, dll. Organisasi kemasyarakatan yang khusus mengatur sistem pengairan (irigasi) sawah yang digunakan dalam bercocok tanam padi di Jatiluwih dan di pulau Bali pada umumnya disebut dengan istilah Subak.

Warisan Budaya Dunia (UNESCO)

Desa Jatiluwih telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia (WBD) sejak 29 Juni 2012 karena mempunyai keunikan dan ciri khas pada sistem pertaniannya yaitu dengan menggunakan konsep filosofi Tri Hita Karana (filosofi tentang keseimbangan antara manusia dengan sesamanya, manusia dengan alam, serta manusia dengan Sang Pencipta). Jatiluwih termasuk didalam kawasan Lanskap Subak dari Catur Angga Batukaru yang merupakan salah satu dari 5 kawasan di Bali yang ditetapkan oleh UNESCO menjadi warisan budaya dunia Liburan Bali, Panduan Wisata, Tempat Wisata. Secara sosio-kultural manajemen organisasi subak Desa Jatiluwih adalah berdasarkan prinsip dari filsafat Tri Hita Karana yang bertujuan agar tercapai dan terbinanya keselarasan dan keharmonisan antara warga subak dengan sesamanya, warga subak dengan lingkungan/alam, dan warga subak dengan Sang Pencipta/Tuhan sebagai unsur parahyangan.

Pengolahan Sawah & Aktifitas Petani

Jatiluwih sangat terkenal dengan sawah terasering nya dengan sistem irigasi yang bagus yang dikelola oleh anggota subak, terlepas dengan filsafat Tri Hita Karana yang menjadi landasan oleh petani di Jatiluwih maka dalam hal pengolahan lahan sawah pun didasari oleh filsafat tersebut, dalam hal ini adalah hubungannya dengan sang pencipta dengan melakukan beberapa upacara yang merupakan bagian dari aktifitas petani seperti; mengolah sawah, menanam padi, memanen, dan sebagainya, sesuai dengan budaya dan agama Hindu yang dipeluk oleh sebagian besar Petani di Jatiluwih. Adapun upacara yang dilakukan adalah:

  1. Mapag Toya, yaitu upacara mengambil/menjemput air ke sumber mata air. Upacara ini diikuti oleh semua anggota subak dan dilakukan pada Sasih Ketiga atau sekitar bulan September. Kegiatan ini disebut Kempelan yaitu kegiatan membuka saluran air ke sumber aliran air di hulu subak, selanjutnya air akan mengaliri sawah.
  2. Ngendag Tanah Carik, yaitu upacara memohon keselamatan kepada Tuhan pada saat membajak tanah sawah yang dilakukan oleh masing-masing anggota subak prosesi ini masih pada Sasih Ketiga (bulan September).
  3. Ngurit, yaitu upacara pembibitan yang dilakukan oleh seluruh anggota subak pada masing-masing tanah garapannya. Ngurit dilaksanakan pada Sasih Kelima (sekitar bulan Nopember).
  4. Ngerasakin, yaitu upacara membersihkan kotoran (leteh) yang tertinggal ketika melakukan pembajakan sawah, upacara ini dilakukan setelah pembajakan selesai pada masing-masing tanah garapan pada awal Sasih Kepitu (awal bulan Januari).
  5. Pangawiwit (Nuwasen), yaitu upacara untuk mencari hari baik untuk memulai menanam padi yang dilakukan pada sekitar Sasih Kepitu (awal bulan Januari).
  6. Ngekambuhin, yaitu upacara untuk meminta keselamatan kepada Tuhan bagi anak padi yang baru tumbuh yang dilakukan pada saat padi berumur 42 hari pada sekitar Sasih Kewulu (bulan Pebruari).
  7. Pamungkah, yaitu upacara memohon keselamatan agar tanaman padi dapat tumbuh dengan baik. Upacara ini dilakukan pada Sasih Kawulu (bulan Pebruari).
  8. Penyepian, yaitu upacara memohon keselamatan agar tanaman padi terhindar dari hama/penyakit dan dilakukan pada Sasih Kesanga (sekitar bulan Maret).
  9. Pengerestitian Nyegara Gunung, yaitu melaksanakan upacara nyegara gunung yang dilakukan di Pura Luhur Petali dan Pura Luhur Pekendungan (bulan Maret/April).
  10. Mesaba, yaitu upacara sebelum panen yang dilakukan pada Sasih Kedasa (bulan April) oleh anggota subak pada sawah nya masing-masing.
  11. Ngadegang Bhatari Sri (Bhatara Nini), yaitu upacara secara simbolis memvisualisasikan Beliau sebagai Lingga-Yoni.
  12. Upacara Nganyarin, yaitu upacara mulai panen yang dilaksanakan pada Sasih Sada (bulan Juni) oleh anggota subak pada masing-masing sawahnya.
  13. Manyi, yaitu kegiatan memanen padi (bulan Juli).
  14. Mantenin, yaitu upacara menaikkan padi ke lumbung atau upacara menyimpan padi di lumbung yang dilaksanakan pada Sasih Karo (bulan Agustus).

Aktifitas petani di sawah Jatiluwih
Petani sedang menanam padi

Pariwisata Jatiluwih

jatiluwih sangat terkenal dengan keindahan alam dengan sawah terasering nya dan menjadi salah satu tujuan wisata terbaik di tabanan, aktifitas petani di jatiluwih adalah salah satu daya tarik tersendiri bagi wisatawan, pada umumnya kegiatan petani di sawah masih menggunakan cara-cara dan alat-alat tradisional untuk menggarap sawahnya seperti; Mencangkul, Nampadin (membersihkan pematang sawah), Ngelampit (membajak sawah), Melasah (meratakan tanah sawah), Nandur (menanam padi), dll. Kegiatan petani tersebut benar-benar menjadi salah satu daya tarik tersendiri dan sering kali dijadikan sebagai obyek fotografi oleh wisatawan. Selain itu di kawasan Jatiluwih juga terdapat aktifitas wisata seperti hiking dan cycling, untuk mendukung sarana pariwisata di Jatiluwih juga terdapat penginapan/pondok wisata, cafe, dan warung/rumah makan ataupun restoran yang khusus menyajikan makanan khas dengan beras merah dari hasil pertanian di Jatiluwih.

Waktu Terbaik Mengunjungi Jatiluwih

Untuk mengunjungi obyek wisata Jatiluwih direkomendasikan antara jam 8.00 pagi sampai sore hari sekitar jam 5.00, karena pada antara jam-jam tersebut aktifitas petani banyak dijumpai. Dikarenakan curah hujan yang tinggi di kawasan Jatiluwih maka direkomendasikan bagi para wisatawan agar selalu menyiapkan payung ataupun jas hujan atau ada baiknya sebelum mengunjungi Jatiluwih pengunjung bisa memantau prakiraan cuaca sehari sebelumnya. Untuk bisa menikmati panorama alam Jatiluwih dengan sawah terasering yang hijau dan indah, wisatawan bisa mengunjungi Jatiluwih diantara bulan Pebruari sampai bulan April, karena pada bulan-bulan tersebut tanaman padi akan tumbuh tinggi, hijau dan menguning. Pada sekitar bulan Juni - Juli (sasih Sada), tanaman padi akan siap di panen dan aktifitas memanen oleh petani akan banyak dijumpai.

Peta & Lokasi Jatiluwih

Peta lokasi sawah terasering Jatiluwih Bali oleh Google Maps



Referensi:
- UNESCO
- National Geographic
- Desa Jatiluwih | Kec. Penebel Tabanan
Permalink: Jatiluwih: Tempat Wisata Pemandangan Sawah Berundak di Bali | Bali Glory

Selasa, 12 Januari 2016

Daftar Nama Pegunungan dan Gunung Berapi di Pulau Bali

- Hallo sahabat WIsata Bali dan Sekitarnya, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul , kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Bali, Artikel Pegunungan, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Daftar Nama Pegunungan dan Gunung Berapi di Pulau Bali
link : Daftar Nama Pegunungan dan Gunung Berapi di Pulau Bali

Baca juga


Gunung di Bali dan juga gunung berapi, pulau Bali selain sebagai tempat wisata yang mempunyai pantai yang indah dan budaya yang unik, pulau dewata juga mempunyai jejeran pegunungan dan juga gunung berapi aktif. Pegunungan dan gunung berapi yang ada di pulau Bali juga banyak dikenal oleh pendaki gunung baik lokal maupun pendaki mancanegara sebagai tempat favorit untuk mendaki dan trekking ketika mereka liburan di Bali. Dibawah ini adalah daftar/list nama pegunungan dan gunung api yang ada di pulau Bali.

GunungTinggiLokasi
Agung3,142 mKarangasem
Abang2,152 mBangli
Adeng1,826 mTabanan
Batukaru2,276 mTabanan
Batur1,717 mBangli
Banyu Wedang430 mBuleleng
Catur2,098 mTabanan
Klatakan/Kelatakan698 mJembrana
Kutul842 mBuleleng
Lempuyang/Seraya1,058 mKarangasem
Lesung/Lesong1,860 mBuleleng
Lok Badung1,028 mBuleleng
Merbuk1,356 mJembrana
Mesehe1,300 mJembrana
Musi1,215 mJembrana
Mundi529 mKlungkung
Ngandang622 mJembrana
Patas1,414 mBuleleng
Penulisan1,745 mBangli
Pohen/Pohang2,089 mTabanan
Prapat Agung310 mBuleleng
Sanghyang/Sengjang2,087 mTabanan
Sangiang1,004 mJembrana
Sidemen826 mKarangasem
Silang Jana1,903 mBuleleng

Agung

Gunung Agung adalah yang tertinggi di Bali (3,142 mdpl), berdiri dan terbentang di bagian tengah-timur dari pulau Bali, berlokasi di Kabupaten Karangasem. Secara geologis, Gunung Agung adalah sebuah stratovolcano aktif, dan telah memiliki letusan besar di masa lalu, yang paling signifikan adalah pada tahun 1963. Tetapi semenjak letusan terakhir tahun 1963, tidak ada lagi aktifitas vulkanik sampai hari ini, bisa dikatakan bahwa gunung Agung sedang tidur sekarang. Menurut masyarakat Hindu di Bali, Agung adalah gunung yang paling suci di Bali dan sebagai tempat sakral bagi pura yang terbesar di Bali yaitu Pura Besakih. Agung sangat populer dengan pendaki gunung dan trekker, gunung Agung sangat terkenal dengan pendakian matahari terbit (sunrise trekking) tetapi karena kesulitannya, gunung Agung kurang terkenal bagi turis dibandingkan dengan gunung Batur.

Gunung berapi Agung
Pura Besakih dan Gn. Agung dibelakangnya

Letusan Gunung Agung
Letusan Gn. Agung - Mei 1963

Gunung Agung meletus pada Mei 1963, dengan Pura Besakih di lereng depannya. Letusan Gunung Agung menyebabkan banyak kesulitan dan penderitaan di Bali selama dan setelah 1963. Gunung berapi ini sebelumnya tidak meletus dalam catatan sejarah. Letusan terjadi pada saat pelaksanaan upacara keagamaan Eka Dasa Rudra yang diadakan pada setiap 100 tahun sekali di Pura Besakih.

Batur

Gunung Batur adalah sebuah stratovolcano kecil di utara-tengah pulau Bali terletak di Kabupaten Bangli. Batur memiliki ketinggian 1,717 meter dan memiliki beberapa kawah. Gunung Batur terletak dalam kaldera besar, terdapat sisa-sisa letusan dahsyat pada masa prasejarah dari gunung berapi yang pernah memiliki ketinggian lebih dari 4,000 meter ini. Batur adalah gunung berapi yang masih tetap aktif sampai hari ini dan telah tercatat meletus lebih dari 20 kali dalam dua abad terakhir. Letusan besar terjadi pada tahun 1917 , 1926 dan 1963 (tahun yang sama dengan letusan besar gunung Agung), sehingga membuat gunung Batur adalah gunung berapi yang paling aktif di pulau dewata Bali. Liburan, Bali, Wisata Batur adalah tempat populer untuk mendaki di kalangan wisatawan dan menjadi tempat wisata favorit untuk trekking di Bali, Batur sangat populer untuk pendakian pada waktu matahari terbit (sunrise trekking), pada puncaknya bebas dari tutupan hutan, sehingga menawarkan pemandangan yang indah, spektakuler dan mudah diakses. Istilah "Batur" sering merujuk pada seluruh kaldera, termasuk gunung Abang, puncak ketiga tertinggi di Bali yang terletak di sepanjang pinggirannya.

Pegunungan dan Gunung Berapi di Pulau Bali Indonesia
Dari kiri: Batur, Abang dan Agung

Batukaru

Gunung Batukaru juga dieja Batukau atau Watukaru adalah gunung tertinggi kedua di Bali dengan ketinggian 2,276 meter, terletak di Kabupaten Tabanan. Batukaru berasal dari kata Bali "Batu/Watu" berarti "batu", dan "Karu/Kau" berarti "batok/tempurung kelapa" dalam bahasa Bali. Batukaru adalah puncak tertinggi di daerah vulkanik Bedugul tetapi tidak aktif sampai sekarang. Gunung Batukaru juga disucikan oleh masyarakat Hindu Bali, dan memiliki sebuah tempat suci di lereng selatannya yaitu Pura Luhur Batukaru. Batukaru relatif tidak populer bagi kalangan pendaki untuk pendakian karena tertutup hutan lebat yang membatasi pandangan. Batukaru memiliki kawah besar, yang terbesar di Bali, tapi kawah ini terbuka di ujung selatan, membebaskan sungai Yeh Mawa untuk mengalir.

Abang

Gunung Abang (2,152 mdpl) adalah titik tertinggi di rim kaldera Batur, tertinggi ketiga di Bali, terletak di Kabupaten Bangli dan Abang terletak di sebelah timur Danau Batur, Gn. Abang sebelumnya adalah bagian asli dari gunung Batur, tetapi ketika gunung berapi dengan ketinggian 4,000 meteran ini memiliki letusan besar di zaman prasejarah, kemudian tidak meninggalkan apa-apa kecuali sebuah kaldera besar dan kerucut kecil. Abang bukanlah puncak yang populer di kalangan petualang pendaki gunung, meskipun tidak sulit untuk pendakiannya, tetapi pemandangan yang sangat indah dari Gn. Batur dan danau Batur bisa kita lihat dari puncak Gn. Abang.

Adeng

Gunung Adeng adalah sebuah stratovolcano tidak aktif di daerah vulkanik Bedugul . Adeng memiliki ketinggian 1,826 meter dan terletak di Kabupaten Tabanan.

Lesung/Lesong

Gunung Lesung juga disebut Lesong adalah sebuah stratovolcano tidak aktif di wilayah vulkanik Bedugul, tepat di sebelah selatan Danau Tamblingan, yang terletak di Kabupaten Buleleng. Lesung memiliki kawah besar di puncaknya, lebih dari setengah ukuran Gn. Agung. Puncak tertinggi gunung Lesung adalah 1,860 meter di atas permukaan laut. Meskipun Lesung telah pernah didaki, pendaki biasanya menghindari perjalanan panjang melalui hutan lebat untuk mencapai puncaknya.

Gunung Lesung
Gn. Lesung dan Danau Tamblingan, Bali

Catur

Gunung Catur (2,098 mdpl), kadang-kadang juga dieja Catu dan orang-orang Bali biasa menyebutnya Puncak/Pucak Mangu, adalah titik tertinggi sepanjang tepi kaldera Bedugul, dan tertinggi keempat di Bali dan Catur terletak di Kabupaten Tabanan dan juga kabupaten Badung. Catur terletak di sebelah timur Danau Beratan dan cukup populer di kalangan pendaki dan trekker meskipun hutan lebat menutupi pandangan. Pura Hindu Bali (Pura Pucak Mangu) juga terletak di sini.

Lempuyang/Seraya

Gunung Lempuyang, juga disebut Bukit Belibis/Bisbis dan Gunung Seraya, terletak di Kabupaten Karangasem, di ujung paling timur dari pulau dewata Bali, disebelah timur Gunung Agung. Puncak nya pada ketinggian 1,058 mdpl ada pada tepi selatan dari kaldera. Pura Luhur Lempuyang adalah salah satu dari sembilan pura utama di Bali yang terletak di lereng barat Gn. Lempuyang.

Sanghyang/Sengjang

Gunung Sanghyang juga disebut Sengjang atau Sengayang adalah sebuah stratovolcano tidak aktif di daerah vulkanik Bedugul. Tinggi totalnya adalah 2,087 mdpl dan terletak di Kabupaten Tabanan dan menjadi keenam tertinggi di Bali. Sanghyang hampir sepenuhnya diabaikan oleh pendaki karena situasi yang terisolasi di bagian utara dari Gunung Batukaru, sebelah barat dari Gn. Adeng dan Gn. Pohen, dan di sebelah selatan dari Gn. Lesung.

Prapat Agung

Gunung Prapat Agung adalah gunung kecil di semenanjung di ujung barat laut Bali. Prapat Agung adalah bagian dari Taman Nasional Bali Barat dengan ketinggian 310 meter, yang terletak di Kabupaten Buleleng. Prapat Agung sebagian besar terdiri dari batu kapur, menjadikannya salah satu dari tiga tempat di Bali yang terdapat batu kapur (tempat yang lainnya adalah Bukit Jimbaran dan Nusa Penida).

Pohen/Pohang

Gunung Pohen/Pohang adalah sebuah stratovolcano tidak aktif di wilayah Bedugul, yang terletak di Kabupaten Tabanan. Pohen terletak di sebelah barat daya dari Bedugul sendiri. Tingginya adalah 2,089 mdpl menjadikannya sebagai puncak kelima tertinggi di Bali.

Klatakan/Kelatakan

Gunung Kelatakan/Klatakan mempunyai ketinggian 698 m, terletak di Kabupaten Jembrana, di bagian barat dari pulau Bali.

Sangiang

Gunung Sangiang berlokasi di bagian Kabupaten Jembrana, total ketinggiannya adalah 1,004 m.

Merbuk

Gunung Merbuk tingginya adalah 1,356 m, terdapat di daerah Jembrana.

Mesehe

Gunung Mesehe dengan tinggi 1,300 m, terletak di Kabupaten Jembrana Bali.

Ngandang

Gunung Ngandang berlokasi di Jembrana dengan total tinggi 622 m.

Musi

Gunung Musi tingginya adalah 1,215 meter, juga terletak di Kabupaten Jembrana Bali adalah sebuah bukit yang tepatnya berada di timur gunung Mesehe dan di sebelah utara Taman Nasional Bali Barat.

Gunung Musi
Gn. Musi - foto via Santai Area

Mundi

Gunung Mundi berlokasi di Kabupaten Klungkung, dengan ketinggian mencapai 529 m. Klungkung hanya mempunyai satu gunung di daerah teritorinya.

Penulisan

Gunung Penulisan juga disebut Bukit Penulisan, dengan ketinggian 1,745 mdpl, terletak di kabupaten Bangli. tempat suci yang dikenal luas dan sakral bagi masyarakat Hindu Bali yaitu Pura Pucak Penulisan yang juga terletak disini.

Sidemen

Gunung Sidemen dengan tinggi 826 meters berlokasi di Karangasem Bali.

Banyu Wedang

GUnung Banyu Wedang terletak di Buleleng Bali,dengan total tinggi 430 m.

Patas

Gunung Patas mempunyai ketinggian 1,414 mdpl dan terletak di Kabupaten Buleleng.

Lok Badung

Gunung Lok Badung terletak di daerah Buleleng dengan tinggi mencapai 1,028 meter.

Kutul

Gunung Kutul berlokasi di Kabupaten Buleleng dengan total ketinggian 842 meter.

Silang Jana

Gunung Silang Jana juga terletak di Buleleng dengan tinggi mencapai 1,903 meter.

Referensi : Wikipedia, Badan Pusat Statistik Provinsi Bali
Permalink: Daftar Nama Pegunungan dan Gunung Berapi di Pulau Bali | Bali Glory

Gunung di Bali dan juga gunung berapi, pulau Bali selain sebagai tempat wisata yang mempunyai pantai yang indah dan budaya yang unik, pulau dewata juga mempunyai jejeran pegunungan dan juga gunung berapi aktif. Pegunungan dan gunung berapi yang ada di pulau Bali juga banyak dikenal oleh pendaki gunung baik lokal maupun pendaki mancanegara sebagai tempat favorit untuk mendaki dan trekking ketika mereka liburan di Bali. Dibawah ini adalah daftar/list nama pegunungan dan gunung api yang ada di pulau Bali.

GunungTinggiLokasi
Agung3,142 mKarangasem
Abang2,152 mBangli
Adeng1,826 mTabanan
Batukaru2,276 mTabanan
Batur1,717 mBangli
Banyu Wedang430 mBuleleng
Catur2,098 mTabanan
Klatakan/Kelatakan698 mJembrana
Kutul842 mBuleleng
Lempuyang/Seraya1,058 mKarangasem
Lesung/Lesong1,860 mBuleleng
Lok Badung1,028 mBuleleng
Merbuk1,356 mJembrana
Mesehe1,300 mJembrana
Musi1,215 mJembrana
Mundi529 mKlungkung
Ngandang622 mJembrana
Patas1,414 mBuleleng
Penulisan1,745 mBangli
Pohen/Pohang2,089 mTabanan
Prapat Agung310 mBuleleng
Sanghyang/Sengjang2,087 mTabanan
Sangiang1,004 mJembrana
Sidemen826 mKarangasem
Silang Jana1,903 mBuleleng

Agung

Gunung Agung adalah yang tertinggi di Bali (3,142 mdpl), berdiri dan terbentang di bagian tengah-timur dari pulau Bali, berlokasi di Kabupaten Karangasem. Secara geologis, Gunung Agung adalah sebuah stratovolcano aktif, dan telah memiliki letusan besar di masa lalu, yang paling signifikan adalah pada tahun 1963. Tetapi semenjak letusan terakhir tahun 1963, tidak ada lagi aktifitas vulkanik sampai hari ini, bisa dikatakan bahwa gunung Agung sedang tidur sekarang. Menurut masyarakat Hindu di Bali, Agung adalah gunung yang paling suci di Bali dan sebagai tempat sakral bagi pura yang terbesar di Bali yaitu Pura Besakih. Agung sangat populer dengan pendaki gunung dan trekker, gunung Agung sangat terkenal dengan pendakian matahari terbit (sunrise trekking) tetapi karena kesulitannya, gunung Agung kurang terkenal bagi turis dibandingkan dengan gunung Batur.

Gunung berapi Agung
Pura Besakih dan Gn. Agung dibelakangnya

Letusan Gunung Agung
Letusan Gn. Agung - Mei 1963

Gunung Agung meletus pada Mei 1963, dengan Pura Besakih di lereng depannya. Letusan Gunung Agung menyebabkan banyak kesulitan dan penderitaan di Bali selama dan setelah 1963. Gunung berapi ini sebelumnya tidak meletus dalam catatan sejarah. Letusan terjadi pada saat pelaksanaan upacara keagamaan Eka Dasa Rudra yang diadakan pada setiap 100 tahun sekali di Pura Besakih.

Batur

Gunung Batur adalah sebuah stratovolcano kecil di utara-tengah pulau Bali terletak di Kabupaten Bangli. Batur memiliki ketinggian 1,717 meter dan memiliki beberapa kawah. Gunung Batur terletak dalam kaldera besar, terdapat sisa-sisa letusan dahsyat pada masa prasejarah dari gunung berapi yang pernah memiliki ketinggian lebih dari 4,000 meter ini. Batur adalah gunung berapi yang masih tetap aktif sampai hari ini dan telah tercatat meletus lebih dari 20 kali dalam dua abad terakhir. Letusan besar terjadi pada tahun 1917 , 1926 dan 1963 (tahun yang sama dengan letusan besar gunung Agung), sehingga membuat gunung Batur adalah gunung berapi yang paling aktif di pulau dewata Bali. Liburan, Bali, Wisata Batur adalah tempat populer untuk mendaki di kalangan wisatawan dan menjadi tempat wisata favorit untuk trekking di Bali, Batur sangat populer untuk pendakian pada waktu matahari terbit (sunrise trekking), pada puncaknya bebas dari tutupan hutan, sehingga menawarkan pemandangan yang indah, spektakuler dan mudah diakses. Istilah "Batur" sering merujuk pada seluruh kaldera, termasuk gunung Abang, puncak ketiga tertinggi di Bali yang terletak di sepanjang pinggirannya.

Pegunungan dan Gunung Berapi di Pulau Bali Indonesia
Dari kiri: Batur, Abang dan Agung

Batukaru

Gunung Batukaru juga dieja Batukau atau Watukaru adalah gunung tertinggi kedua di Bali dengan ketinggian 2,276 meter, terletak di Kabupaten Tabanan. Batukaru berasal dari kata Bali "Batu/Watu" berarti "batu", dan "Karu/Kau" berarti "batok/tempurung kelapa" dalam bahasa Bali. Batukaru adalah puncak tertinggi di daerah vulkanik Bedugul tetapi tidak aktif sampai sekarang. Gunung Batukaru juga disucikan oleh masyarakat Hindu Bali, dan memiliki sebuah tempat suci di lereng selatannya yaitu Pura Luhur Batukaru. Batukaru relatif tidak populer bagi kalangan pendaki untuk pendakian karena tertutup hutan lebat yang membatasi pandangan. Batukaru memiliki kawah besar, yang terbesar di Bali, tapi kawah ini terbuka di ujung selatan, membebaskan sungai Yeh Mawa untuk mengalir.

Abang

Gunung Abang (2,152 mdpl) adalah titik tertinggi di rim kaldera Batur, tertinggi ketiga di Bali, terletak di Kabupaten Bangli dan Abang terletak di sebelah timur Danau Batur, Gn. Abang sebelumnya adalah bagian asli dari gunung Batur, tetapi ketika gunung berapi dengan ketinggian 4,000 meteran ini memiliki letusan besar di zaman prasejarah, kemudian tidak meninggalkan apa-apa kecuali sebuah kaldera besar dan kerucut kecil. Abang bukanlah puncak yang populer di kalangan petualang pendaki gunung, meskipun tidak sulit untuk pendakiannya, tetapi pemandangan yang sangat indah dari Gn. Batur dan danau Batur bisa kita lihat dari puncak Gn. Abang.

Adeng

Gunung Adeng adalah sebuah stratovolcano tidak aktif di daerah vulkanik Bedugul . Adeng memiliki ketinggian 1,826 meter dan terletak di Kabupaten Tabanan.

Lesung/Lesong

Gunung Lesung juga disebut Lesong adalah sebuah stratovolcano tidak aktif di wilayah vulkanik Bedugul, tepat di sebelah selatan Danau Tamblingan, yang terletak di Kabupaten Buleleng. Lesung memiliki kawah besar di puncaknya, lebih dari setengah ukuran Gn. Agung. Puncak tertinggi gunung Lesung adalah 1,860 meter di atas permukaan laut. Meskipun Lesung telah pernah didaki, pendaki biasanya menghindari perjalanan panjang melalui hutan lebat untuk mencapai puncaknya.

Gunung Lesung
Gn. Lesung dan Danau Tamblingan, Bali

Catur

Gunung Catur (2,098 mdpl), kadang-kadang juga dieja Catu dan orang-orang Bali biasa menyebutnya Puncak/Pucak Mangu, adalah titik tertinggi sepanjang tepi kaldera Bedugul, dan tertinggi keempat di Bali dan Catur terletak di Kabupaten Tabanan dan juga kabupaten Badung. Catur terletak di sebelah timur Danau Beratan dan cukup populer di kalangan pendaki dan trekker meskipun hutan lebat menutupi pandangan. Pura Hindu Bali (Pura Pucak Mangu) juga terletak di sini.

Lempuyang/Seraya

Gunung Lempuyang, juga disebut Bukit Belibis/Bisbis dan Gunung Seraya, terletak di Kabupaten Karangasem, di ujung paling timur dari pulau dewata Bali, disebelah timur Gunung Agung. Puncak nya pada ketinggian 1,058 mdpl ada pada tepi selatan dari kaldera. Pura Luhur Lempuyang adalah salah satu dari sembilan pura utama di Bali yang terletak di lereng barat Gn. Lempuyang.

Sanghyang/Sengjang

Gunung Sanghyang juga disebut Sengjang atau Sengayang adalah sebuah stratovolcano tidak aktif di daerah vulkanik Bedugul. Tinggi totalnya adalah 2,087 mdpl dan terletak di Kabupaten Tabanan dan menjadi keenam tertinggi di Bali. Sanghyang hampir sepenuhnya diabaikan oleh pendaki karena situasi yang terisolasi di bagian utara dari Gunung Batukaru, sebelah barat dari Gn. Adeng dan Gn. Pohen, dan di sebelah selatan dari Gn. Lesung.

Prapat Agung

Gunung Prapat Agung adalah gunung kecil di semenanjung di ujung barat laut Bali. Prapat Agung adalah bagian dari Taman Nasional Bali Barat dengan ketinggian 310 meter, yang terletak di Kabupaten Buleleng. Prapat Agung sebagian besar terdiri dari batu kapur, menjadikannya salah satu dari tiga tempat di Bali yang terdapat batu kapur (tempat yang lainnya adalah Bukit Jimbaran dan Nusa Penida).

Pohen/Pohang

Gunung Pohen/Pohang adalah sebuah stratovolcano tidak aktif di wilayah Bedugul, yang terletak di Kabupaten Tabanan. Pohen terletak di sebelah barat daya dari Bedugul sendiri. Tingginya adalah 2,089 mdpl menjadikannya sebagai puncak kelima tertinggi di Bali.

Klatakan/Kelatakan

Gunung Kelatakan/Klatakan mempunyai ketinggian 698 m, terletak di Kabupaten Jembrana, di bagian barat dari pulau Bali.

Sangiang

Gunung Sangiang berlokasi di bagian Kabupaten Jembrana, total ketinggiannya adalah 1,004 m.

Merbuk

Gunung Merbuk tingginya adalah 1,356 m, terdapat di daerah Jembrana.

Mesehe

Gunung Mesehe dengan tinggi 1,300 m, terletak di Kabupaten Jembrana Bali.

Ngandang

Gunung Ngandang berlokasi di Jembrana dengan total tinggi 622 m.

Musi

Gunung Musi tingginya adalah 1,215 meter, juga terletak di Kabupaten Jembrana Bali adalah sebuah bukit yang tepatnya berada di timur gunung Mesehe dan di sebelah utara Taman Nasional Bali Barat.

Gunung Musi
Gn. Musi - foto via Santai Area

Mundi

Gunung Mundi berlokasi di Kabupaten Klungkung, dengan ketinggian mencapai 529 m. Klungkung hanya mempunyai satu gunung di daerah teritorinya.

Penulisan

Gunung Penulisan juga disebut Bukit Penulisan, dengan ketinggian 1,745 mdpl, terletak di kabupaten Bangli. tempat suci yang dikenal luas dan sakral bagi masyarakat Hindu Bali yaitu Pura Pucak Penulisan yang juga terletak disini.

Sidemen

Gunung Sidemen dengan tinggi 826 meters berlokasi di Karangasem Bali.

Banyu Wedang

GUnung Banyu Wedang terletak di Buleleng Bali,dengan total tinggi 430 m.

Patas

Gunung Patas mempunyai ketinggian 1,414 mdpl dan terletak di Kabupaten Buleleng.

Lok Badung

Gunung Lok Badung terletak di daerah Buleleng dengan tinggi mencapai 1,028 meter.

Kutul

Gunung Kutul berlokasi di Kabupaten Buleleng dengan total ketinggian 842 meter.

Silang Jana

Gunung Silang Jana juga terletak di Buleleng dengan tinggi mencapai 1,903 meter.

Referensi : Wikipedia, Badan Pusat Statistik Provinsi Bali
Permalink: Daftar Nama Pegunungan dan Gunung Berapi di Pulau Bali | Bali Glory

Rabu, 02 Desember 2015

Pura Batukaru: Tempat Suci di Lereng Gunung Batukaru Bali

- Hallo sahabat WIsata Bali dan Sekitarnya, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul , kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Objek Wisata, Artikel Pura, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Pura Batukaru: Tempat Suci di Lereng Gunung Batukaru Bali
link : Pura Batukaru: Tempat Suci di Lereng Gunung Batukaru Bali

Baca juga


Pura Batukaru adalah sebuah tempat suci Hindu yang terletak tepat di lereng gunung Batukaru Bali, selain sebagai tempat untuk bersembahyang yang sangat di sucikan oleh masyarakat Hindu Bali, Pura Batukaru juga terkenal sebagai tempat wisata yang banyak dikunjungi oleh wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Bagi anda yang sedang liburan di Bali, mungkin bisa mencoba merasakan suasana tenang, damai serta segarnya udara pegunungan dengan mengunjungi obyek wisata Pura Batukaru ini.

Konten
Sejarah Pura Luhur Batukaru
Upacara Piodalan Pura Batukaru
Peta Lokasi Pura Batukaru

Pura Batukaru terletak di Desa Wongaya Gede, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali. Kurang lebih 46 Kilometer dari kota Denpasar, lokasi Pura Luhur Batukaru terletak di bagian barat Pulau Bali di lereng selatan Gunung Batukaru. Kemungkinan besar nama Pura Batukaru diambil dari nama Gunung Batukaru itu sendiri. Pura Luhur Batukaru adalah selain sebagai tempat suci agama Hindu juga sebagai salah satu objek wisata yang sangat digemari oleh wisatawan yang ingin menikmati kesegaran dan kedamaian yang terdapat di kawasan Pura Batukaru ini, biasanya wisatawan akan mengunjungi pura Batukaru setelah/sebelum mereka mengunjungi tempat wisata sawah terasering Jatiluwih karena letak kedua objek wisata ini tidak terlalu jauh. di kawasan Pura Batukaru ini kita tidak akan menjumpai toko-toko suvenir, warung ataupun artshop seperti tempat wisata lainnya sehingga di kawasan Pura Batukaru ini memang sebuah tempat yang jauh dari kebisingan dan kesuciannya selalu dijaga oleh masyarakat Bali. Wisatawan yang ingin mengunjungi Pura Luhur Batukaru ini harus menggunakan pakaian yang sopan agar kesucian pura tetap terjaga.

Pura yang lain untuk dikunjungi di Kabupaten Tabanan

Pura Batukaru kemungkinan sebelumnya sudah dijadikan tempat pemujaan dan tempat bertapa oleh tokoh-tokoh spiritual di daerah Tabanan dan Bali pada umumnya. Pandangan tersebut didasarkan pada adanya penemuan sumber-sumber air dengan berbagai jenis arca Pancuran. Dari adanya sumber-sumber mata air tersebut dapat disimpulkan bahwa daerah ini pernah dijadikan tempat untuk bertapa bagi para pertapa (Wanaprastin) untuk mencari kedamaian hidupnya.

Pura Luhur Batukaru Temple, Bali - Indonesia
Pura Batukaru (Watukaru)

Sejarah Pura Luhur Batukaru

Informasi tentang sejarah Pura Luhur Batukaru ini sangat minim dan belum diketahui pasti siapa pendiri dan kapan berdiri nya, tetapi Pura Batukaru ini termasuk di dalam salah satu dari enam pura utama (Sad Kahyangan) di pulau Bali seperti yang disebutkan di dalam Lontar Kusuma Dewa. Pura Luhur Batukaru sudah ada pada abad ke-11 Masehi, sezaman dengan Pura Besakih, Pura Lempuyang Luhur, Pura Goa Lawah, Pura Luhur Uluwatu, dan Pura Pusering Jagat. Penggagas pembentukan dari Sad Kahyangan adalah Mpu Kuturan.

Setelah keberadaan Pura Batukaru pada abad ke-11 tersebut kita tidak mendapat keterangan dengan jelas bagaimana keadaan pura tersebut. Baru pada tahun 1605 Masehi ada keterangan dari kitab Babad Buleleng. Dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa Pura Luhur Batukaru pada tahun tersebut di atas dirusak oleh Raja Buleleng yang bernama Ki Gusti Ngurah Panji Sakti.

Dalam kitab babad tersebut diceritakan bahwa Kerajaan Buleleng sudah sangat aman dan tidak ada lagi musuh yang berani menyerangnya. Sang Raja ingin memperluas wilayahnya ke daerah Tabanan. Raja Ki Gusti Ngurah Panji Sakti dalam perjalanan menuju ke Tabanan bertemu dengan daerah Batukaru yang merupakan wilayah daerah Kerajaan Tabanan. Ki Gusti Ngurah Panji Sakti bersama prajuritnya kemudian merusak Pura Luhur Batukaru tersebut. Ketika Ki Panji Sakti dan prajuritnya merusak Pura Batukaru tiba-tiba datang ribuan tawon yang ganas menyerang dan menyengat mereka. Ki Panji Sakti beserta prajuritnya diserang habis-habisan oleh tawon yang ganas itu, kemudian Ki Panji Sakti dan prajurit nya mundur dan membatalkan niatnya untuk menyerang kerajaan Tabanan. Berkat ulah Ki Panji Sakti dan prajuritnya tersebut maka bangunan pelinggih Pura Batukaru rusak total dan tinggal puing-puing saja.

Baru kemudian pada tahun 1959 Pura Luhur Batukaru mendapat perbaikan sehingga bentuknya seperti sekarang ini. Pada tahun 1977 secara bertahap barulah ada perhatian dan bantuan dari pemerintah daerah dan sampai sekarang keadaan dan kondisi Pura Batukaru sudah semakin baik. Di Pura Luhur Batukaru ini selain terdapat bangunan utama, di sebelah timur nya juga terdapat sumber mata air yang terdiri atas dua bagian yaitu bagian yang berlokasi di dalam pura (jeroan) yang dipergunakan khusus untuk memohon air suci (tirtha) untuk keperluan upacara dan bagian yang kedua adalah untuk kepentingan mandi dan cuci muka sebagai pembersihan diri sebelum melakukan persembahyangan.

Di pura ini Dr. R. Goris, seorang ahli ilmu arkeologi, pernah mengadakan penelitian pada tahun 1928. Goris banyak menjumpai patung-patung yang jenisnya serupa dengan patung yang terdapat di Pura Goa Gajah yaitu patung yang mengeluarkan pancuran air dari pusarnya. Bedanya patung yang terdapat di Goa Gajah itu dalam posisi berdiri, sedangkan yang di Pura Batukaru dalam posisi duduk bersila. Menurut Goris, patung yang terdapat di Batukaru sejaman dengan patung yang terdapat di Pura Goa Gajah.Bangunan suci (Pelinggih) utama di Pura Batukaru adalah berbentuk Candi bukan Meru seperti kebanyakan pura yang ada di Bali. Ini sangat jelas dipengaruhi oleh arsitektur Jawa Timur dan India.

Upacara Piodalan Pura Batukaru

Pujawali atau Upacara piodalan di pura ini jatuh setiap 210 hari sekali yaitu pada hari Kamis, Wuku Dungulan (kalender Bali), satu hari setelah hari raya Galungan. Suatu hal yang unik di Pura Luhur Batukaru adalah pada saat proses upacara dilakukan dan upacara besar lainnya tidak pernah dipimpin oleh Pendeta/Pedanda. Upacara hanya dipimpin oleh Pemangku yang disebut Jero Kubayan.

Bagi mereka yang ingin sembahyang ke Pura Luhur Batukaru sangat direkomendasikan terlebih dahulu untuk bersembahyang di Pura Jero Taksu. Pura Jero Taksu terletak agak jauh dari Pura Batukaru.Tujuan persembahyangan di Pura Jero Taksu adalah untuk memohon agar proses sembahyang yang akan dilakukan nanti di Pura Luhur Batukaru akan mendapatkan keberhasilan dan tanpa rintangan. Pura Taksu ini merupakan bagian dari Pura Luhur Batukaru. Setelah itu barulah kemudian menuju ke pancuran dari mata air yang letaknya di bagian tenggara dari pura utama namun tetap berada dalam areal Pura Batukaru.

Pancuran dari mata air ini adalah bertujuan untuk menyucikan diri kita dengan berkumur, cuci muka dan cuci kaki, kemudian dilanjutkan dengan bersembahyang di Pelinggih yang ada di mata air tersebut sebagai tanda penyucian lahir batin (Skala dan Niskala) sebagai syarat utama agar pemujaan dapat dilakukan dengan jasmani dan rohani yang bersih dan suci.

Pura Luhur Batukaru adalah pura sebagai tempat memuja Tuhan dalam manifestasi-NYA sebagai Dewa Mahadewa. Karena fungsinya untuk memuja Tuhan sebagai Dewa yang menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dengan mempergunakan air secara benar, maka di Pura Batukaru ini disebut sebagai pemujaan Tuhan sebagai Ratu Hyang Tumuwuh (sebutan Tuhan sebagai yang menumbuhkan).

Pura Batukaru juga adalah sebagai Pura Padma Bhuwana yaitu sembilan pura yang terdapat di sembilan penjuru Pulau Bali. Pura Padma Bhuwana sebagai lambang pemujaan Tuhan yang ada di mana-mana di sembilan penjuru alam semesta. Tidak ada bagian alam semesta ini tanpa kehadiran Tuhan. Keberadaan Tuhan seperti itulah yang diekspresikan di sembilan pura di Pulau Bali.

Peta Lokasi Pura Batukaru

Lokasi Peta Pura Batukaru Bali oleh Google Maps



References: Babad Bali
Permalinks: Pura Batukaru: Tempat Suci di Lereng Gunung Batukaru Bali | Bali Glory

Pura Batukaru adalah sebuah tempat suci Hindu yang terletak tepat di lereng gunung Batukaru Bali, selain sebagai tempat untuk bersembahyang yang sangat di sucikan oleh masyarakat Hindu Bali, Pura Batukaru juga terkenal sebagai tempat wisata yang banyak dikunjungi oleh wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Bagi anda yang sedang liburan di Bali, mungkin bisa mencoba merasakan suasana tenang, damai serta segarnya udara pegunungan dengan mengunjungi obyek wisata Pura Batukaru ini.

Konten
Sejarah Pura Luhur Batukaru
Upacara Piodalan Pura Batukaru
Peta Lokasi Pura Batukaru

Pura Batukaru terletak di Desa Wongaya Gede, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali. Kurang lebih 46 Kilometer dari kota Denpasar, lokasi Pura Luhur Batukaru terletak di bagian barat Pulau Bali di lereng selatan Gunung Batukaru. Kemungkinan besar nama Pura Batukaru diambil dari nama Gunung Batukaru itu sendiri. Pura Luhur Batukaru adalah selain sebagai tempat suci agama Hindu juga sebagai salah satu objek wisata yang sangat digemari oleh wisatawan yang ingin menikmati kesegaran dan kedamaian yang terdapat di kawasan Pura Batukaru ini, biasanya wisatawan akan mengunjungi pura Batukaru setelah/sebelum mereka mengunjungi tempat wisata sawah terasering Jatiluwih karena letak kedua objek wisata ini tidak terlalu jauh. di kawasan Pura Batukaru ini kita tidak akan menjumpai toko-toko suvenir, warung ataupun artshop seperti tempat wisata lainnya sehingga di kawasan Pura Batukaru ini memang sebuah tempat yang jauh dari kebisingan dan kesuciannya selalu dijaga oleh masyarakat Bali. Wisatawan yang ingin mengunjungi Pura Luhur Batukaru ini harus menggunakan pakaian yang sopan agar kesucian pura tetap terjaga.

Pura yang lain untuk dikunjungi di Kabupaten Tabanan

Pura Batukaru kemungkinan sebelumnya sudah dijadikan tempat pemujaan dan tempat bertapa oleh tokoh-tokoh spiritual di daerah Tabanan dan Bali pada umumnya. Pandangan tersebut didasarkan pada adanya penemuan sumber-sumber air dengan berbagai jenis arca Pancuran. Dari adanya sumber-sumber mata air tersebut dapat disimpulkan bahwa daerah ini pernah dijadikan tempat untuk bertapa bagi para pertapa (Wanaprastin) untuk mencari kedamaian hidupnya.

Pura Luhur Batukaru Temple, Bali - Indonesia
Pura Batukaru (Watukaru)

Sejarah Pura Luhur Batukaru

Informasi tentang sejarah Pura Luhur Batukaru ini sangat minim dan belum diketahui pasti siapa pendiri dan kapan berdiri nya, tetapi Pura Batukaru ini termasuk di dalam salah satu dari enam pura utama (Sad Kahyangan) di pulau Bali seperti yang disebutkan di dalam Lontar Kusuma Dewa. Pura Luhur Batukaru sudah ada pada abad ke-11 Masehi, sezaman dengan Pura Besakih, Pura Lempuyang Luhur, Pura Goa Lawah, Pura Luhur Uluwatu, dan Pura Pusering Jagat. Penggagas pembentukan dari Sad Kahyangan adalah Mpu Kuturan.

Setelah keberadaan Pura Batukaru pada abad ke-11 tersebut kita tidak mendapat keterangan dengan jelas bagaimana keadaan pura tersebut. Baru pada tahun 1605 Masehi ada keterangan dari kitab Babad Buleleng. Dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa Pura Luhur Batukaru pada tahun tersebut di atas dirusak oleh Raja Buleleng yang bernama Ki Gusti Ngurah Panji Sakti.

Dalam kitab babad tersebut diceritakan bahwa Kerajaan Buleleng sudah sangat aman dan tidak ada lagi musuh yang berani menyerangnya. Sang Raja ingin memperluas wilayahnya ke daerah Tabanan. Raja Ki Gusti Ngurah Panji Sakti dalam perjalanan menuju ke Tabanan bertemu dengan daerah Batukaru yang merupakan wilayah daerah Kerajaan Tabanan. Ki Gusti Ngurah Panji Sakti bersama prajuritnya kemudian merusak Pura Luhur Batukaru tersebut. Ketika Ki Panji Sakti dan prajuritnya merusak Pura Batukaru tiba-tiba datang ribuan tawon yang ganas menyerang dan menyengat mereka. Ki Panji Sakti beserta prajuritnya diserang habis-habisan oleh tawon yang ganas itu, kemudian Ki Panji Sakti dan prajurit nya mundur dan membatalkan niatnya untuk menyerang kerajaan Tabanan. Berkat ulah Ki Panji Sakti dan prajuritnya tersebut maka bangunan pelinggih Pura Batukaru rusak total dan tinggal puing-puing saja.

Baru kemudian pada tahun 1959 Pura Luhur Batukaru mendapat perbaikan sehingga bentuknya seperti sekarang ini. Pada tahun 1977 secara bertahap barulah ada perhatian dan bantuan dari pemerintah daerah dan sampai sekarang keadaan dan kondisi Pura Batukaru sudah semakin baik. Di Pura Luhur Batukaru ini selain terdapat bangunan utama, di sebelah timur nya juga terdapat sumber mata air yang terdiri atas dua bagian yaitu bagian yang berlokasi di dalam pura (jeroan) yang dipergunakan khusus untuk memohon air suci (tirtha) untuk keperluan upacara dan bagian yang kedua adalah untuk kepentingan mandi dan cuci muka sebagai pembersihan diri sebelum melakukan persembahyangan.

Di pura ini Dr. R. Goris, seorang ahli ilmu arkeologi, pernah mengadakan penelitian pada tahun 1928. Goris banyak menjumpai patung-patung yang jenisnya serupa dengan patung yang terdapat di Pura Goa Gajah yaitu patung yang mengeluarkan pancuran air dari pusarnya. Bedanya patung yang terdapat di Goa Gajah itu dalam posisi berdiri, sedangkan yang di Pura Batukaru dalam posisi duduk bersila. Menurut Goris, patung yang terdapat di Batukaru sejaman dengan patung yang terdapat di Pura Goa Gajah.Bangunan suci (Pelinggih) utama di Pura Batukaru adalah berbentuk Candi bukan Meru seperti kebanyakan pura yang ada di Bali. Ini sangat jelas dipengaruhi oleh arsitektur Jawa Timur dan India.

Upacara Piodalan Pura Batukaru

Pujawali atau Upacara piodalan di pura ini jatuh setiap 210 hari sekali yaitu pada hari Kamis, Wuku Dungulan (kalender Bali), satu hari setelah hari raya Galungan. Suatu hal yang unik di Pura Luhur Batukaru adalah pada saat proses upacara dilakukan dan upacara besar lainnya tidak pernah dipimpin oleh Pendeta/Pedanda. Upacara hanya dipimpin oleh Pemangku yang disebut Jero Kubayan.

Bagi mereka yang ingin sembahyang ke Pura Luhur Batukaru sangat direkomendasikan terlebih dahulu untuk bersembahyang di Pura Jero Taksu. Pura Jero Taksu terletak agak jauh dari Pura Batukaru.Tujuan persembahyangan di Pura Jero Taksu adalah untuk memohon agar proses sembahyang yang akan dilakukan nanti di Pura Luhur Batukaru akan mendapatkan keberhasilan dan tanpa rintangan. Pura Taksu ini merupakan bagian dari Pura Luhur Batukaru. Setelah itu barulah kemudian menuju ke pancuran dari mata air yang letaknya di bagian tenggara dari pura utama namun tetap berada dalam areal Pura Batukaru.

Pancuran dari mata air ini adalah bertujuan untuk menyucikan diri kita dengan berkumur, cuci muka dan cuci kaki, kemudian dilanjutkan dengan bersembahyang di Pelinggih yang ada di mata air tersebut sebagai tanda penyucian lahir batin (Skala dan Niskala) sebagai syarat utama agar pemujaan dapat dilakukan dengan jasmani dan rohani yang bersih dan suci.

Pura Luhur Batukaru adalah pura sebagai tempat memuja Tuhan dalam manifestasi-NYA sebagai Dewa Mahadewa. Karena fungsinya untuk memuja Tuhan sebagai Dewa yang menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dengan mempergunakan air secara benar, maka di Pura Batukaru ini disebut sebagai pemujaan Tuhan sebagai Ratu Hyang Tumuwuh (sebutan Tuhan sebagai yang menumbuhkan).

Pura Batukaru juga adalah sebagai Pura Padma Bhuwana yaitu sembilan pura yang terdapat di sembilan penjuru Pulau Bali. Pura Padma Bhuwana sebagai lambang pemujaan Tuhan yang ada di mana-mana di sembilan penjuru alam semesta. Tidak ada bagian alam semesta ini tanpa kehadiran Tuhan. Keberadaan Tuhan seperti itulah yang diekspresikan di sembilan pura di Pulau Bali.

Peta Lokasi Pura Batukaru

Lokasi Peta Pura Batukaru Bali oleh Google Maps



References: Babad Bali
Permalinks: Pura Batukaru: Tempat Suci di Lereng Gunung Batukaru Bali | Bali Glory

Senin, 31 Agustus 2015

Pura Tanah Lot Bali: Sejarah & Keindahan Tanah Lot Sunset Bali

- Hallo sahabat WIsata Bali dan Sekitarnya, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul , kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Objek Wisata, Artikel Pura, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Pura Tanah Lot Bali: Sejarah & Keindahan Tanah Lot Sunset Bali
link : Pura Tanah Lot Bali: Sejarah & Keindahan Tanah Lot Sunset Bali

Baca juga


Pura Tanah Lot Bali atau juga disebut Pura Luhur Tanah Lot adalah sebuah tempat suci agama Hindu yang mempunyai keindahan yang natural dengan Tanah Lot sunset Bali yang memukau, Pura Tanah Lot Bali terletak di tepi pantai Tanah Lot dan berdiri di atas sebuah batu karang laut yang kokoh dan kuat, disebelah baratnya juga terdapat pura yang disebut Pura Batu Bolong yang juga memiliki pemandangan yang tidak kalah indahnya. Tempat wisata Tanah Lot Bali pada saat sunset atau matahari terbenam adalah pemandangan yang terbaik dan sangat indah yang bisa kita nikmati ketika mengunjungi salah satu tempat/obyek wisata favorit yang terkenal di Pulau Bali ini dan akan menjadikan liburan di Bali anda tidak terlupakan dan penuh kesan. Tempat suci ini adalah salah satu dari Pura Kahyangan Jagat, pura yang sangat sakral dan suci serta sangat dijaga kesucian dan kelestariannya oleh masyarakat Pulau Dewata.

Tanah Lot berasal dari kata "Tanah" yang artinya tanah dan "Lot" (Lod) yang artinya laut, karena letaknya di laut atau di pantai seperti mengambang ketika air laut pasang maka dapat diartikan Tanah Lot berarti sebuah Tanah atau Pulau yang terletak di laut, oleh karena itu orang-orang pun menyebutnya Tanah Lot.

Pura Tanah Lot berlokasi di Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, di pesisir selatan pulau Bali kurang lebih 25 kilometer dari Kota Denpasar. Pura Tanah Lot terletak di atas batu karang laut besar menghadap ke samudra Hindia. Tempat ibadah ini adalah sebuah pura Hindu yang dibangun untuk memuja Tuhan dalam manifestasi-NYA sebagai Dewa Laut atau Dewa Baruna untuk keselamatan dan kesejahteraan dunia serta keseimbangan antara laut dan bumi.

Konten
Sejarah Pura Tanah Lot
Upacara atau Piodalan Pura Tanah Lot
Ular Suci Tanah Lot dan Mitos
Pemandangan Sunset dan Waktu Terbaik Mengunjungi Tanah Lot
Peta dan Lokasi

Sejarah Pura Tanah Lot

Sejarah berdirinya Pura Tanah Lot sangat erat kaitannya dengan perjalanan suci dari Blambangan (pulau Jawa) ke Pulau Bali dari seorang pendeta suci yang bernama DangHyang Nirartha untuk menyebarkan agama Hindu di pulau dewata, masyarakat juga menyebut Beliau dengan sebutan DangHyang Dwijendra atau Pedanda Sakti Wawu Rauh. Pemimpin (Raja) di Bali pada saat itu adalah Raja Dalem Waturenggong sekitar abad ke-16 Masehi.

Di dalam Dwijendra Tatwa di jelaskan suatu ketika Dang Hyang Nirartha kembali ke Pura Rambut Siwi dalam perjalanannya ke pulau Bali, dimana Beliau pertama kali tiba di Bali dari Blambangan pada tahun Saka 1411 atau 1489 Masehi, Beliau telah berhenti di Pura Rambut Siwi ini. Ketika berada di Pura ini untuk beberapa saat, kemudian Beliau melanjutkan perjalanannya menuju Timur (Purwa) dan sebelum meninggalkan tempat itu Beliau menyempatkan diri untuk melakukan upacara "Surya Cewana" dengan masyarakat disekitar sana, setelah memercikkan air suci (tirtha) kepada masyarakat yang ikut bergabung dalam persembahyangan kemudian Beliau meninggalkan pura dan berjalan melanjutkan perjalanan ke Timur, perjalanan Beliau melewati pesisir pantai selatan pulau Bali dan diikuti oleh beberapa pengikut setia Beliau.

Pura Tanah Lot Bali- Sejarah dan Tanah Lot Sunset Bali - Indonesia
Foto credit: Komang Gede via Flickr

Di dalam perjalanan suci ini Dang Hyang Nirartha sangat menikmati dan kagum dengan keindahan pesisir pantai selatan Bali dengan keindahan yang alami yang sangat menarik. Beliau membayangkan bagaimana kebesaran Ida Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) telah menciptakan dunia dan beserta isinya untuk kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Dalam hati Beliau terbisik bahwa tugas seluruh makhluk hidup di dunia khususnya manusia untuk berterima kasih dan menjaga apa yang telah diciptakan-NYA.

Setelah melakukan perjalanan yang panjang akhirnya Dang Hyang Nirartha tiba dan berhenti di sebuah pantai yang terdapat batu karang dan juga terdapat mata air, batu karang itu disebut Gili Beo, "Gili" artinya pulau kecil dan "Beo" artinya burung, jadi Gili Beo berarti pulau kecil yang menyerupai burung. Pada waktu itu di kawasan Desa Beraban ini di pimpin oleh Bendesa Beraban Sakti, kemudian di tempat inilah DangHyang Nirartha berhenti dan beristirahat, tidak lama Beliau beristirahat datanglah para nelayan yang ingin bertemu dengan Beliau dan membawakan beberapa persembahan untuk Beliau, dan setelah senja tiba mereka memohon kepada Beliau untuk bermalam di rumah mereka, tetapi permohonan mereka ditolak oleh Beliau dan Beliau lebih memilih untuk bermalam di Gili Beo karena di tempat ini Beliau bisa menikmati udara yang segar dengan pemandangan yang indah dan bisa melepaskan pandangan ke segala arah. Pada malam hari sebelum Beliau beristirahat, Beliau menyempatkan diri untuk mengajarkan agama dan moral kepada masyarakat yang datang kepada Beliau, tetapi kehadiran Dang Hyang Nirartha ini tidak disukai oleh Bendesa Beraban Sakti, karena ajaran-ajarannya tidak sesuai dan tidak searah dengan ajaran-ajaran dari Dang Hyang Nirartha dan ini membuat Bendesa Beraban Sakti menjadi marah dan dia mengundang pengikut-pengikutnya untuk mengusir DangHyang Nirartha dari kawasan itu, kemudian untuk memproteksi diri Beliau dari agresi Bendesa Beraban Sakti akhirnya dengan kekuatan supranatural Beliau kemudian Gili Beo dipindahkan agak ketengah ke laut dan Beliau menciptakan ular dari selendang yang Beliau pakai untuk menjaga Gili Beo agar selalu aman dari serangan-serangan jahat. Kemudian setelah kejadian itu Gili Beo berubah nama menjadi Tanah Lot (Tanah di laut), setelah melihat keajaiban dari DangHyang Nirartha akhirnya Bendesa Beraban Sakti menyerah dan kemudian dia menjadi pengikut setia Beliau untuk melanjutkan mengajarkan agama Hindu kepada masyarakat, dan untuk jasanya itu Dang Hyang Nirartha memberikan sebuah keris kepada Bendesa Beraban Sakti sebelum Beliau melanjutkan perjalanan suci nya (Keris adalah sebuah belati asimetris khas dari Indonesia yang dipakai sebagai senjata dan juga objek spiritual, keris sering dianggap memiliki kekuatan magis. Awal keris dikenal atau dibuat pada sekitar abad 1360 Masehi dan mungkin menyebar dari pulau ke pulau di seluruh Asia Tenggara). Keris yang diberikan kepada Bendesa Beraban Sakti disebut Jaramenara atau keris Ki Baru Gajah, sampai sekarang keris itu disimpan dengan baik dan sucikan di Puri Kediri. Pada saat itu DangHyang Nirartha menyarankan kepada masyarakat untuk membuat pura (parahyangan) di Tanah Lot karena menurut getaran suci dan bimbingan supranatural Beliau di tempat ini adalah sebuah tempat yang sangat baik untuk memuja Tuhan, dari tempat ini kemudian masyarakat bisa menyembah kebesaran Tuhan dalam manifestasi-NYA sebagai Dewa Laut untuk keselamatan dan kesejahteraan dunia.

Terdapat 8 pura suci yang ada disekitar area Tanah Lot, masing-masing dengan fungsi dan tujuan sendiri.

  1. Pura Penataran - berlokasi di bagian utara dari Pura Tanah Lot, pura untuk memuja Tuhan dan manifestasi-NYA untuk kebahagiaan dan kesejahteraan.
  2. Pura Penyawang - berlokasi di bagian barat dari Pura Penataran, ini adalah tempat alternatif untuk bersembahyang karena pada saat air laut pasang orang-orang yang ingin bersembahyang tidak bisa naik dan masuk ke Pura Tanah Lot.
  3. Pura Jero Kandang - berlokasi sekitar 100 meter di sebelah barat Pura Penyawang, pura ini dibangun untuk memohon kepada Tuhan agar diberikan kesejahteraan dan keselamatan bagi ternak dan tanaman.
  4. Pura Enjung Galuh - berlokasi dekat dengan Pura Jero Kandang, pura ini dibangun untuk memuja Dewi Sri untuk kesuburan tanah dan pertanian.
  5. Pura Batu Bolong - berlokasi sekitar 100 meter disebelah barat Pura Enjung Galuh, pura ini digunakan pada saat upacara Melasti atau upacara penyucian.
  6. Pura Batu Mejan - berlokasi kurang lebih 100 meter pada bagian barat Pura Batu Bolong, Pura Batu Mejan juga disebut Pura Beji. Beji berarti mata air dalam bahasa Bali, masyarakat percaya bahwa air suci dari mata air ini bisa menyucikan segala sesuatu dari keburukan atau unsur-unsur negatif.
  7. Monumen Tri Antaka - Monumen ini dibuat untuk menghormati 3 pahlawan Bali, yaitu: I gusti Ketut Kereg, I Wayan Kamias dan I Nyoman Regug, yang telah berperang untuk mempertahankan pulau Bali dari penjajah tentara NICA (Netherlands Indies Civil Administration) pada Juni 1946 di kawasan Tanah Lot.
  8. Pura Pakendungan - Berlokasi di bagian Barat kira-kira 300 meter dari Pura Tanah Lot. Di Pura Pekendungan inilah tempat dimana Dang Hyang Nirartha bermeditasi dan juga ditempat inilah keris sakti Jaramenara diberikan kepada Bendesa Beraban Sakti.

Pada tahun 1980, bagian pinggir karang Pura Tanah Lot terkikis karena mengalami abrasi dan menjadikan area di tempat suci ini berbahaya bagi keselamatan pengunjung dan pemedek (Pemedek: orang-orang yang ingin bersembahyang di pura). Maka dilakukanlah proyek yang didukung oleh pemerintah Jepang dan Jerman untuk menanggulangi hal ini dan untuk menjaga pura yang bersejarah ini agar tetap berdiri kokoh di atas batu karang laut.

Pura yang lainnya yang terdapat di Kabupaten Tabanan

Upacara atau Piodalan Pura Tanah Lot

Upacara Piodalan Pura Tanah Lot Temple
Tanah Lot Temple Anniversary

Upacara di Pura Tanah Lot (Upacara di pura dalam bahasa Bali disebut Piodalan/Pujawali) dilaksanakan atau diadakan setiap 210 hari (6 bulan) menurut kalender Bali/kalender Saka, piodalan di pura Tanah Lot jatuh pada hari Buda Wage Langkir, 4 hari setelah Hari Raya Kuningan. Sebelum pemedek memasuki pura, mereka pertama-tama harus bersembahyang di Beji Kaler, Tanah Lot: Bali: Pura di atas Karang Laut & View Indah Sunset Beji Kaler adalah sebuah mata air suci yang berada tepat dibawah Pura Tanah Lot. Sebelum mereka memasuki pura utama, mereka harus bersembahyang dan meminum dan membasuh wajah mereka dengan air yang diambil dari mata air suci Beji Kaler ini dengan tujuan agar jiwa dan pikiran mereka bersih sebelum masuk dan melakukan persembahyangan di Pura Luhur Tanah Lot. Selama upacara/piodalan di Pura Tanah Lot, masyarakat Bali khususnya yang beragama Hindu akan datang untuk melakukan persembahyangan agar memperoleh keselamatan dan kesejahteraan, bahkan banyak dari mereka juga datang dari daerah lain di Indonesia. Upacara di Pura Tanah Lot dilakukan/diadakan (Nyejer) selama 3 hari.

Ular Suci Tanah Lot dan Mitos

Mitos dan Ular Suci Tanah Lot
Ular Suci Pura Tanah Lot

Keunikan dari Tanah Lot adalah terkait dengan mitos dari masyarakat setempat tentang ular suci yang ada di Pura Tanah Lot, ular suci Tanah Lot dipercaya sebagai penjaga dan penyelamat dari Pura Tanah Lot dari serangan-serangan jahat yang mengganggu kesucian pura. Jenis ular itu dari bahasa Latin bernama Bungarus Candidus, ular laut yang sangat berbisa dan berbahaya, pada tubuhnya mempunyai warna hitam dan putih melingkar. Ular suci ini akan menyerang siapa saja yang ingin berbuat jahat dan ingin merusak keberadaan dan kesucian Pura Tanah Lot, tetapi meskipun begitu ular suci ini akan tetap diam dan tenang di dalam goa yang terdapat di sudut karang yang ada di dekat Pura Tanah Lot, bahkan pengunjung pun bisa menyentuh dan mengelus-elus ular suci ini tanpa khawatir akan serangan balik dari ular ini dan tentu saja kita akan ditemani oleh seseorang yang mengerti akan karakter dari ular suci ini. Masyarakat setempat juga mempercayai dengan menyentuh ular suci ini sambil berdoa maka apa yang kita inginkan akan terkabulkan, sebuah mitos yang boleh dipercaya atau tidak.

Pemandangan Sunset dan Waktu Terbaik Mengunjungi Tanah Lot

Tanah Lot adalah daerah tujuan wisata yang sangat terkenal di dunia, dan menjadi salah satu obyek wisata terbaik di pulau Bali serta salah satu tempat wisata favorit untuk menikmati keindahan sunset/matahari tenggelam di pulau dewata. Setiap hari objek wisata ini dikunjungi oleh ribuan wisatawan baik wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. Banyak turis/wisatawan bertanya jam berapa sunset di Tanah Lot? untuk bisa menikmati keindahan Pura Tanah Lot dengan pemandangan sunset view yang keren, direkomendasikan mengunjungi Tanah Lot pada senja atau sore hari dengan cuaca yang cerah, dari sekitar jam 4 sore sampai jam 7 petang/malam adalah waktu yang terbaik untuk mengunjungi Tanah Lot karena pada jam-jam itu dengan cuaca yang cerah kita bisa menikmati keindahan sunset/matahari terbenam yang spektakular. Selain itu pengunjung juga bisa berjalan-jalan dan berada dekat dengan batu karang dari areal pura pada saat air laut surut, tetapi sangat berbahaya dan tidak dianjurkan melakukan hal itu pada air laut pasang. Tempat wisata Tanah Lot juga sangat cocok dijadikan sebagai liburan keluarga, dalam kawasan ini juga terdapat fasilitas yang memadai seperti hotel, restoran, sunset teras, Tanah Lot cultural park, toko suvenir, tempat parkir yang luas, fasilitas emergensi, fasilitas keamanan sekuriti (security), toilet, tempat bersantai dan juga pusat informasi.

Peta dan Lokasi

Lokasi dan Peta Tanah Lot, Bali oleh Google Maps

Referensi : Situs resmi Tanah Lot
Permalink: Pura Tanah Lot Bali: Sejarah & Keindahan Tanah Lot Sunset Bali | Bali Glory

Pura Tanah Lot Bali atau juga disebut Pura Luhur Tanah Lot adalah sebuah tempat suci agama Hindu yang mempunyai keindahan yang natural dengan Tanah Lot sunset Bali yang memukau, Pura Tanah Lot Bali terletak di tepi pantai Tanah Lot dan berdiri di atas sebuah batu karang laut yang kokoh dan kuat, disebelah baratnya juga terdapat pura yang disebut Pura Batu Bolong yang juga memiliki pemandangan yang tidak kalah indahnya. Tempat wisata Tanah Lot Bali pada saat sunset atau matahari terbenam adalah pemandangan yang terbaik dan sangat indah yang bisa kita nikmati ketika mengunjungi salah satu tempat/obyek wisata favorit yang terkenal di Pulau Bali ini dan akan menjadikan liburan di Bali anda tidak terlupakan dan penuh kesan. Tempat suci ini adalah salah satu dari Pura Kahyangan Jagat, pura yang sangat sakral dan suci serta sangat dijaga kesucian dan kelestariannya oleh masyarakat Pulau Dewata.

Tanah Lot berasal dari kata "Tanah" yang artinya tanah dan "Lot" (Lod) yang artinya laut, karena letaknya di laut atau di pantai seperti mengambang ketika air laut pasang maka dapat diartikan Tanah Lot berarti sebuah Tanah atau Pulau yang terletak di laut, oleh karena itu orang-orang pun menyebutnya Tanah Lot.

Pura Tanah Lot berlokasi di Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, di pesisir selatan pulau Bali kurang lebih 25 kilometer dari Kota Denpasar. Pura Tanah Lot terletak di atas batu karang laut besar menghadap ke samudra Hindia. Tempat ibadah ini adalah sebuah pura Hindu yang dibangun untuk memuja Tuhan dalam manifestasi-NYA sebagai Dewa Laut atau Dewa Baruna untuk keselamatan dan kesejahteraan dunia serta keseimbangan antara laut dan bumi.

Konten
Sejarah Pura Tanah Lot
Upacara atau Piodalan Pura Tanah Lot
Ular Suci Tanah Lot dan Mitos
Pemandangan Sunset dan Waktu Terbaik Mengunjungi Tanah Lot
Peta dan Lokasi

Sejarah Pura Tanah Lot

Sejarah berdirinya Pura Tanah Lot sangat erat kaitannya dengan perjalanan suci dari Blambangan (pulau Jawa) ke Pulau Bali dari seorang pendeta suci yang bernama DangHyang Nirartha untuk menyebarkan agama Hindu di pulau dewata, masyarakat juga menyebut Beliau dengan sebutan DangHyang Dwijendra atau Pedanda Sakti Wawu Rauh. Pemimpin (Raja) di Bali pada saat itu adalah Raja Dalem Waturenggong sekitar abad ke-16 Masehi.

Di dalam Dwijendra Tatwa di jelaskan suatu ketika Dang Hyang Nirartha kembali ke Pura Rambut Siwi dalam perjalanannya ke pulau Bali, dimana Beliau pertama kali tiba di Bali dari Blambangan pada tahun Saka 1411 atau 1489 Masehi, Beliau telah berhenti di Pura Rambut Siwi ini. Ketika berada di Pura ini untuk beberapa saat, kemudian Beliau melanjutkan perjalanannya menuju Timur (Purwa) dan sebelum meninggalkan tempat itu Beliau menyempatkan diri untuk melakukan upacara "Surya Cewana" dengan masyarakat disekitar sana, setelah memercikkan air suci (tirtha) kepada masyarakat yang ikut bergabung dalam persembahyangan kemudian Beliau meninggalkan pura dan berjalan melanjutkan perjalanan ke Timur, perjalanan Beliau melewati pesisir pantai selatan pulau Bali dan diikuti oleh beberapa pengikut setia Beliau.

Pura Tanah Lot Bali- Sejarah dan Tanah Lot Sunset Bali - Indonesia
Foto credit: Komang Gede via Flickr

Di dalam perjalanan suci ini Dang Hyang Nirartha sangat menikmati dan kagum dengan keindahan pesisir pantai selatan Bali dengan keindahan yang alami yang sangat menarik. Beliau membayangkan bagaimana kebesaran Ida Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) telah menciptakan dunia dan beserta isinya untuk kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Dalam hati Beliau terbisik bahwa tugas seluruh makhluk hidup di dunia khususnya manusia untuk berterima kasih dan menjaga apa yang telah diciptakan-NYA.

Setelah melakukan perjalanan yang panjang akhirnya Dang Hyang Nirartha tiba dan berhenti di sebuah pantai yang terdapat batu karang dan juga terdapat mata air, batu karang itu disebut Gili Beo, "Gili" artinya pulau kecil dan "Beo" artinya burung, jadi Gili Beo berarti pulau kecil yang menyerupai burung. Pada waktu itu di kawasan Desa Beraban ini di pimpin oleh Bendesa Beraban Sakti, kemudian di tempat inilah DangHyang Nirartha berhenti dan beristirahat, tidak lama Beliau beristirahat datanglah para nelayan yang ingin bertemu dengan Beliau dan membawakan beberapa persembahan untuk Beliau, dan setelah senja tiba mereka memohon kepada Beliau untuk bermalam di rumah mereka, tetapi permohonan mereka ditolak oleh Beliau dan Beliau lebih memilih untuk bermalam di Gili Beo karena di tempat ini Beliau bisa menikmati udara yang segar dengan pemandangan yang indah dan bisa melepaskan pandangan ke segala arah. Pada malam hari sebelum Beliau beristirahat, Beliau menyempatkan diri untuk mengajarkan agama dan moral kepada masyarakat yang datang kepada Beliau, tetapi kehadiran Dang Hyang Nirartha ini tidak disukai oleh Bendesa Beraban Sakti, karena ajaran-ajarannya tidak sesuai dan tidak searah dengan ajaran-ajaran dari Dang Hyang Nirartha dan ini membuat Bendesa Beraban Sakti menjadi marah dan dia mengundang pengikut-pengikutnya untuk mengusir DangHyang Nirartha dari kawasan itu, kemudian untuk memproteksi diri Beliau dari agresi Bendesa Beraban Sakti akhirnya dengan kekuatan supranatural Beliau kemudian Gili Beo dipindahkan agak ketengah ke laut dan Beliau menciptakan ular dari selendang yang Beliau pakai untuk menjaga Gili Beo agar selalu aman dari serangan-serangan jahat. Kemudian setelah kejadian itu Gili Beo berubah nama menjadi Tanah Lot (Tanah di laut), setelah melihat keajaiban dari DangHyang Nirartha akhirnya Bendesa Beraban Sakti menyerah dan kemudian dia menjadi pengikut setia Beliau untuk melanjutkan mengajarkan agama Hindu kepada masyarakat, dan untuk jasanya itu Dang Hyang Nirartha memberikan sebuah keris kepada Bendesa Beraban Sakti sebelum Beliau melanjutkan perjalanan suci nya (Keris adalah sebuah belati asimetris khas dari Indonesia yang dipakai sebagai senjata dan juga objek spiritual, keris sering dianggap memiliki kekuatan magis. Awal keris dikenal atau dibuat pada sekitar abad 1360 Masehi dan mungkin menyebar dari pulau ke pulau di seluruh Asia Tenggara). Keris yang diberikan kepada Bendesa Beraban Sakti disebut Jaramenara atau keris Ki Baru Gajah, sampai sekarang keris itu disimpan dengan baik dan sucikan di Puri Kediri. Pada saat itu DangHyang Nirartha menyarankan kepada masyarakat untuk membuat pura (parahyangan) di Tanah Lot karena menurut getaran suci dan bimbingan supranatural Beliau di tempat ini adalah sebuah tempat yang sangat baik untuk memuja Tuhan, dari tempat ini kemudian masyarakat bisa menyembah kebesaran Tuhan dalam manifestasi-NYA sebagai Dewa Laut untuk keselamatan dan kesejahteraan dunia.

Terdapat 8 pura suci yang ada disekitar area Tanah Lot, masing-masing dengan fungsi dan tujuan sendiri.

  1. Pura Penataran - berlokasi di bagian utara dari Pura Tanah Lot, pura untuk memuja Tuhan dan manifestasi-NYA untuk kebahagiaan dan kesejahteraan.
  2. Pura Penyawang - berlokasi di bagian barat dari Pura Penataran, ini adalah tempat alternatif untuk bersembahyang karena pada saat air laut pasang orang-orang yang ingin bersembahyang tidak bisa naik dan masuk ke Pura Tanah Lot.
  3. Pura Jero Kandang - berlokasi sekitar 100 meter di sebelah barat Pura Penyawang, pura ini dibangun untuk memohon kepada Tuhan agar diberikan kesejahteraan dan keselamatan bagi ternak dan tanaman.
  4. Pura Enjung Galuh - berlokasi dekat dengan Pura Jero Kandang, pura ini dibangun untuk memuja Dewi Sri untuk kesuburan tanah dan pertanian.
  5. Pura Batu Bolong - berlokasi sekitar 100 meter disebelah barat Pura Enjung Galuh, pura ini digunakan pada saat upacara Melasti atau upacara penyucian.
  6. Pura Batu Mejan - berlokasi kurang lebih 100 meter pada bagian barat Pura Batu Bolong, Pura Batu Mejan juga disebut Pura Beji. Beji berarti mata air dalam bahasa Bali, masyarakat percaya bahwa air suci dari mata air ini bisa menyucikan segala sesuatu dari keburukan atau unsur-unsur negatif.
  7. Monumen Tri Antaka - Monumen ini dibuat untuk menghormati 3 pahlawan Bali, yaitu: I gusti Ketut Kereg, I Wayan Kamias dan I Nyoman Regug, yang telah berperang untuk mempertahankan pulau Bali dari penjajah tentara NICA (Netherlands Indies Civil Administration) pada Juni 1946 di kawasan Tanah Lot.
  8. Pura Pakendungan - Berlokasi di bagian Barat kira-kira 300 meter dari Pura Tanah Lot. Di Pura Pekendungan inilah tempat dimana Dang Hyang Nirartha bermeditasi dan juga ditempat inilah keris sakti Jaramenara diberikan kepada Bendesa Beraban Sakti.

Pada tahun 1980, bagian pinggir karang Pura Tanah Lot terkikis karena mengalami abrasi dan menjadikan area di tempat suci ini berbahaya bagi keselamatan pengunjung dan pemedek (Pemedek: orang-orang yang ingin bersembahyang di pura). Maka dilakukanlah proyek yang didukung oleh pemerintah Jepang dan Jerman untuk menanggulangi hal ini dan untuk menjaga pura yang bersejarah ini agar tetap berdiri kokoh di atas batu karang laut.

Pura yang lainnya yang terdapat di Kabupaten Tabanan

Upacara atau Piodalan Pura Tanah Lot

Upacara Piodalan Pura Tanah Lot Temple
Tanah Lot Temple Anniversary

Upacara di Pura Tanah Lot (Upacara di pura dalam bahasa Bali disebut Piodalan/Pujawali) dilaksanakan atau diadakan setiap 210 hari (6 bulan) menurut kalender Bali/kalender Saka, piodalan di pura Tanah Lot jatuh pada hari Buda Wage Langkir, 4 hari setelah Hari Raya Kuningan. Sebelum pemedek memasuki pura, mereka pertama-tama harus bersembahyang di Beji Kaler, Tanah Lot: Bali: Pura di atas Karang Laut & View Indah Sunset Beji Kaler adalah sebuah mata air suci yang berada tepat dibawah Pura Tanah Lot. Sebelum mereka memasuki pura utama, mereka harus bersembahyang dan meminum dan membasuh wajah mereka dengan air yang diambil dari mata air suci Beji Kaler ini dengan tujuan agar jiwa dan pikiran mereka bersih sebelum masuk dan melakukan persembahyangan di Pura Luhur Tanah Lot. Selama upacara/piodalan di Pura Tanah Lot, masyarakat Bali khususnya yang beragama Hindu akan datang untuk melakukan persembahyangan agar memperoleh keselamatan dan kesejahteraan, bahkan banyak dari mereka juga datang dari daerah lain di Indonesia. Upacara di Pura Tanah Lot dilakukan/diadakan (Nyejer) selama 3 hari.

Ular Suci Tanah Lot dan Mitos

Mitos dan Ular Suci Tanah Lot
Ular Suci Pura Tanah Lot

Keunikan dari Tanah Lot adalah terkait dengan mitos dari masyarakat setempat tentang ular suci yang ada di Pura Tanah Lot, ular suci Tanah Lot dipercaya sebagai penjaga dan penyelamat dari Pura Tanah Lot dari serangan-serangan jahat yang mengganggu kesucian pura. Jenis ular itu dari bahasa Latin bernama Bungarus Candidus, ular laut yang sangat berbisa dan berbahaya, pada tubuhnya mempunyai warna hitam dan putih melingkar. Ular suci ini akan menyerang siapa saja yang ingin berbuat jahat dan ingin merusak keberadaan dan kesucian Pura Tanah Lot, tetapi meskipun begitu ular suci ini akan tetap diam dan tenang di dalam goa yang terdapat di sudut karang yang ada di dekat Pura Tanah Lot, bahkan pengunjung pun bisa menyentuh dan mengelus-elus ular suci ini tanpa khawatir akan serangan balik dari ular ini dan tentu saja kita akan ditemani oleh seseorang yang mengerti akan karakter dari ular suci ini. Masyarakat setempat juga mempercayai dengan menyentuh ular suci ini sambil berdoa maka apa yang kita inginkan akan terkabulkan, sebuah mitos yang boleh dipercaya atau tidak.

Pemandangan Sunset dan Waktu Terbaik Mengunjungi Tanah Lot

Tanah Lot adalah daerah tujuan wisata yang sangat terkenal di dunia, dan menjadi salah satu obyek wisata terbaik di pulau Bali serta salah satu tempat wisata favorit untuk menikmati keindahan sunset/matahari tenggelam di pulau dewata. Setiap hari objek wisata ini dikunjungi oleh ribuan wisatawan baik wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. Banyak turis/wisatawan bertanya jam berapa sunset di Tanah Lot? untuk bisa menikmati keindahan Pura Tanah Lot dengan pemandangan sunset view yang keren, direkomendasikan mengunjungi Tanah Lot pada senja atau sore hari dengan cuaca yang cerah, dari sekitar jam 4 sore sampai jam 7 petang/malam adalah waktu yang terbaik untuk mengunjungi Tanah Lot karena pada jam-jam itu dengan cuaca yang cerah kita bisa menikmati keindahan sunset/matahari terbenam yang spektakular. Selain itu pengunjung juga bisa berjalan-jalan dan berada dekat dengan batu karang dari areal pura pada saat air laut surut, tetapi sangat berbahaya dan tidak dianjurkan melakukan hal itu pada air laut pasang. Tempat wisata Tanah Lot juga sangat cocok dijadikan sebagai liburan keluarga, dalam kawasan ini juga terdapat fasilitas yang memadai seperti hotel, restoran, sunset teras, Tanah Lot cultural park, toko suvenir, tempat parkir yang luas, fasilitas emergensi, fasilitas keamanan sekuriti (security), toilet, tempat bersantai dan juga pusat informasi.

Peta dan Lokasi

Lokasi dan Peta Tanah Lot, Bali oleh Google Maps

Referensi : Situs resmi Tanah Lot
Permalink: Pura Tanah Lot Bali: Sejarah & Keindahan Tanah Lot Sunset Bali | Bali Glory

Sabtu, 22 Agustus 2015

Alas Kedaton: Suaka Alam Hutan Monyet/Kera Sakral Bali

- Hallo sahabat WIsata Bali dan Sekitarnya, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul , kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Hutan Monyet, Artikel Objek Wisata, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Alas Kedaton: Suaka Alam Hutan Monyet/Kera Sakral Bali
link : Alas Kedaton: Suaka Alam Hutan Monyet/Kera Sakral Bali

Baca juga


Hutan monyet Alas Kedaton adalah salah satu suaka alam hutan kera yang terkenal di pulau Bali, mempunyai luas kurang lebih 6.4 hektar yang dihuni oleh ratusan kera dan kelelawar besar (kalong). Nama Alas Kedaton diambil dari kata "alas" yang berarti hutan/rimba dan "kedaton" yang artinya istana (keraton), hutan kera Alas Kedaton terletak di Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, kurang lebih 35 kilometer ditempuh dari Kota Denpasar. Hutan Kedaton adalah sebuah hutan hujan kecil yang merupakan hutan monyet yang sakral dan sangat dijaga oleh masyarakat Pulau Dewata.

Konten
Monyet/Kera di Hutan Alas Kedaton
Pura Alas Kedaton
Peta Hutan Kera/Monyet Alas Kedaton

Monyet/Kera di Hutan Alas Kedaton

Spesies kera/monyet yang ada di pulau Bali dan juga yang menghuni hutan Alas Kedaton adalah berjenis crab-eating macaque (bahasa latin nya adalah Macaca Fascicularis) juga disebut long-tailed macaque. Jenis monyet ini adalah merupakan penghuni asli primata cercopithecine di Asia Tenggara, monyet ini juga disebut sebagai monyet cynomolgus di laboratorium, dan memiliki sejarah yang panjang bersama manusia. Mereka juga dianggap sebagai hama pertanian, sebagai hewan suci di beberapa kuil dan pura, dan juga sebagai subjek percobaan medis. Kera jenis ini hidup dalam kelompok sosial matrilineal dengan dominasi hirarki betina di alam liar, dan anggota jantan akan meninggalkan kelompok mereka ketika mencapai pubertas/dewasa.

Hutan monyet Alas kedaton - hutan kera - monkey forest - obyek wisata
Hutan Monyet Alas Kedaton, Bali

Monyet jenis ini ketika dewasa mempunyai panjang tubuh yang bervariasi antara 38-55 cm (15-22 inchi) dengan lengan dan kaki yang relatif pendek. Kera yang berkelamin jantan jauh lebih besar dari yang betina, dengan berat 5-9 kilogram dibandingkan dengan yang betina antara 3-6 kg Alas Kedaton: Bali: Suaka Alam Hutan Monyet/Kera Sakral. Mempunyai ekor lebih panjang daripada tubuh nya, biasanya antara 40-65 cm (16-26 inchi) yang digunakan untuk keseimbangan ketika mereka melompat dengan jarak hingga 5 meter (16,4 kaki). Bagian atas tubuh nya berwarna coklat gelap dengan coklat muda keemasan. Bagian bawah berwarna abu-abu muda dengan abu-abu gelap/coklat pada bagian ekor. Kera jenis ini memiliki rambut yang kadang-kadang berbentuk garis puncak pendek dari kepala ke belakang sampai pada punggung nya. Kulit mereka hitam pada kaki dan telinga, sedangkan kulit di moncong adalah warna merah muda keabu-abuan. Kelopak mata sering memiliki tanda putih menonjol dan kadang-kadang ada bintik-bintik putih di telinga. Pada jantan memiliki karakteristik kumis dan pipi kumis, sementara pada betina hanya memiliki kumis pipi. Monyet ini memiliki kantong pipi yang mereka gunakan untuk menyimpan makanan saat mencari makan. Pada betina tidak menunjukkan pembengkakan perineum.

Pura Alas Kedaton

Pura Alas Kedaton - tempat wisata - pulau dewata
Pura Alas Kedaton, Bali

Pura Alas Kedaton adalah sebuah pura Hindu yang dibangun pada zaman megalitikum kuno, yang terletak di tengah-tengah hutan monyet Alas Kedaton. Pura Alas Kedaton sendiri dibangun oleh Mpu Kuturan pada masa pemerinthan Raja Sri Masula Masuli di pulau dewata tahun 1178 - 1255 Masehi.

Hutan kera Alas Kedaton adalah sebuah hutan monyet yang sangat terkenal diantara hutan-hutan kera di Bali serta menjadi tujuan dan tempat wisata favorit bagi wisatawan lokal maupun internasional. Tempat ini banyak dikunjungi wisatawan terutama pada saat liburan umum atau liburan sekolah. Pengunjung biasanya akan ditemani oleh guide lokal yang tahu daerah di sekitar hutan untuk memandu wisatawan melihat-lihat sekeliling pura dan area hutan Alas Kedaton. Kera-kera yang ada di hutan Kedaton sangat ramah kepada pengunjung tetapi meskipun begitu pengunjung tetap disarankan agar tetap berhati-hati terhadap barang bawaan mereka dan tidak berada terlalu dekat dengan monyet-monyet karena mereka juga akan bisa menyerang ketika mereka merasa terganggu. Tidak jauh dari hutan kera ini juga terdapat fasilitas lainnya seperti tempat bermain untuk anak-anak, tempat parkir yang luas dan kios-kios yang menjual cinderamata untuk oleh-oleh.

Peta Hutan Kera/Monyet Alas Kedaton

Lokasi dan Peta Hutan Monyet/Kera Alas Kedaton oleh Google Maps

Referensi : Alas Kedaton, Crab-eating macaque
Permalink: Alas Kedaton: Suaka Alam Hutan Monyet/Kera Sakral Bali

Hutan monyet Alas Kedaton adalah salah satu suaka alam hutan kera yang terkenal di pulau Bali, mempunyai luas kurang lebih 6.4 hektar yang dihuni oleh ratusan kera dan kelelawar besar (kalong). Nama Alas Kedaton diambil dari kata "alas" yang berarti hutan/rimba dan "kedaton" yang artinya istana (keraton), hutan kera Alas Kedaton terletak di Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, kurang lebih 35 kilometer ditempuh dari Kota Denpasar. Hutan Kedaton adalah sebuah hutan hujan kecil yang merupakan hutan monyet yang sakral dan sangat dijaga oleh masyarakat Pulau Dewata.

Konten
Monyet/Kera di Hutan Alas Kedaton
Pura Alas Kedaton
Peta Hutan Kera/Monyet Alas Kedaton

Monyet/Kera di Hutan Alas Kedaton

Spesies kera/monyet yang ada di pulau Bali dan juga yang menghuni hutan Alas Kedaton adalah berjenis crab-eating macaque (bahasa latin nya adalah Macaca Fascicularis) juga disebut long-tailed macaque. Jenis monyet ini adalah merupakan penghuni asli primata cercopithecine di Asia Tenggara, monyet ini juga disebut sebagai monyet cynomolgus di laboratorium, dan memiliki sejarah yang panjang bersama manusia. Mereka juga dianggap sebagai hama pertanian, sebagai hewan suci di beberapa kuil dan pura, dan juga sebagai subjek percobaan medis. Kera jenis ini hidup dalam kelompok sosial matrilineal dengan dominasi hirarki betina di alam liar, dan anggota jantan akan meninggalkan kelompok mereka ketika mencapai pubertas/dewasa.

Hutan monyet Alas kedaton - hutan kera - monkey forest - obyek wisata
Hutan Monyet Alas Kedaton, Bali

Monyet jenis ini ketika dewasa mempunyai panjang tubuh yang bervariasi antara 38-55 cm (15-22 inchi) dengan lengan dan kaki yang relatif pendek. Kera yang berkelamin jantan jauh lebih besar dari yang betina, dengan berat 5-9 kilogram dibandingkan dengan yang betina antara 3-6 kg Alas Kedaton: Bali: Suaka Alam Hutan Monyet/Kera Sakral. Mempunyai ekor lebih panjang daripada tubuh nya, biasanya antara 40-65 cm (16-26 inchi) yang digunakan untuk keseimbangan ketika mereka melompat dengan jarak hingga 5 meter (16,4 kaki). Bagian atas tubuh nya berwarna coklat gelap dengan coklat muda keemasan. Bagian bawah berwarna abu-abu muda dengan abu-abu gelap/coklat pada bagian ekor. Kera jenis ini memiliki rambut yang kadang-kadang berbentuk garis puncak pendek dari kepala ke belakang sampai pada punggung nya. Kulit mereka hitam pada kaki dan telinga, sedangkan kulit di moncong adalah warna merah muda keabu-abuan. Kelopak mata sering memiliki tanda putih menonjol dan kadang-kadang ada bintik-bintik putih di telinga. Pada jantan memiliki karakteristik kumis dan pipi kumis, sementara pada betina hanya memiliki kumis pipi. Monyet ini memiliki kantong pipi yang mereka gunakan untuk menyimpan makanan saat mencari makan. Pada betina tidak menunjukkan pembengkakan perineum.

Pura Alas Kedaton

Pura Alas Kedaton - tempat wisata - pulau dewata
Pura Alas Kedaton, Bali

Pura Alas Kedaton adalah sebuah pura Hindu yang dibangun pada zaman megalitikum kuno, yang terletak di tengah-tengah hutan monyet Alas Kedaton. Pura Alas Kedaton sendiri dibangun oleh Mpu Kuturan pada masa pemerinthan Raja Sri Masula Masuli di pulau dewata tahun 1178 - 1255 Masehi.

Hutan kera Alas Kedaton adalah sebuah hutan monyet yang sangat terkenal diantara hutan-hutan kera di Bali serta menjadi tujuan dan tempat wisata favorit bagi wisatawan lokal maupun internasional. Tempat ini banyak dikunjungi wisatawan terutama pada saat liburan umum atau liburan sekolah. Pengunjung biasanya akan ditemani oleh guide lokal yang tahu daerah di sekitar hutan untuk memandu wisatawan melihat-lihat sekeliling pura dan area hutan Alas Kedaton. Kera-kera yang ada di hutan Kedaton sangat ramah kepada pengunjung tetapi meskipun begitu pengunjung tetap disarankan agar tetap berhati-hati terhadap barang bawaan mereka dan tidak berada terlalu dekat dengan monyet-monyet karena mereka juga akan bisa menyerang ketika mereka merasa terganggu. Tidak jauh dari hutan kera ini juga terdapat fasilitas lainnya seperti tempat bermain untuk anak-anak, tempat parkir yang luas dan kios-kios yang menjual cinderamata untuk oleh-oleh.

Peta Hutan Kera/Monyet Alas Kedaton

Lokasi dan Peta Hutan Monyet/Kera Alas Kedaton oleh Google Maps

Referensi : Alas Kedaton, Crab-eating macaque
Permalink: Alas Kedaton: Suaka Alam Hutan Monyet/Kera Sakral Bali

Kamis, 06 Agustus 2015

Alas Kedaton: Pura Sakral Di Tengah Hutan Monyet/Kera Bali

- Hallo sahabat WIsata Bali dan Sekitarnya, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul , kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Objek Wisata, Artikel Pura, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Alas Kedaton: Pura Sakral Di Tengah Hutan Monyet/Kera Bali
link : Alas Kedaton: Pura Sakral Di Tengah Hutan Monyet/Kera Bali

Baca juga


Pura Alas Kedaton adalah sebuah pura Hindu yang sakral peninggalan dari zaman megalitikum kuno di Pulau Bali. Pura Alas Kedaton terletak di tengah-tengah hutan monyet/hutan kera Alas Kedaton, tepatnya di Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan. Pura Dalem Kahyangan Kedaton ini terletak sekitar 35 kilometer dari Kota Denpasar Bali.

Konten
Sejarah Pura Alas Kedaton
Bangunan Suci dan Patung
Upacara (Piodalan)
Hutan Monyet/Kera
Pariwisata
Peta

Sejarah Pura Alas Kedaton

Pura Alas Kedaton
Pura Alas Kedaton Tabanan Bali

Pura Alas Kedaton dibangun oleh Mpu Kuturan atau Mpu Rajakertha pada masa pemerintahan Raja Sri Masula Masuli di pulau dewata, menurut prasasti desa Sading, Mengwi, Kabupaten Badung, menyebutkan bahwa Raja Sri Masula Masuli mulai memerintah di pulau Bali pada tahun Saka 1100 (1178 Masehi). Prasasti tersebut memakai tahun Saka 1172 (1250 Masehi) yang juga menyebutkan bahwa Raja Sri Masula Masuli berkuasa di pulau Bali selama 77 tahun, yang berarti pemerintahannya berakhir pada tahun Saka 1177 atau 1255 Masehi. Posisi pura Alas Kedaton menghadap ke barat dan memiliki 4 pintu gerbang Alas Kedaton: Bali: Pura Sakral Di Tengah Hutan Monyet/Kera sebagai pintu masuk dan keluar, pura ini memiliki halaman yang unik, pada posisi halaman dalam/utama (di Bali disebut Jeroan atau Utama Mandala) lebih rendah dari halaman tengah (di Bali disebut Jaba atau Madya Mandala), tidak seperti pura-pura lain di Bali yang biasanya memiliki halaman dalam/utama yang lebih tinggi dari halaman tengah.

Bangunan Suci dan Patung

Di dalam pura Alas Kedaton juga terdapat beberapa bangunan-bangunan suci (pelinggih), sebuah Lingga dan juga terdapat beberapa patung, diantaranya adalah:

  1. Patung Durga Mahisasura Mardhani yang memiliki 8 tangan dan berdiri di atas sebuah patung lembu, pada masing-masing tangan kanan nya dari atas ke bawah memegang Camara (penghalau lalat), Sara (panah), Pisau besar, dan memegang ekor lembu. Pada masing-masing tangan kiri nya dari atas ke bawah memegang Kadga, Busur panah, Trisula, dan Gadha.
  2. Patung Dewa Ganesha duduk di atas bunga Padma (lotus) dan 2 naga, pada tangan kanan nya memegang tasbih dan pada tangan kiri nya memegang kapak dan belalai, Patung Ganesha hanya memiliki satu taring (ekadanta).

Upacara (Piodalan)

Upacara Piodalan di Pura Alas Kedaton Temple Tabanan Bali
Upacara/Piodalan di Pura Alas Kedaton

Upacara (piodalan) di Pura Alas Kedaton jatuh pada hari Anggara Kasih Medangsia (Kalender Bali), 10 hari setelah raya Kuningan. Tidak seperti pura lainnya, keunikan lain yang dapat ditemui di pura ini adalah selama upacara berlangsung tidak menggunakan sarana dupa dan Kwangen selama persembahyangan. Demikian pula, penggunaan Penjor, pada saat upacara yang dilakukan di Pura Dalem Kahyangan Kedaton ini kita tidak akan menemukan Penjor seperti upacara yang dilakukan di pura lainnya di Bali dan ini juga merupakan sesuatu yang unik yang dapat kita jumpai di pura Alas Kedaton. Upacara harus selesai sebelum matahari terbenam karena mereka tidak diizinkan untuk menggunakan lampu karena menggunakan lampu sama juga diartikan menggunakan api. Pada saat upacara selesai, akan dilanjutkan dengan tradisi Ngerebeg. Ngerebeg berarti berlarian dengan tombak, dengan Tedung (payung tradisional Bali), dan beberapa cabang-cabang pohon yang berdaun. Semua orang bersorak dan berteriak dengan gembira untuk mengikuti tradisi ngerebeg ini.

Hutan Monyet/Kera

Hutan Monyet Alas Kedaton
Hutan Monyet Alas Kedaton, Bali

Pura Alas Kedaton terletak di tengah hutan yang dihuni oleh ribuan kera/monyet dan ratusan kelelawar besar (kalong). Monyet di hutan Kedaton sangat ramah dan sangat dekat dengan pengunjung karena mereka selalu memberinya makan dengan kacang-kacangan dan makanan ringan lainnya. Tetapi meskipun monyet nya ramah, pengunjung dihimbau agar tetap berhati-hati karena mereka juga bisa menyerang ketika mereka merasa terganggu. Hutan monyet/kera Alas Kedaton ini adalah salah satu hutan monyet yang terkenal di pulau Bali.

Pariwisata

Alas Kedaton adalah sebuah tempat wisata yang sangat terkenal di Bali, khususnya di Tabanan. Tempat ini akan dikunjungi oleh banyak wisatawan baik lokal maupun internasional, terutama pada hari libur. Pengunjung biasanya akan diantar oleh pemandu lokal yang tahu daerah sekitar hutan untuk melihat-lihat kawasan pura dan kawasan hutan sekitarnya. Tidak jauh dari lokasi objek wisata Alas Kedaton ini juga terdapat kios-kios yang menjual suvenir dan cinderamata, taman bermain untuk anak-anak, dan fasilitas lainnya untuk kenyamanan pengunjung sehingga tempat ini juga cocok sebagai liburan keluarga.

Peta

Lokasi dan peta Pura Alas Kedaton oleh Google Maps

Beberapa pura lainnya yang ada di Kabupaten Tabanan

Referensi : Alas Kedaton - Situs Resmi Kab. Tabanan
Permalink: Alas Kedaton: Pura Sakral Di Tengah Hutan Monyet/Kera Bali | Bali Glory

Pura Alas Kedaton adalah sebuah pura Hindu yang sakral peninggalan dari zaman megalitikum kuno di Pulau Bali. Pura Alas Kedaton terletak di tengah-tengah hutan monyet/hutan kera Alas Kedaton, tepatnya di Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan. Pura Dalem Kahyangan Kedaton ini terletak sekitar 35 kilometer dari Kota Denpasar Bali.

Konten
Sejarah Pura Alas Kedaton
Bangunan Suci dan Patung
Upacara (Piodalan)
Hutan Monyet/Kera
Pariwisata
Peta

Sejarah Pura Alas Kedaton

Pura Alas Kedaton
Pura Alas Kedaton Tabanan Bali

Pura Alas Kedaton dibangun oleh Mpu Kuturan atau Mpu Rajakertha pada masa pemerintahan Raja Sri Masula Masuli di pulau dewata, menurut prasasti desa Sading, Mengwi, Kabupaten Badung, menyebutkan bahwa Raja Sri Masula Masuli mulai memerintah di pulau Bali pada tahun Saka 1100 (1178 Masehi). Prasasti tersebut memakai tahun Saka 1172 (1250 Masehi) yang juga menyebutkan bahwa Raja Sri Masula Masuli berkuasa di pulau Bali selama 77 tahun, yang berarti pemerintahannya berakhir pada tahun Saka 1177 atau 1255 Masehi. Posisi pura Alas Kedaton menghadap ke barat dan memiliki 4 pintu gerbang Alas Kedaton: Bali: Pura Sakral Di Tengah Hutan Monyet/Kera sebagai pintu masuk dan keluar, pura ini memiliki halaman yang unik, pada posisi halaman dalam/utama (di Bali disebut Jeroan atau Utama Mandala) lebih rendah dari halaman tengah (di Bali disebut Jaba atau Madya Mandala), tidak seperti pura-pura lain di Bali yang biasanya memiliki halaman dalam/utama yang lebih tinggi dari halaman tengah.

Bangunan Suci dan Patung

Di dalam pura Alas Kedaton juga terdapat beberapa bangunan-bangunan suci (pelinggih), sebuah Lingga dan juga terdapat beberapa patung, diantaranya adalah:

  1. Patung Durga Mahisasura Mardhani yang memiliki 8 tangan dan berdiri di atas sebuah patung lembu, pada masing-masing tangan kanan nya dari atas ke bawah memegang Camara (penghalau lalat), Sara (panah), Pisau besar, dan memegang ekor lembu. Pada masing-masing tangan kiri nya dari atas ke bawah memegang Kadga, Busur panah, Trisula, dan Gadha.
  2. Patung Dewa Ganesha duduk di atas bunga Padma (lotus) dan 2 naga, pada tangan kanan nya memegang tasbih dan pada tangan kiri nya memegang kapak dan belalai, Patung Ganesha hanya memiliki satu taring (ekadanta).

Upacara (Piodalan)

Upacara Piodalan di Pura Alas Kedaton Temple Tabanan Bali
Upacara/Piodalan di Pura Alas Kedaton

Upacara (piodalan) di Pura Alas Kedaton jatuh pada hari Anggara Kasih Medangsia (Kalender Bali), 10 hari setelah raya Kuningan. Tidak seperti pura lainnya, keunikan lain yang dapat ditemui di pura ini adalah selama upacara berlangsung tidak menggunakan sarana dupa dan Kwangen selama persembahyangan. Demikian pula, penggunaan Penjor, pada saat upacara yang dilakukan di Pura Dalem Kahyangan Kedaton ini kita tidak akan menemukan Penjor seperti upacara yang dilakukan di pura lainnya di Bali dan ini juga merupakan sesuatu yang unik yang dapat kita jumpai di pura Alas Kedaton. Upacara harus selesai sebelum matahari terbenam karena mereka tidak diizinkan untuk menggunakan lampu karena menggunakan lampu sama juga diartikan menggunakan api. Pada saat upacara selesai, akan dilanjutkan dengan tradisi Ngerebeg. Ngerebeg berarti berlarian dengan tombak, dengan Tedung (payung tradisional Bali), dan beberapa cabang-cabang pohon yang berdaun. Semua orang bersorak dan berteriak dengan gembira untuk mengikuti tradisi ngerebeg ini.

Hutan Monyet/Kera

Hutan Monyet Alas Kedaton
Hutan Monyet Alas Kedaton, Bali

Pura Alas Kedaton terletak di tengah hutan yang dihuni oleh ribuan kera/monyet dan ratusan kelelawar besar (kalong). Monyet di hutan Kedaton sangat ramah dan sangat dekat dengan pengunjung karena mereka selalu memberinya makan dengan kacang-kacangan dan makanan ringan lainnya. Tetapi meskipun monyet nya ramah, pengunjung dihimbau agar tetap berhati-hati karena mereka juga bisa menyerang ketika mereka merasa terganggu. Hutan monyet/kera Alas Kedaton ini adalah salah satu hutan monyet yang terkenal di pulau Bali.

Pariwisata

Alas Kedaton adalah sebuah tempat wisata yang sangat terkenal di Bali, khususnya di Tabanan. Tempat ini akan dikunjungi oleh banyak wisatawan baik lokal maupun internasional, terutama pada hari libur. Pengunjung biasanya akan diantar oleh pemandu lokal yang tahu daerah sekitar hutan untuk melihat-lihat kawasan pura dan kawasan hutan sekitarnya. Tidak jauh dari lokasi objek wisata Alas Kedaton ini juga terdapat kios-kios yang menjual suvenir dan cinderamata, taman bermain untuk anak-anak, dan fasilitas lainnya untuk kenyamanan pengunjung sehingga tempat ini juga cocok sebagai liburan keluarga.

Peta

Lokasi dan peta Pura Alas Kedaton oleh Google Maps

Beberapa pura lainnya yang ada di Kabupaten Tabanan

Referensi : Alas Kedaton - Situs Resmi Kab. Tabanan
Permalink: Alas Kedaton: Pura Sakral Di Tengah Hutan Monyet/Kera Bali | Bali Glory

Rabu, 29 Juli 2015

Ulun Danu Beratan: Pura Di Atas Danau Bratan Bedugul Bali

- Hallo sahabat WIsata Bali dan Sekitarnya, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul , kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Bedugul, Artikel Objek Wisata, Artikel Pura, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Ulun Danu Beratan: Pura Di Atas Danau Bratan Bedugul Bali
link : Ulun Danu Beratan: Pura Di Atas Danau Bratan Bedugul Bali

Baca juga


Pura Ulun Danu Beratan adalah sebuah tempat suci umat Hindu yang terletak di ujung danau Beratan, yang berada di kawasan wisata Bedugul, desa Candikuning, kecamatan Baturiti, kabupaten Tabanan, Bali. Dengan jarak tempuh kira-kira 56 km dari kota Denpasar dengan melewati jalan raya Denpasar - Singaraja, pura Ulun Danu Bratan adalah sebuah pura suci Hindu yang sangat terkenal di pulau Bali dan ketika air danau Bratan ini naik/pasang maka pura Ulun Danu akan terlihat seperti mengambang diatas air.

Sejarah Pura Ulun Danu Beratan Bedugul Bali

Sejarah pura Ulun Danu Bratan ini dapat diketahui berdasarkan data arkeologi dan data sejarah yang terdapat pada lontar babad Mengwi. Berdasarkan data arkeologi yang terdapat dan berlokasi pada halaman depan pura Ulun Danu Bedugul ini adalah terdapat peninggalan benda-benda bersejarah seperti sebuah Sarkofagus batu dan papan batu yang diperkirakan telah ada sejak zaman megalitikum, sekitar 500 tahun sebelum Masehi. Kedua artefak tersebut sampai sekarang diletakkan di halaman teras (babaturan) pura Ulun Danu. Dapat diperkirakan lokasi di Pura Ulun Danu Beratan ini telah digunakan sebagai tempat untuk mengadakan ritual sejak jaman tradisi megalitikum di pulau dewata.

Pura Ulun Danu Beratan/Bratan Bedugul, Bali
Foto credit: Alastair Dixon via Flickr

Berdasarkan dari Babad Mengwi, I Gusti Agung Putu sebagai pendiri dari kerajaan Mengwi telah mendirikan pura yang berada di ujung danau Beratan sebelum beliau mendirikan pura Taman Ayun, tidak dijelaskan dalam lontar babad Mengwi kapan tepat nya beliau mendirikan Pura Ulun Danu Beratan, tetapi dijelaskan tentang pendirian pura Taman Ayun dan upacaranya pada hari Anggara Kliwon Medangsia, tahun Çaka 1556 (tahun 1634 setelah Masehi). Berdasarkan dari deskripsi dari babad Mengwi tersebut diketahui pura Ulun Danu Bratan didirikan sebelum tahun Saka 1556 oleh Ulun Danu Beratan: Pura Di Atas Danau Bratan Bedugul Bali I Gusti Agung Putu. Sejak pendirian pura tersebut, kerajaan Mengwi menjadi tenteram dan sejahtera dan masyarakat pun menjuluki beliau "I Gusti Agung Sakti"

Komplek pura Ulun Danu Beratan terdiri dari 4 pura, diantaranya adalah:

Pura Lingga Petak, Pura Penataran Pucak Mangu, Pura Terate Bang, dan Pura Dalem Purwa yang digunakan untuk memuja Tuhan dalam bentuk Tri Murti (Brahma, Wisnu, Siwa) untuk memohon anugerah kesuburan, kemakmuran, kesejahteraan manusia dan untuk keseimbangan alam semesta.

Pura Ulun Danu Beratan Bedugul sangat terkenal dengan keindahannya yang menjadikan tempat ini sebagai tempat wisata favorit di pulau Bali. Tidak jauh dari lokasi pura terdapat beberapa akomodasi seperti hotel, villa, restoran untuk kenyamanan wisatawan, juga terdapat halaman parkir yang luas dan toko-toko suvenir untuk memenuhi kebutuhan wisatawan yang mengunjungi objek wisata pura Ulun Danu Beratan Bedugul ini. Tidak jauh dari objek wisata pura Ulun Danu juga terdapat tempat wisata menarik seperti Kebun Raya Bedugul dan pasar buah-buahan dan sayur-sayuran tradisional Bedugul.

Beberapa Pura lainnya yang ada di Kabupaten Tabanan:

Peta Pura Ulun Danu Bratan

Lokasi dan Peta Pura Ulun Danu Beratan Bedugul Bali oleh Google Maps

Permalink: Ulun Danu Beratan: Pura Di Atas Danau Bratan Bedugul Bali | Bali Glory

Pura Ulun Danu Beratan adalah sebuah tempat suci umat Hindu yang terletak di ujung danau Beratan, yang berada di kawasan wisata Bedugul, desa Candikuning, kecamatan Baturiti, kabupaten Tabanan, Bali. Dengan jarak tempuh kira-kira 56 km dari kota Denpasar dengan melewati jalan raya Denpasar - Singaraja, pura Ulun Danu Bratan adalah sebuah pura suci Hindu yang sangat terkenal di pulau Bali dan ketika air danau Bratan ini naik/pasang maka pura Ulun Danu akan terlihat seperti mengambang diatas air.

Sejarah Pura Ulun Danu Beratan Bedugul Bali

Sejarah pura Ulun Danu Bratan ini dapat diketahui berdasarkan data arkeologi dan data sejarah yang terdapat pada lontar babad Mengwi. Berdasarkan data arkeologi yang terdapat dan berlokasi pada halaman depan pura Ulun Danu Bedugul ini adalah terdapat peninggalan benda-benda bersejarah seperti sebuah Sarkofagus batu dan papan batu yang diperkirakan telah ada sejak zaman megalitikum, sekitar 500 tahun sebelum Masehi. Kedua artefak tersebut sampai sekarang diletakkan di halaman teras (babaturan) pura Ulun Danu. Dapat diperkirakan lokasi di Pura Ulun Danu Beratan ini telah digunakan sebagai tempat untuk mengadakan ritual sejak jaman tradisi megalitikum di pulau dewata.

Pura Ulun Danu Beratan/Bratan Bedugul, Bali
Foto credit: Alastair Dixon via Flickr

Berdasarkan dari Babad Mengwi, I Gusti Agung Putu sebagai pendiri dari kerajaan Mengwi telah mendirikan pura yang berada di ujung danau Beratan sebelum beliau mendirikan pura Taman Ayun, tidak dijelaskan dalam lontar babad Mengwi kapan tepat nya beliau mendirikan Pura Ulun Danu Beratan, tetapi dijelaskan tentang pendirian pura Taman Ayun dan upacaranya pada hari Anggara Kliwon Medangsia, tahun Çaka 1556 (tahun 1634 setelah Masehi). Berdasarkan dari deskripsi dari babad Mengwi tersebut diketahui pura Ulun Danu Bratan didirikan sebelum tahun Saka 1556 oleh Ulun Danu Beratan: Pura Di Atas Danau Bratan Bedugul Bali I Gusti Agung Putu. Sejak pendirian pura tersebut, kerajaan Mengwi menjadi tenteram dan sejahtera dan masyarakat pun menjuluki beliau "I Gusti Agung Sakti"

Komplek pura Ulun Danu Beratan terdiri dari 4 pura, diantaranya adalah:

Pura Lingga Petak, Pura Penataran Pucak Mangu, Pura Terate Bang, dan Pura Dalem Purwa yang digunakan untuk memuja Tuhan dalam bentuk Tri Murti (Brahma, Wisnu, Siwa) untuk memohon anugerah kesuburan, kemakmuran, kesejahteraan manusia dan untuk keseimbangan alam semesta.

Pura Ulun Danu Beratan Bedugul sangat terkenal dengan keindahannya yang menjadikan tempat ini sebagai tempat wisata favorit di pulau Bali. Tidak jauh dari lokasi pura terdapat beberapa akomodasi seperti hotel, villa, restoran untuk kenyamanan wisatawan, juga terdapat halaman parkir yang luas dan toko-toko suvenir untuk memenuhi kebutuhan wisatawan yang mengunjungi objek wisata pura Ulun Danu Beratan Bedugul ini. Tidak jauh dari objek wisata pura Ulun Danu juga terdapat tempat wisata menarik seperti Kebun Raya Bedugul dan pasar buah-buahan dan sayur-sayuran tradisional Bedugul.

Beberapa Pura lainnya yang ada di Kabupaten Tabanan:

Peta Pura Ulun Danu Bratan

Lokasi dan Peta Pura Ulun Danu Beratan Bedugul Bali oleh Google Maps

Permalink: Ulun Danu Beratan: Pura Di Atas Danau Bratan Bedugul Bali | Bali Glory